Tampilkan postingan dengan label kisah teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah teladan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Maret 2013

SURAT UNTUK TUHAN

oleh : Cikong Mesigit



Kongkow Bareng GUS DUR
SURAT UNTUK TUHAN
Alkisah ada seorang santri yang sedang menuntut ilmu dipondok pesantren sedang mengalami kesulitan dalam hal biaya. Sudah berhari-hari selera makannya menurun karena makanan yang ia makan merupakan hasil pembelian dari uang meminjam temannya. Santri itupun terus berfikir untuk mengatasi masalah nya ini. Akhirnya menemukan suatu ide yang dianggap cemerlang. Ia pun akhirnya menulis suratnya untuk Tuhannya agar diberi uang sebesar 500.000 untuk memenuhi kebutuhannya selama sebulan ini. Oleh si santri surat itu kemudian dikirimkan ke kantor pos . dalam surat itu tertera tulisan “ Untuk Tuhanku “. Pak pos yang merasa mengetahui surat itu merasa janggal dan melaporkan kepada polisi terdekat. Surat itu kemudian dibaca dan diamati dengan seksama oleh pak polisi. Membaca surat itu pak polisi menjadi iba dan terharu terhadap nasib yang dialami oleh santri tersebut, hingga ia mengundang teman-temannya untuk iuran mengumpulkan uang yang akan diberikan kepada santri itu. Iuran yang dikumpulkan olehpak polisi ternyata berjumlah 450.000 kemudian uang tadi dikirim ke alamat santri lewat wesel. Didalam wesel tertera nama dan alamat pak polisi secara lengkap. Ketika menerima uang si santripun sangat bahagia dan bersyukur. Namun ia agak kecewa karena uang yang didapatnya tidak sesuai dengan yang ia minta. Si santripun kemudian melayangkan suratnya lagi kepada Tuhan. Dalam surat itu ia menulis, “Tuhan, aku sangat bersyukur engkau telahmengabulkan permintaanku, tapi aku mohon kepadamu Tuhan, lain kali uang yang engkau berikan kepadaku jangan engkau titipkan kepada pak polisi, karena pak polisi sukanya motong.
Baca Selengkapnya >>

Rabu, 30 Januari 2013

Guru Atheis VS Murid Cerdas

oleh :Dwi Handoko


Guru Atheis VS Murid Cerdas

Seorang guru memanggil muridnya yang bernama Huda: “Coba kamu maju ke depan..”

Huda kemudian maju ke depan: “Ya bu..”
Gurunya mulai bertanya: “Apa kamu percaya adanya Tuhan..?”
Huda menjawab: “Saya percaya adanya Tuhan dan saya sangat yakin dengan adanya Tuhan..”
Gurunya mulai mendoktrin: “Kalau kamu percaya adanya Tuhan, coba kamu berdoa minta sepotong roti kepada Tuhan.. Dan kalau memang Tuhan itu ada pasti kamu akan diberinya roti..”
Huda kemudian berdoa: “Ya Tuhan berikanlah saya sepotong roti..”
30 menit berlalu dan roti yang diminta oleh Huda tak kunjung tiba, gurunya pun tersenyum: “Tuh betulkan kalau Tuhan itu tidak ada, buktinya kamu hanya minta sepotong roti tidak dapat..”
Huda membalas senyuman gurunya: “Kenapa Tuhan tidak mau memberikan saya roti karena Tuhan itu Maha Tahu.. Perut saya sudah kenyang makan 2 piring lontong sayur, kalau Tuhan memberikan saya roti akan sia-sia saja tidak saya makan bu..”
Gurunya senyum kecut.
Baca Selengkapnya >>

RESEP MERAMU HIDUP

oleh :Dwi Handoko


Resep Meramu Hidup


Dengan ontelnya yang sudah usang, lelaki paruh baya itu berusaha menjajakan dagangannya, dari satu warung ke warung lainnya yang berjarak 30-an kilometer. Kelebatan kendaraan bermotor roda dua yang disaksikannya berseliweran tiap hari di hadapannya, sama sekali tak memikat di hatinya. Laju sepeda motor yang tentu lebih cepat dibanding sepeda tuanya, sama sekali tidak menggiurkannya. Dia lebih asyik menikmati ontelnya yang sudah berjasa
menghidupi anak dan istrinya selama belasan tahun dengan berjualan kerupuk
itu.
Langkah sepedanya yang pelan, ternyata mewujud pula dalam perilakunya yang kalem dan tenang. Itulah yang terjadi manakala waktu shalat tiba, Zhuhur atau Ashar. Entah kerupuknya masih menggunung setinggi 1,5 meter, maupun
setengahnya, dia selalu singgah di masjid. Bahkan, lima atau 10 menit sebelum tiba waktu shalat, dia sudah duduk tafakur di rumah Allah itu, menanti azan
dikumandangkan. Sesungging senyum, dia tebarkan manakala berjumpa dengan orang lain. Dari perilakunya, sama sekali tak terlihat gaya orang yang sedang dikejar setoran.
Setelah menunaikan shalat, biasanya seusai shalat Zhuhur, lalu bakdiah Zhuhur, dia mengambil posisi di sudut masjid. Kemudian pria yang rambutnya sebagian telah memutih itu pun merebahkan tubuhnya seenaknya. Tidur, berbantalkan handuk kecil yang biasa melingkari lehernya. Kalau ada kipas angin masjid yang dihidupkan, biasanya dia mengambil tempat di bawahnya. Mungkin agar terasa lebih sejuk dan membangkitkan pulasnya
tidur. Tapi, dia sendiri tak pernah kelihatan menghidupkan kipas angin tersebut. Dia menyadari benar etika seorang musafir, kendati jamaah atau mukimin di situ sudah menganggap dia sebagai bagian dari jamaah masjid karena seringnya ikut shalat berjamaah, terutama Zhuhur dan
Ashar.
Setelah shalat dan tubuh kembali fresh, dia kembali mengayuh sepedanya untuk mencari karunia Ilahi di muka bumi. Entah, berapa warung lagi yang harus dia datangi dan tawari kerupuknya. Jam berapa pula dia kembali pulang, menemui keluarga tercintanya. Selain lelaki ini telah berjasa pada negeri, yang telah menciptakan lapangan pekerjaan, meski hanya untuk dirinya sendiri.
Namun, pelajaran yang tak kurang nilainya adalah bagaimana dia membingkai dan meramu hidup ini dengan indahnya. Bagaimana dia merangkai aktivitas hariannya menjadi sebuah paduan harmoni yang manis dalam konteks ibadahnya pada Allah, baik secara vertikal maupun horizontal. Lelaki sederhana ini mengajarkan banyak hal; tentang kesederhanaan, tawakal, sikap tidak tergopoh-gopoh (karena itu datang dari setan), tidur siang agar bisa qiyamullail (bangun malam), shalat di awal waktu dan berjamaah, serta tentang
manajemen waktu. Banyak ayat Alquran yang menerangkan pentingnya hal-hal
tersebut di atas. Salah satunya surah al- Ashr yang bercerita soal waktu.
Ketika banyak orang kacau-balau dan tidak tepat waktu dalam shalatnya, dengan dalih banyak pekerjaan atau waktu mepet, lelaki sederhana ini justru piawai sekali dalam menjadikan waktu-waktu shalat sebagai pemandu dari aktivitas hariannya.
Oleh: Makmum Nawawi.
Baca Selengkapnya >>

Sabtu, 24 November 2012

KISAH ANAK SHOLEH

oleh : Aryo Mangku Langit



Huda,,

seorang anak yg cerdas dan sholeh
taa'at beribadah dan berahlaq mulia
walau usianya baru 10 tahun dan duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah,
namun perangai dan tingkah lakunya mendahului usianya.
Kecerdasanya sangat luar biasa
selalu mendapat nilai MUMTAZ ketika ujian sekolah.
mampu membaca Al-Qur'an
dengan baik serta tajwid yang cukup lumayan untuk ukuran anak seusianya

Kriiiing...
Kriiiiiing....
''Hallow'',,
terdengar suara seorang wanita separuh baya di gagang tlp.
ternyata dari ibunya yang menjadi TKW di negri Bethon.
''dalem bu,,''
jawab huda singkat.
''nak,,sekolah yg rajin ya nak,
jaga simbah baik-baik
oh ya katanya hari isnen sampean mau ujian ya,??kalau bisa Rangking 1 lagi maka apapun permintaanmu akan saya turuti nak''
''Inggeh Bu,insya Alloh''
jawab huda singkat.
Pagi-pagi betul HUDA sudah berangkat kesekolah dengan berbekal seboto air mineral tanpa se sen pun uang saku.
Dia berjalan menyusuri jalan setapak
sebelum akhirnya mealui tepian parit kawasan pesawahan,
maklum rumahnya terpencil dan pelosok.
Hampir 1 jam jalan kaki,
ahirnya huda sampai di Sekolahan.
Langsung dia menemui guru Agamanya yang kebetulan sudah lebih dulu tiba.
''Assalamu'alaikum Pak''
''wa'alaikumsalam''
waaahhh ,,rajin amat kamu Huda
kok tumben jam segini sudah nyampai sekolahan''
''iya pak''
karena saya mau menemui bapak
sebelum ujian di mulai saya mau minta bapak mendo'akan saya
agar saya bisa di berikan kemudahan dalam menjawab soal-soal ujian dan saya bisa rengking 1 pak''
pinta Huda dengan suara yg polos.
''Oh pasti itu Hud,
kan sudah kewajiban seorang guru mendo'akan anak didiknya termasuk kamu.
Bapak percaya kamu anak yang baik dan rajin,
insya Alloh kamu akan mampu Hud,semua teman-temanmu juga dewan guru disini tahu kalau kamu selalu rengking 1.
Iya pak,
tapi ini masalahnya ada sesuatu yang menjadikan saya harus lebih semangat pak.
Karena kemarin ibu saya TLP dari luar negri
beliau bilang kalau saya bisa Rengking 1 lagi maka apapun permintaan saya akan di turuti pak.
Pliiisss ya pak,saya mohon do'kan saya pak..saya Mohon,
karena ini kesempatan buat saya pak,
belum pernah ibuku seperti ini''
''Hmmmmm...
Sang pendidik menghela nafas dalam-dalam,,,
''Huda,,,,
sebenarnya hadiah apa yang kamu inginkan dari ibumu andai kamu bisa rengking 1 lagi nak
sehingga kamu begitu semangatnya,,!?
''BISMILLAH,,,
JIKA ALLOH MENGHENDAKI SAYA RENGKING 1 LAGI,SAYA HANYA MINTA PADA IBUKU AGAR BELIAU MAU MEMAKAI JILBAB DAN MELAKSANAKAN SHOLAT''
Tiada terasa butiran kristal bening menetes dari kelopak mata sang pendidik,,
butiran air mata haru
air butiran mata bahagia
lalu diangkatnya kedua tangan seraya berdo'a memohon agar hajat sang anak Didiknya terkabulkan..
=========================
Mutiara Rini'24 november 2012 M
---------------10 Muharrom 1434 H
Al Khoothot;Luqman El Hakim Ibnu Aly.
Baca Selengkapnya >>

Rabu, 21 November 2012

Kisah Bersedekah Ali bin Abi Thalib

oleh : Cikong Mesigit


Kisah Bersedekah Ali bin Abi Thalib

Banyak orang yang bersedekah, tapi beranikah bersedekah dengan nominal yang lebih besar? Pertanyaan ini yang sulit dijawab. Tapi kita perlu belajar juga dari kisah orang-orang yang berani bersedekah dengan nominal yang lebih besar. Salah satunya adalah Ali bin Abi Thalib. Ia memiliki kisah yang menakjubkan saat bersedekah.


Kisah sedekah Ali bin Abi Thalib ini bisa dibaca di dalam kitab al-Mawaaidz al-Ushfuuriyyah. Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad yang mendapat cerita dari ayahnya yang mendengar dari kakeknya mengenai perilaku Ali.
Suatu hari setelah pulang dari rumah Rasulullah, Ali melihat Fatimah sedang berdiri di teras rumah.
“Hai isteriku, apakah ada makanan hari ini untuk suamimu?” tanya Ali.
“Demi Allah, aku tak memiliki apa-apa kecuali uang enam dirham, hasil upah memintal bulu-bulu domba milik Salman al-Farisi. Dan aku berencana ingin membelikan makanan untuk Hasan dan Husain.”
“Biar aku saja yang membelikannya. Berikan uangnya kepadaku!”
Fatimah pun memberikan uang tersebut.
Ali pun bergegas pergi membeli makanan untuk kedua anaknya. Di tengah jalan, ia ketemu dengan seorang laki-laki yang berkata, “Siapa yang mau meminjami Tuhan Yang Maha Pengasih dan Yang Selalu Menepati Janji.”
Ali pun memberikan uang enam dirham tersebut kepadanya. Kemudian pulang ke rumahnya dengan tangan kosong. Fatimah yang melihat Ali pulang dengan tangan hampa langsung menangis.
“Mengapa kamu menangis?”
“Kenapa kamu pulang tanpa membawa sesuatu? Ke mana uang yang enam dirham tadi?”
“Isteriku yang mulia, aku telah meminjamkannya kepada Allah.”
Mendengar jawaban Ali, Fatimah berhenti menangis dan gembira. “Sungguh! Aku mendukung tindakannmu!”
Lalu Ali pun keluar rumah karena ingin bertemu Rasulullah SAW. Di tengah jalan, ia disapa seorang laki-laki, “Hai Abu Hasan, maukah kau beli untaku?”
“Aku tak punya uang,” kata Ali
“Bayarnya belakangan saja.”
“Berapa?”
“Seratus dirham.”
“Baik. Kalau begitu aku beli.”
Setelah diberikan untanya kepada Ali, dan Ali pun ingin kembali pulang meletakkan untanya di sekitar ruamhnya. Di tengah perjalanan, ia disapa seorang laki-laki.
“Hai Abu Hasan, apakah unta tersebut akan kau jual?”
“Ya.”
“Berapa?”
“Tiga ratus dirham.”
“Ya, aku beli.”
Lalu orang tersebut membayarnya dengan kontan 300 dirham dan mengambil unta tersebut.
Ali pun bergegas pulang ke rumahnya. Fatima tersenyum melihat wajah Ali yang sumringah.
“Kelihatan begitu gembira, apa yang terjadi, suamiku?”
“Isteriku yang mulia, kubeli unta dengan bayar tempo seharga 100 dirham. Lalu kujual lagi 300 dirham dengan kontan.”
“Aku setuju.”
Setelah berdialog di rumahnya, Ali pamit kepada Fatimah mau menemui Rasulullah SAW di mesjid. Ketika masuk masjid, Nabi SAW tersenyum melihatnya.
“Hai Abu Hasan! Akan kau yang lebih dahulu cerita ataukah aku terlebih dahulu?”
“engkau saja yang cerita, ya Rasulallah,” jawab Ali.
“Tahukah kamu siapa yang menjual unta kepadamu dan siapa yang membelinya kembali?”
“Tidak. Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”
“Berbahagialah Ali. Kamu telah meminjamkan enam dirham kepada Allah. Dan Allah memberimu 300 dirham. Tiap satu dirham mendapat ganti 50 dirham. Yang pertama datang kepadamu adalah Jibril dan yang terakhir datang adalah Mikail.”
Subhanallah.......
Baca Selengkapnya >>