Tampilkan postingan dengan label bab puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bab puasa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Juni 2014

1171: Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, Dan Dzulhijjah

PERTANYAAN


Assalamu'alaikum... Lama tdk hadir di sini ,,, tangled tentang syarat" di tetapkanya tanggal satu (edisi puasa)


JAWABAN

Cikong Mesigit


Majelis Ulama Indonesia, setelah :

MENIMBANG  :  

a.  bahwa umat Islam Indonesia dalam melaksanakan puasa Ramadan, salat Idul Fitr dan Idul Adha, serta ibadah-ibadah lain yang terkait dengan ketiga bulan tersebut terkadang tidak dapat melakukannya pada hari dan tanggal yang sama disebabkan perbedaan dalam penetapan awal bulan-bulan tersebut;

b.  bahwa keadaan sebagaimana tersebut pada huruf a dapat menimbulkan citra dan dampak negatif terhadap syi’ar dan dakwah Islam;

c.  bahwa Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia pada tanggal 22 Syawwal 1424 H./16 Desember 2003 telah menfatwakan tentang penetapan awal bulan Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah, sebagai upaya mengatasi hal di atas;

d.  bahwa oleh karena itu, Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan fatwa tentang penetapan awal bulan Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah dimaksud untuk dijadikan pedoman.

MENGINGAT  : 

1.  Firman Allah SWT, antara lain

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu…(QS Yunus [10]: 5)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul dan ulil-amri di antara kamu. (QS. an-Nisa’ [4]: 59)

2.  Hadis-hadis Nabi s.a.w., antara lain

لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلَالَ، وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ (رواه البخاري ومسلم عن ابن عمر 94

 “Janganlah kamu berpuasa (Ramadhan) sehingga melihat tanggal (satu Ramadhan) dan janganlah berbuka (mengakhiri puasa Ramadhan) sehingga melihat tanggal (satu Syawwal). Jika dihalangi oleh awan/mendung maka kira-kirakanlah”.(H.R. Bukhari Muslim dari Ibnu Umar)

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

“Berpuasalah (Ramadhan) karena melihat tanggal (satu Ramadhan). Dan berbukalah (mengakhiri puasa Ramadhan) karena melihat tanggal (satu Syawwal). Apabila kamu terhalangi, sehingga tidak dapat melihatnya maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban tiga puluh hari”. (Bukhari Muslim dari Abu Hurairah).

عَلَيْكُمْ بِالسَّمْعِ، وَالطَّاعَةِ وَإِنْ وُلِّيَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيُّ

“Wajib bagi kalian untuk taat (kepada pemimpin), meskipun yang memimpin kalian itu seorang hamba sahaya Habsyi”. (H.R. Bukhari dari Irbadh bin Sariyah).

3.  Qa’idah fiqh:

حُكْمُ الْحَاكِمِ إلْزَامٌ وَيَرْفَعُ الْخِلَافَ

“Keputusan pemerintah itu mengikat (wajib dipatuhi) dan menghilangkan silang pendapat”.

MEMPERHATIKAN  : 
1.  Pendapat para ulama ahli fiqh; antara lain pendapat Imam al-Syarwani dalam Hasyiyah al-Syarwani:

وَمَحَلُّ الْخِلَافِ إذَا لَمْ يَحْكُمْ بِهِ حَاكِمٌ. فَإِنْ حَكَمَ بِهِ حَاكِمٌ يَرَاهُ وَجَبَ الصَّوْمُ عَلَى الْكَافَّةِ وَلَمْ يُنْقَضْ الْحُكْمُ إجْمَاعًا قَالَهُ النَّوَوِيُّ فِي مَجْمُوعِهِ وَهُوَ صَرِيحٌ فِي أَنَّ لِلْقَاضِي أَنْ يَحْكُمَ بِكَوْنِ اللَّيْلَةِ مِنْ رَمَضَانَ

"Perbedaan tersebut masih dianggap apabila pemerintah belum memberikan ketetapan hukum mengenai permasalahan tersebut, jadi apabila pemerintah telah memberikan keputusan, maka semuanya wajib berpuasa, dan keputusan pemerintah tersebut tidak boleh dilanggar - berdasarkan kesepakatan para ulama' -, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitab Majmu'-nya. Penjelasan tersebut sangatlah jelas bahwa seorang hakim berhak memutuskan bahwa suatu malam adalah termasuk bulan romadhon."

2.  Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia tentang penetapan awal bulan Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah, tanggal 22 Syawwal 1424/16 Desember 2003.

2.  Keputusan Rapat Komisi Fatwa MUI, tanggal 05 Dzulhijjah 1424/24 Januari


Dengan memohon ridha Allah SWT
MEMUTUSKAN

MENETAPKAN  :  FATWA TENTANG PENETAPAN AWAL RAMADHAN, SYAWAL, DAN DZULHIJJAH

Pertama  :  Fatwa
1.  Penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode ru’yah dan hisab oleh Pemerintah RI cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional.
2.  Seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.
3.  Dalam menetapkan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, Menteri Agama
wajib berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam dan Instansi terkait.
4.  Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun di luar wilayah Indonesia yang mathla’nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI.

Kedua  :  Rekomendasi
Agar Majelis Ulama Indonesia mengusa-hakan adanya kriteria penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah untuk dijadikan pedoman oleh Menteri Agama dengan membahasnya bersama ormas-or-mas Islam dan para ahli terkait.

Jakarta, 05 Dzulhijjah 1424H

sebenarnya kita tidak usah repot2 bingung.karena disana ada yg lebih berkompeten(ulama) sehingga qoidah hUKMUL_hAAKIM ILZAAMUN WA YARFA'UL_KHILAAFA itu patut kita pegang.


LINK ASAL

https://www.facebook.com/notes/huda-sarungan-humor-dan-dawah-sarana-untuk-ngaji/1171-penetapan-awal-ramadhan-syawal-dan-dzulhijjah/793770330647707
Baca Selengkapnya >>

Rabu, 20 November 2013

1145 : SEJARAH PUASA ASYURA

oleh : Siroj Munir

Sejarah Puasa Asyura Puasa Asyura (عاشوراء)

adalah puasa sunat yang dikerjakan oleh kaum muslimin setiap tanggal 10 bulan Muharrom. Ditinjau dari sejarahnya, ternyata puasa asyuro’ adalah termasuk puasa yang sudah disyari’atkan sebelum diutusnya Nabi Muhammad.

Hal ini bisa kita ketahui dengan meninjau beberapa hadits yang menjelaskan puasa asyuro’. Imam Bukhori meriwayatkan;

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata: "Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah sampai dan tinggal di Madinah, Beliau melihat orang-orang Yahudi melaksanakan puasa hari 'Asyura' lalu Beliau bertanya: "Kenapa kalian mengerjakan ini?" Mereka menjawab: "Ini adalah hari kemenangan, hari ketika Allah menyelamatkan Bani Isra'il dari musuh mereka lalu Nabi Musa Alaihissalam menjadikannya sebagai hari berpuasa". Maka Beliau bersabda: "Aku lebih berhak dari kalian terhadap Musa". Lalu Beliau memerintahkan untuk berpuasa”. (Shahih Bukhari, No.2004). Imam Muslim meriwayatkan;

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا، يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ؟» فَقَالُوا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ، أَنْجَى اللهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ، وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ، فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا، فَنَحْنُ نَصُومُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendatangi kota Madinah, lalu didapatinya orang-orang Yahudi berpuasa di hari 'Asyura. Maka beliau pun bertanya kepada mereka: "Hari apakah ini, hingga kalian berpuasa?" mereka menjawab, "Hari ini adalah hari yang agung, hari ketika Allah memenangkan Musa dan Kaumnya, dan menenggelamkan Fir'aun serta kaumnya. Karena itu, Musa puasa setiap hari itu untuk menyatakan syukur, maka kami pun melakukannya." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kami lebih berhak dan lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian.

" kemudian beliau pun berpuasa dan memerintahkan kaum puasa di hari itu.”. (Shahih Muslim, No.1130). Dalam redaksi lain Imam Muslim meriwayatkan;

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ، فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ؟ فَقَالُوا: هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْهَرَ اللهُ فِيهِ مُوسَى، وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ، فَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَأَمَرَ بِصَوْمِهِ

“Dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma, ia berkata; Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam belum lama tiba di Madinah, didapatinya orang-orang Yahudi berpuasa pada hari 'Asyura`. Lalu mereka pun ditanya (alasan apa mereka berpuasa di hari itu).

Mereka menjawab, "Hari ini adalah hari kemenangan Musa dan Bani Isra`il atas Fir'aun. Karena itu, kami puasa pada hari ini untuk menghormati Musa." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Sesungguhnya kami lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian." lalu beliau perintahkan agar kaum muslimin puasa pada hari 'Asyura`. (Shahih Muslim, no. 1130) Dari hadits-hadits diatas dapat diketahui bahwa puasa asyuro’ pada mulanya adalah puasa yang dikerjakan oleh Nabi Musa alaihis salam sebagai ungkapan rasa syukur atas terselamatkannya Nabi Musa dan bani israil dari raja fir’aun dan bala tentaranya yang mengejar-ngejar mereka, dan akhirnya bala tentara fir’aun ditenggelamkan oleh Allah. Puasa asyuro’ masih terus dikerjakan oleh orang-orang yahudi sampai pada masa Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, dan akhirnya nabi mengetahui hal tersebut. Kemudian Nabi Muhammad memerintahkan melakukan puasa asyuro’ sebab Nabi Musa adalah nabinya kaum muslimin, dan kaum musliminlah yang sebenarnya masih mengikuti ajaran tauhid Nabi Musa, tidak seperti bangsa isra’il yang telah menyelewengkan ajaran nabi musa dan juga merubah isi kitab taurot.

Karena itulah Nabi bersabda; “Aku lebih berhak dari kalian terhadap Musa". Sebenarnya puasa ini telah dikerjakan Nabi semenjak masih tinggal dimekah, sebab puasa ini telah dikerjakan oleh orang Quraisy. Namun baru setelah nabi hijrah ke Madinah beliau memerintahkan kaum muslimin untuk mengerjakan puasa asyuro’, sebagaimana dikisahkan dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha;

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

“Orang-orang Quraisy pada masa Jahiliyah melaksanakan puasa hari 'Asyura' dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakannya. Ketika Beliau sudah tinggal di Madinah Beliau tetap melaksanakannya dan memerintahkan orang-orang untuk melaksanakannya pula. Setelah diwajibklan puasa Ramadhan Beliau meninggalkannya. Maka siapa yang mau silakan berpuasa dan siapa yang tidak mau silakan meninggalkannya”. (Shahih Bukhari, no.2002). Hadits diatas kita juga memberikan pengetahuan bagi kita bahwa puasa asyuro’ disyari’atkan sebelum diwajibkannya puasa wajib pada bulan romadhon bagi kaum muslimin. Semoga sekelumit penjelasan ini dapat bermanfaat..


link dokumen :
https://www.facebook.com/notes/huda-sarungan-humor-dan-dawah-sarana-untuk-ngaji/1145-sejarah-puasa-asyura/679703505387724

Baca Selengkapnya >>

Sabtu, 03 Agustus 2013

1095 : MEMBAYAR FIDYAH QODHO PUASA YANG SENGAJA DI AKHIRKAN HINGGA MASUK BULAN RAMADHAN BERIKUTNYA

PERTANYAAN

Syifa Ramadhany Forza Juventini

Asaalamualaikum
kalau mengodadha' puasa sampai lewat 2x atau 3x bulan ramadhan gimana caranya mengqadha'nya? apa bayar fidyahnya harus 2x lipat atau 3x lipat kali juga he he

JAWABAN

Brojol Gemblung
wa'alaikum salam
Barangsiapa yg mengakhirkan qadha` puasa Ramadhan dg sengaja dan mengerti keharaman mengakhirkannya padahal dia bisa dan ada waktu untuk mengqadha`nya hingga masuklah pada bulan Ramadhan tahun berikutnya, maka selain dia wajib mengqadha` puasanya haruslah membayar tebusan dg kadar 1 Mud (573.75 gr. / 6 Ons.) 
untuk setiap harinya dari puasa Ramadhan yg tertinggal.

Dan pembayaran tebusan ini menurut pendapat yg mu'tamad menjadi berlipat sesuai jumlah tahun terhitung sejak dia meninggalkan puasa ditahunnya karena hak yg bersifat harta tidak bisa dicampur atau dibulatkan menjadi satu.

Lantas dg demikian, andai dia meninggalkan puasa selama 4 hari ditahun 2010 dan baru bisa mengqadha`nya di awal tahun 2015, maka dia wajib mengqadha` puasa selama 4 hari dan membayar tebusan sebesar 9180 gr. / 9.18 kg. (573.75 gr. X 4 hari X 4 tahun) atau 96 ons. / 9.6 kg. (6 ons. X 4 hari X 4 tahun).

Berbeda halnya menurut pandangan yg tidak mu'tamad, maka tebusan itu tidak berlipat. Bila dikaitkan dg contoh dia hanya membayar tebusan sebesar 2295 gr. (2.295 kg.) atau 24 ons (2.4 kg.) untuk puasa 4 hari.

توشيخ على إبن قاسم ص 116 :

ومن أخر قضاء رمضان عامدا عالما بحرمة التأخير مع إمكانه بأن كان صحيحا مقيما زمنا يسع قضاء ما عليه حتى دخل رمضان آخر لزمه مع القضاء لكل يوم مد إن كان حرا ويأثم بهذا التأخير. إهـ

نهاية الزين ص 192 :

ويتكرر المد بتكرر السنين، فيجب لكل سنة لأن الحقوق المالية لا تتداخل، بخلافه في نحو الهرم لا يتكرر لعدم التقصير، ومن عن ذلك إستقر في ذمته. إهـ

توشيخ على إبن قاسم ص 117 :

ويتكرر المد في التأخير بتكرر السنين إذا أخر القضاء في كل سنة عمدا إن تمكن في كل سنة ولم يصم. إهـ

إنارة الدجى ص 176 :

وتتكرر الفدية بتكرر السنين وتستقر في ذمة من لزمته. قال في شرح المنهج : فلو أخر القضاء المذكور أي قضاء رمضان مع تمكنه حتى دخل رمضان آخر فمات أخرج من تركته لكل يوم مدان؛ مد للفوات ومد للتأخير إن لم يصم عنه، وإلا وجب مد واحد للتأخير. إهـ

فتح المعين وحاشية إعانة الطالبين الجزء الثاني ص 242 :

ويجب على مؤخر قضاء لشيئ من رمضان حتى دخل رمضان آخر بلا عذر في التأخير بأن خلا عن السفر والمرض قدر ما عليه مد لكل سنة، فيتكرر بتكرر السنين على المعتمد. قوله؛ لكل سنة، وإنما يتكرر لأن الحقوق المالية لا تتداخل. وقوله؛ على المعتمد، مقابله لا يتكرر كالحدود فيكفي المد عن كل السنين. إهـ

Kakek Jhøsy

Kalangan Syafi'iyyah Fidyahnya berlipat

أما مذهب الإمام أبي حنيفة رحمه الله تعالى فهو وجوب القضاء فقط دون الإطعام كما في الهداية للمرغيناني: 1/127

وفي خصوص مذهب السادة الشافعية أنقل ما ورد في كتاب "المجموع": 6/364، فقد قال فيه الإمام النووي رحمه الله تعالى:(فلو أخّر القضاء إلى رمضان آخر بلا عذر أثم ولزمه صوم رمضان الحاضر، ويلزمه بعد ذلك قضاء رمضان الفائت، ويلزمه بمجرد دخول الثاني عن كل يوم من الفائت مدٌ من طعام مع القضاء... ولو أخّره حتى مضى رمضانان فصاعداً فهل يتكرّر المدّ عن كل يوم بتكرُر السنين أم يكفي مدّ عن كل السنين؟ فيه وجهان مشهوران.. أصحهما يتكرر). انتهى ما أردت نقله من كلام الإمام النوويّ

وللحنابلة رأي آخر في المسألة الأخيرة، وهو أن من أخّر القضاء لغير عذر حتى أدركه رمضانان أو أكثر لم يكن عليه أكثر من الفدية مع القضاء، كما في "المغني" لابن قدامة:3/145

وبناءً على ما تقدم فإن على السائلة أن تقضي ما عليها من صيام أيام الرمضانات الفائتة، سواء أفطرتها بغير عذر شرعي قبل التزامها بطاعة الله أو به، وأن تأخذ بالأحوط وتطعم عن الأيام التي أخّرت قضاءها عن سنتها إن كان هذا التأخير حصل مع تمكُنها من القضاء خلال السنة.

أما تكرُر الفدية بتكرُر السنين فلها أن تأخذ بمذهب الحنابلة فلا تضاعف الفدية بحسب عدد سني تأخير قضاء أي يوم أفطرته. والله تعالى أعلم

وفي كتاب "الفقه الإسلامي وأدلّته" 2/679 للدكتور الشيخ وهبة الزُحيلي:(يجب باتِفاق الفقهاء القضاء على من أفطر يوماً أو أكثر من رمضان، بعذر كالمرض والسفر والحيض ونحوه، أو بغير عذر... ويأثم المفطر بلا عذر... ووقت قضاء رمضان ما بعد انتهائه إلى مجيء رمضان المقبل، ويندب تعجيل القضاء إبراءً للذمّة ومسارعةً إلى إسقاط الواجب، ويجب العزم على قضاء كل عبادة إذا لم يفعلها فوراً، ويتعيّن القضاء فوراً إذا بقي من الوقت لحلول رمضان الثاني بقدر ما فاته، ويرى الشافعية وجوب المبادرة بالقضاء- أي: القضاء فوراً- إذا كان الفطر في رمضان بغير عذر شرعيّ، ويكره لمن عليه قضاء رمضان ن يتطوّع بصوم

وأما إذا أخّر القضاء حتى دخل رمضان آخر، فقال الجمهور: يجب عليه بعد صيام رمضان الداخل القضاء والكفّارة- الفدية-. وقال الحنفيّة: لا فدية عليه سواء أكان التأخير بعذر أم بغير عذر

وتتكرّر الفدية عند الشافعية بتكرُر الأعوام). انتهى. والله سبحانه أعلم

Sumber : http://www.mdaeyat.com/article/هل-على-تأخير-قضاء-أيام-رمضان-كفّارة؟

Ibnu Hasyim Alwi

 Asta'dzin ziyadatal 'ibaroh Qolilan ..
Jumlah fidyah akan berlipat dua apabila Qodho'nya masuk Ramadan ketiga, dan berlipat tiga apabila masuk Ramadan keempat, dan sterusnya . .
الشافعية قالوا: يجب القضاء فوراً أيضاً إذا كان فطره في رمضان عمداً بدون عذر شرعي.
الحنفية قالوا: يجب قضاء رمضان وجوباً موسعاً بلا تقييدبوقت؛ فلا يأثم بتأخره إلى أن يدخل رمضان الثاني(، ومنأخر القضاء حتى دخل رمضان الثاني وجبت عليه الفدية)الشافعية قالوا: تتكرر الفدية بتكرر الأعوام( زيادة عن القضاء، وهي إطعام مسكين عن كل يوم من أيام القضاء ومقدارها هو ما تعطى لمسكين واحد في الكفارة، كما تقدم في "مبحث الكفارات"، باتفاق ثلاثة؛ وخالفالحنفية، فقالوا: لا فدية على من أخر قضاء رمضان حتى دخل رمضان الثاني، سواء كان التأخير بعذر أو بغير عذر؛ وإنما تجب الفدية إذا كانمتمكناً من القضاء قبل دخول رمضان الثاني، وإلا فلا فدية عليه، ولا تتكرر الفدية بتكرر الأعوام بدون قضاء، باتفاق ثلاثة. وقال الشافعية: بل تتكرر الفدية بتكرر الأعوام.
- الفقه على المذاهب الأربعة للجزيري
 link dokumen :
https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/625255847499157/

 
 
Baca Selengkapnya >>

Rabu, 31 Juli 2013

1086 : HUKUM SIKAT GIGI SAAT PUASA

PERTANYAAN

assalamu'alaikum

bagaimanan hukum menggosok gigi memakai pasta gigi ?

JAWABAN

Afkhani FL Corp

wa'alaikum salam

Syarah Fathul Qarib :

(والسواك مستحب في كل حال) ولا يكره تنزيها (إلا بعد الزوال للصائم) فرضا أو نفلا؛
وتزول الكراهة بغروب الشمس. واختار النووي عدم الكراهة مطلقا.

Siwak / Gosok gigi itu disunnahkan pada semua situasi kecuali dimakruhkan dengan hukum makruh tanzih bagi orang yang sedang berpuasa pada siang hari setelah matahari
zawal baik puasa fardhu atau puasa sunnah dan hilanglah kemakruhannya
apabila matahari sudah terbenam (Maghrib), sedangkan menurut Imam Nawawi
beliau memilih tanpa ada kemakruhan secara mutlak


Ibnu Hasyim Alwi

Telah menjadi kesepakatan atas kebolehan menyikat gigi sebelum masuknya waktu
dzuhur(Qoblaz Zawal), Sedangkan jika di lakukan stelah masuknya waktu
dzuhur(Ba'daz Zawal) maka Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama'
Namun menurut pendapat yang Masyhur di kalangan Ulama' Syafi'iyah Hukumnya Makruh
الاستياك للصائم
اتفق الفقهاء على أنه لا بأس بالاستياك للصائم أول النهار، واختلفوا في الاستياك للصائم بعد الزوال
Al Mausu'ah : 4/139

وأكثر العلماء وهو المختار: والمشهور الكراهة وسواء فيه صوم الفرض والنفل وتبقي الكراهة حتى تغرب الشمس
Al Majmu’, 1/275

* Jika busa dari pasta gigi tersebut sampai tertelan maka puasanya batal.





Kakek Jhøsy

Siwak dengan kayu basah dan yang kering bagi orang Berpuasa

Imam Ibnu Hajar berkata dalam Al Fath
وَأَشَارَ بِهَذِهِ التَّرْجَمَةِ إِلَى الرَّدِّ عَلَى مَنْ كَرِهَ لِلصَّائِمِ الِاسْتِيَاكَ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ كَالْمَالِكِيَّةِ وَالشَّعْبِيِّ ، وَ
قَدْ تَقَدَّمَ قَبْلُ بِبَابِ قِيَاسِ اِبْنِ سِيرِينَ السِّوَاكَ الرَّطْبَ عَلَى الْمَاء الَّذِي يُتَمَضْمَضُ بِهِ
Keterangan ini mengisyaratkan bantahan atas pihak yang memakruhkan bersiwak bagi orang yang berpuasa, yakni bersiwak dengan kayu basah, seperti kalangan Malikiyah dan Asy Sya'bi' dan telah dikemukakan sebelumnya tentang qiyas-nya Ibnu Sirin,bahwa bersiwak dengan kayu basah itu seperti air yang dengannya kita berkumur-kumur
(Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari juz 4/158 cet Darul Fikr)

Dijelaskan juga dalam Tuhfah al Ahwadzi disebutkan:
( إِلَّا أَنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ كَرِهُوا السِّوَاكَ لِلصَّائِمِ بِالْعُودِ الرَّطْبِ )
كَالْمَالِكِيَّةِ وَالشَّعْبِيِّ فَإِنَّهُمْ كَرِهُوا لِلصَّائِمِ الِاسْتِيَاكَ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ لِمَا فِيهِ مِنْ الطَّعْمِ ، وَأَجَابَ عَنْ ذَلِكَ اِبْنُ سِيرِينَ جَوَابًا حَسَنًا ، قَالَ الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ : قَالَ اِبْنُ سِيرِينَ : لَا بَأْسَ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ ، قِيلَ لَهُ طَعْمٌ ، قَالَ وَالْمَاءُ لَهُ طَعْمٌ وَأَنْتَ تُمَضْمِضُ بِهِ اِنْتَهَى . وَقَالَ اِبْنُ عُمَرَ : لَا بَأْسَ أَنْ يَسْتَاكَ الصَّائِمُ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ وَالْيَابِسِ رَوَاهُ اِبْنُ أَبِي شَيْبَةَ ، قُلْت هَذَا هُوَ الْأَحَقُّ

Sesungguhnya sebagian ahli ilmu ada yang memakruhkan bersiwak bagi orang yang berpuasa dengan menggunakan dahan kayu yang basah:
Seperti kalangan Malikiyah dan Imam Asy Sya'bi, mereka memakruhkan orang berpuasa bersiwak dengan dahan kayu basah karena itu bagian dari makanan.
Ibnu Sirin telah menyanggah itu dengan jawaban yang baik. Al Bukhari berkata dalam Shahihnya:
Berkata Ibnu Sirin: Tidak mengapa bersiwak dengan kayu basah, dikatakan bahwa itu adalah makanan Dia (Ibnu Sirin) menjawab:
Air baginya juga makanan, dan engkau berkumur kumur dengannya (air)Selesai. Ibnu Umar berkata:
Tidak mengapa bersiwak bagi yang berpuasa baik dengan kayu basah atau kering,
diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Aku (pengarang Tuhfah Al Ahwadzi) berkata: Inilah yang lebih benar(Syaikh Abdurrahman al Mubarakfuri)
(Tuhfah Al Ahwadzi juz III/419. Al Maktabah As Salafiyah)

Dengan demikian tidak mengapa bahkan sunah kita bersiwak ketika berpuasa, baik, pagi, siang,atau sore secara mutlak sebagaimana yang dikatakan dalam Tuhfah al Ahwadzi.

وَبِجَمِيعِ الْأَحَادِيثِ الَّتِي رُوِيَتْ فِي مَعْنَاهُ وَفِي فَضْلِ السِّوَاكِ فَإِنَّهَا بِإِطْلَاقِهَا تَقْتَضِي إِبَاحَةَ السِّوَاكِ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ وَهُوَ الْأَصَحُّ وَالْأَقْوَى
Dan dengan semua hadits-hadits yang diriwayatkan tentang ini dan keutamaan bersiwak, bahwa keutamaannya adalah mutlak, dan kebolehannya itu pada setiap waktu, setiap keadaan, dan itu lebih shahih dan lebih kuat,

Apakah pasta gigi, dihukumi sama dengan kayu basah, karena sama-sama mengandung air dan rasa.

Dan Imam An Nawawi mengatakan bahwa dengan alat apa pun selama tujuan membersihkan

وَهُوَ كُلّ آلَة يُتَطَهَّر بِهَا شُبِّهَ السِّوَاك بِهَا ؛ لِأَنَّهُ يُنَظِّف الْفَم ، وَالطَّهَارَة النَّظَافَة ذَكَرَهُ النَّوَوِي
Yaitu alat apa saja yang bisa mensucikan dengannya maka dia menyerupai siwak, karena dia bisa membersihkan mulut, bersuci dan membersihkan, demikian kata An Nawawi
(Imam Abul Hasan Muhammad bin Abdil Hadi As Sindi, Syarh An Nasa'i Juz 1 Hal. 7 No. 5. Mawqi Al Islam)


 link dokumen :

 https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/624251624266246/
Baca Selengkapnya >>

Selasa, 30 Juli 2013

1082 : HUKUM BERSIWAK SAAT PUASA

PERTANYAAN

Umie Irfan  

" Assalamu'alaikum wr wb....

Bagaimana Hukumny Kalau Siang Hari Berpuasa....

Memakai Kayu Siwak untuk Membersihkan Gigi dan Mulut....

tetapi bukan pake Pasta gigi...yang umumny berbusa....jadi kdang sering tertelan....

Mohon Penjelasannya....Makasiih....Wa ssalam...." 

JAWABAN

Mbah Pardan Milanistie  

wa'alaikum salam

monggo

============== 

JAWABAN :>> Masaji Antoro

Wa'alaikumsalam wr wb

BATASANNYA SETELAH TERGELINCIRNYA MATAHARI

ولا يكره إلا للصائم بعد الزوال ولو صوم نفل

Dan tidak dimakruhkan memakai siwak kecuali bagi orang puasa setelah tergelincirnya matahari meskipun saat menjalani puasa sunah.

As-Siraaj al-Wahhaaj I/17(

ولا يكره ) بحال ( إلا للصائم بعد الزوال ) ولو نفلا لخبر الصحيحين لخلوف الصائم أطيب عند الله من ريح المسك والخلوف بضم الخاء تغير رائحة الفموالمراد الخلوف بعد الزوال لخبر أعطيت أمتي في شهر رمضان خمساثم قال وأما الثانية فإنهم يمسون وخلوف أفواههم أطيب عند الله من ريح المسك والمساء بعد الزوال(Dan tidak dimakruhkan sama sekali memakai siwak kecuali bagi orang puasa setelah tergelincirnya matahari meskipun saat menjalani puasa sunah).

Berdasarkan hadits Nabi “Sungguh bau mulut orang berpuasa lebih harum dari minyak misik (HR. Bukhari Muslim)Yang dimaksud bau mulut diatas adalah bau mulut setelah tergelincirnya matahari berdasarkan hadits nabi yang lain”Diberikan kepada umatku lima perkara dalam bulan Ramadhan.

Seterusnya beliau bersabda : Adapun yang kedua, mereka berada pada saat setelah tergelincir matahari, sedangkan bau mulut mereka di sisi Allah lebih harum dari bau misik” (H.R. al-Hasan bin Sufyan dalam Musnadnya dan Abu Bakar al-Sam’any dalam Amaliah, beliau berkata : “ Ini hadits hasan”.

Seperti ini juga telah dikatakan oleh An-Nawawi dalam Syarah Muhazzab berdasarkan cerita dari Ibnu Shalah)Kata Masaa’ (sore hari) adalah waktu setelah tergelincirnya matahariMughni alMuhtaaj I/56

Semut Lewat >> tergelincirnya matahari itu maksudnya apa ya kang?

Ghufron Bkl >>Makruh stelah masuk waktux slat dhuhur blmana siwakan it d lkukan bkn krn mlut yg berbau, klo di lakukan krn berbaunya mulut mk tdk makruh.bhkan mnurut imam Nawawi tdk makruh walaupun stlah msukx wakt solat dhuhur.

IANAH DaN BAJURI BAB SIWAK

Masaji Antoro >> Kang Semut Lewat~ ZAWAL/tergelincirnya matahari adalah waktu yang menandakan masuknya sholat dhuhur.

>> Abdurrahman As-syafi'i

و يكره للصائم و لو نفلا السواك بعد الزوال اى الغروب و ان لم يتغير فمه من الصوم بل من نحو نوم عند حج للخبر الصحيح " لخلوف فم الصائم يوم القيامة اطيب عند الله من الريح المسك" ....بشرى الكريم ٢/٧٥

Dimakruhkan bagi orang yg berpuasa walau puasa sunah menggunakan siwak setelah lingsirnya matahari sampai tenggelamnya...siwak sebelum zawal nda'apa-apa, karena ada pendapat yg mengatakan tidak ada kemakruhan secara mutlak meski ba'da zawal sekalipun.

و هل يكره للصائم بعد الزوال فيه خلاف؟ الراجح فى الرافعى و الروضة انه يكره لقوله عليه الصلاة و السلام لخلوف فم الصائم الطيب عند الله من الريح المسك رواه البخارى.و فى رواية مسلم يوم القيامة. و الخلوف بضم الخاء واللام هو التغييرو خص بما بعده الزوال لان تغيير الفم بسبب الصوم حينئذ يظهر، فلو تغير فمه بعد الزوال بسبب اخر كنوم او غيره فاستاك لاجل ذلك لا يكره و قيل لا يكره الا ستياك مطلقا و به قال الائمة الثلاثة و رجحه النووى فى الشرح المهذبكفاية الاخيار ١/١٦_١٧

Apakah makruh bagi orang yg berpuasa bersiwak setelah lingsir matahari? hal ini terjadi perbedaan pendapat pendapat yg rojeh dari Imam Rofi'i adalah makruh hal ini didasarkan atas hadis dari imam Bukhori dan Imam Muslim Bahwasanya perubahan bau mulut orang yg berpuasa disisi Allah adalah lebih wangi dibanding misik.Dihususkan dgn lingsir matahari, karena pada waktu itu perubaham bau mulut karena berpuasa akan tampak, Apa bila perubahan bau mulut sesudah matahari lengser disebabkan oleh hal lain semisal karena habis tidur maka bersiwak tidak dimakruhkan.

Pendapat yg ke-2 menghukumi tidak makruh secara mutlak dan ini adalah pendapat 3 Imam Madzhab.

Dan Imam Nawawi merojehkan dalam kitabnya Syarah al-MuhadzabWallaahu A'laamu Bis Showaab>>

http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/450315198324627/?comment_id=450325434990270&offset=0&total_comments=9Piss Ktb di 23.19
Baca Selengkapnya >>

Senin, 22 Juli 2013

1053 : BERSENGGAMA KARENA LUPA APAKAH MEMBATALKAN PUASA ?

PERTANYAAN

Abi Zamroji

Assalaamu'alaikum.......

saat puasa pada siang hari makan dan minum tidak membatalkan puasa dengan syarat lupa/tidak sengaja nah kalo jima' istri di siang hari karna lupa/tdk sengaja batal apa g' puasanya .....??

Matur nuwun 

JAWABAN

Brojol Gemblung  

Wa'alaikumussalam  

PUASANYA TIDAK BATAL 

نهاية الزين في إرشاد المبتدئين ص 186 : ويفطر عامد عالم مختار، فخرج بالعمد النسيان ــ إلى أن قال ــ وبالعلم بالتحريم الجهل به إذا كان جاهلا معذورا فلا يفطر ــ إلى أن قال ــ بجماع أي إدخال حشفة أو قدرها من مقطوعها فرجا قبلا أو دبرا من آدمي أو غيره أنزل أو لا عامدا مختارا عالما بالتحريم، فلا يفطر بالوطء ناسيا للصوم وإن
تكرر. إهـ

Dan puasanya orang sengaja, mengerti keharamannya, serta tidak terpaksa, maka dikecualikan dari kesengajaan yaitu lupa -sampai perkataan pengarang- dan dikecualikan juga dari mengerti keharamannya yaitu tidak tau dengan keharamannya;

apabila dia tidak tau maka tidak batal -sampai perkataan pengarang- sebab melakukan jima', maksudnya memasukkan dzakar atau sisa dzakar yg terpotong ke dalam farji, baik itu vagina atau anus dari bangsa manusia atau selainnya, baik keluar mani atau tidak, seraya sengaja, tidak terpaksa, dan mengerti keharamannya.

Maka dg demikian puasa tidak batal sebab melakukan hubungan intim seraya lupa bahwa sedang berpuasa meskipun hal itu terjadi berulang kali.

Kakek Jhøsy

Wa'alaikum salam wr wbIdem Tidak batal ? 

Referensi 

شرح النووي على مسلمقوله صلى الله عليه وسلم : ( من نسي وهو صائم فأكل أو شرب فليتم صومه ، فإنما أطعمه الله وسقاه ) فيه دلالة لمذهب الأكثرين : أن الصائم إذا أكل أو شرب أو جامع ناسيا لا يفطر ، وممن قال بهذا الشافعي وأبو حنيفة وداود وآخرون,,,,,إلخ

Ibuetz Ibnu Al Mubasyiri  

waalaikumussalam] :

وإن أكل، أو شرب، أو جامع ناسيًا.. لم يبطل صومه، وبه قال أبو حنيفة.البيان في مذهب الإمام الشافعي juz 3 hal 509 

link dokumen :

https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/620191384672270/
Baca Selengkapnya >>

1052 : PUASA SYAWAL APAKAH HARUS 6 HARI BERTURUT TURUT

PERTANYAAN

Syafi'ie Rabatly

Assalamualaikum wr wb mau tanya puasa 6 hari sawal haruskan berturut2 atau tidak . ..

JAWABAN

Brojol Gemblung

Wa'alaikumussalam 

Tidak harus berurutan atau berkesinambungan, akan tetapi yg lebih afdhal dilakukan secara berurutan. Dan andai dilakukan secara tidak berurutan maka sudah mendapatkan kesunnahan puasa syawwal. 

ﻣﻐﻨﻲ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ - ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺍﻟﺸﺮﺑﻴﻨﻲ - ﺝ - ١ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٤٤٧ :ﻭﺻﻮﻡ ﺳﺘﺔ ﻣﻦ ﺷﻮﺍﻝ.

ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺴﻢ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ، ﻓﻴﺴﻦ ﺻﻮﻣﻬﺎ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺹ: ﻣﻦ ﺻﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺛﻢ ﺃﺗﺒﻌﻪ ﺑﺴﺖ ﻣﻦ ﺷﻮﺍﻝ ﻛﺎﻥ ﻛﺼﻴﺎﻡ ﺍﻟﺪﻫﺮ ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ، ﻭﺭﻭﻯ ﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﺧﺒﺮ: ﺻﻴﺎﻡ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺑﻌﺸﺮﺓ ﺃﺷﻬﺮ، ﻭﺻﻴﺎﻡ ﺳﺘﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺑﺸﻬﺮﻳﻦ،

ﻓﺬﻟﻚ ﺻﻴﺎﻡ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺃﻱ ﻛﺼﻴﺎﻣﻬﺎ ﻓﺮﺿﺎ، ﻭﺇﻻ ﻓﻼ ﻳﺨﺘﺺ ﺫﻟﻚ ﺑﺮﻣﻀﺎﻥ ﻭﺳﺘﺔ ﻣﻦ ﺷﻮﺍﻝ ﻷﻥ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﺑﻌﺸﺮﺓ ﺃﻣﺜﺎﻟﻬﺎ ــ إلى أن قال ــ ﻭﺗﺤﺼﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺑﺼﻮﻣﻬﺎ ﻣﺘﻔﺮﻗﺔ .ﻭﻟﻜﻦ ﺗﺘﺎﺑﻌﻬﺎ ﺃﻓﻀﻞ ﻋﻘﺐ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻣﺒﺎﺩﺭﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻭﻟﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻵﻓﺎﺕ. إهـ 

Dan puasa enam hari dari bulan Syawwal. Ini bagian yg kedua, maka disunnahkan untuk berpuasa dibulan Syawwal karena terdapat hadits Nabi saw. : Barangsiapa berpuasa dibulan Ramadhan kemudian diikuti dg puasa enam hari dari bulan Syawwal maka seperti berpuasa sepanjang masa. HR. Muslim.

Al-Nasa`i meriwayatkan hadits : Puasa dibulan Ramadhan itu sebanding dg puasa sepuluh bulan, dan puasa enam hari (dari bulan Syawwal) itu berbanding dg puasa dua bulan, maka dg demikian (sama halnya) puasa fardhu dalam setahun.

Sebab bila tidak demikian maka hal itu tidak akan terkhusus dg puasa Ramadhan dan enam hari dibulan Syawwal, karena amal baik balasannya dg sepuluh kebaikan sesamanya -sampai perkataan pengarang-

Dan kesunnahan bisa didapat dg berpuasa dibulan Syawwal yg dilakukan secara terpisah (tidak berurutan), akan tetapi yg lebih afdhal adalah dilakukan secara kontinue setelah hari raya sebagai upaya penyegeraan untuk beribadah, dan karena mengakhirkannya diindikasikan tidak baik. 

Sunde Pati

sepakat

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺣﻞ ﺃﻟﻔﺎﻅ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ 2/269 :  

ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﺍﺗﺼﺎﻟﻬﺎ ﺑﻴﻮﻡ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﺃﻓﻀﻞ ﺃﻱ ﻣﻦ ﻋﺪﻡ ﺍﺗﺼﺎﻟﻬﺎ ﺑﻪ، ﻭﻟﻜﻦ ﻳﺤﺼﻞ ﺃﺻﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺑﺼﻮﻣﻬﺎ ﻏﻴﺮ ﻣﺘﺼﻠﺔ ﺑﻪ ﻛﻤﺎ ﻳﺤﺼﻞ ﺑﺼﻮﻣﻬﺎ ﻏﻴﺮ ﻣﺘﺘﺎﺑﻌﺔ، ﺑﻞ ﻣﺘﻔﺮﻗﺔ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﺸﻬﺮ. ﻗﻮﻟﻪ: ﻣﺒﺎﺩﺭﺓ ﻟﻠﻌﺒﺎﺩﺓ ﻋﻠﺔ ﻷﻓﻀﻠﻴﺔ ﺍﺗﺼﺎﻟﻬﺎ ﺑﻴﻮﻡ ﺍﻟﻌﻴﺪ. ﺃﻱ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﻓﻀﻞ ﻷﺟﻞ ﺍﻟﻤﺒﺎﺩﺭﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ. ﺃﻱ ﻭﻟﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻵﻓﺎﺕ. إهـ 

Perkataan pengarang : "Dan menyambung puasa enam hari bulan Syawwal dg hari hari raya itu lebih afdhal", maksudnya (lebih afdhal) daripada tidak menyambungnya dg hari raya,

akan tetapi kesunnahan bisa didapat berpuasa Syawwal dg cara tidak bersambung dg hari raya, sebagaimana kesunnahan puasa Syawwal didapat dg melakukannya secara tidak kontinue; tapi bahkan dilakukan secara terpisah-pisah dalam sebulan.

Perkataan pengarang : "Karena sebagai upaya bersegera untuk melakukan ibadah", ini merupakan alasan bagi keafdhalan menyambung puasa Syawwal dg hari raya; maksudnya hal demikian diafdhalkan karena sebagai upaya bersegera melakukan ibadah, dan karena mengakhirkannya terindikasi tidak baik.Sunde Pati sepakat 

إعانة الطالبين (2/ 269) ( قوله واتصالها بيوم العيد أفضل ) أي من عدم اتصالها به ولكن يحصل أصل السنة بصومها غير متصلة به كما يحصل بصومها غير متتابعة بل متفرقة في جميع الشهر

sambungnya puasa 6 hari dibulan syawal dengan sambung/langsung dari hari raya itu lebih baik daripada tidak langsung tapi asli kesunahan itu bisa tercapai dengan melakukan puasa yg tidak langsung begitu juga tercapai asal kesunahan dengan melakukannya secara tidak berurutan bahkan secara terpisah-pisah pada semua bulan 

السراج الوهاج (ص: 146) 

و صوم ستة من شوال ولو لمن لم يصم رمضان لعذر وتتابعها أفضل عقب العيد ولو صام قضاء أو نذرا حصلت له السنة 

مغني المحتاج (1/ 447) 

(و ) صوم ( ستة من شوال ) وهذا من القسم الثاني فيسن
صومها لقوله صلى الله عليه وسلم من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال كان كصيام الدهر رواه مسلم وروى النسائي خبر صيام شهر رمضان بعشرة أشهر وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة أي كصيامها فرضا وإلا فلا يختص ذلك برمضان وستة من شوال لأن الحسنة بعشرة أمثالها تنبيه قضية إطلاق المصنف استحباب صومها لكل أحد سواء أصام رمضان أم لا كمن أفطر لمرض أو صبا أو كفر أو غير ذلك وهو الظاهر كما جرى عليه بعض المتأخرين وإن كانت عبارة كثيرين يستحب لمن صام رمضان أن يتبعه بست من شوال كلفظ الحديث وتحصل السنة بصومها متفرقة ( و ) لكن ( تتابعها أفضل ) عقب العيد مبادرة إلى العبادة ولما في التأخير من الآفات 

link dokumen :

https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/620186674672741/
Baca Selengkapnya >>

Minggu, 21 Juli 2013

1046 : GHIBAH SAAT PUASA

ERTANYAAN
Zanzanti Yanti Andeslo

assalamu'alaikum

tak asing lagi kalau sudah ngumpul2 pada ghibah.

nah kalau pas puasa eh malah ghibah dan bukan ghibah yg di perbolehkan bagaimana?

JAWABAN

Ibuetz Ibnu Al Mubasyiri

waalaikumussalam

[مسألة: مكروهات الصيام]
] : ويكره للصائم اللفظ القبيح، والمشاتمة، والغيبة أكثر مما تكره لغيره، فإن شاتمه غيره، قال: إني صائم؛ لما روى أبو هريرة: أن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قال: «إذا كان أحدكم صائماً.. فلا يرفث ولا يجهل، فإن امرؤ قاتله أو شاتمه.. فليقل: إني صائم، إني صائم»
وحكى عن بعض الناس: أنه قال: لا يتلفظ به؛ لأنه يكون إظهاراً لعبادته؛ فيكون رياء، وإنما يقول ذلك في نفسه.
قال ابن الصباغ: ويمكن أن يحمل هذا على ظاهره، ويتكلم بذلك، ولا يقصد به الرياء، وإنما يقصد به كف الخصومة وإطفاء الشر بينهما، وإن خالف وشاتم.. لم يفطره، وهو قول كافة العلماء إلا الأوزاعي، فإنه قال: (يفطر بذلك) ؛ لقوله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «خمس يفطرن الصائم» فذكر منها الغيبة والنميمة والكذب. دليلنا: أنه نوع كلام، فلا يفطر به، كسائر أنواع الكلام.
وأما الخبر: فالمراد به: أنه يسقط ثوابه، حتى يصير في معنى المفطر، كقوله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «من قال لأخيه والإمام يخطب: أنصت.. فلا جمعة له» . ولم يرد: أن صلاته تبطل، وإنما أراد: أن ثوابه يسقط، حتى يصير في معنى من لم يصل.
البيان في مذهب الإمام الشافعي juz 3 535-536
sesuatu yg makruh ketika puasa yaitu perkataan yg kotor mencaci merasani dan bila ada orang yg mencaci maka gak usah di ladeni bilang saja:saya sedang puasa
sebagian orang ada yg bilang jagan berkata :saya sedang puasa,krn nanti akan timbul riyak
maka pendapat ini di jawab oleh ibnu sibag perkataan di atas itu buakan untuk pamir kalau dirinya sdang puasa tapi lebih di krnakan mencegah permusuhan dan mencegah keburukan maka itu tdk di katakan riyak namun menurut imam auza'i itu membatalkan puasa berdasarkan hadist bahwasannya rosululoh saw bersabda ada 5 yg membatalkan puasa di antaranya gibah adu domba berbohong namun menurut madhab syafii tdk membatalkan puasa tapi pahalanya yg hilang/pahalanya batal

Kakek Jhøsy

Wa'alaikum salam wr wbLebih baik tidak usah ghibah kalau lagi puasaBerdasarkan hadist Nabi" Apabila salah seorang diantara kamu sedang berpuasa, maka janganlah menggauli istrinya, berkata kotor dan berbuat jahil, jika dia diajak bertengkar atau dicaci hendaklah dia mengatakan: Saya sedang berpuasa "Referensi 

المجموع شرح المهذبوينبغي للصائم أن ينزه صومه عن الغيبة والشتم ، فإن شوتم قال : إني صائم ، لما روى أبو هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إذا كان أحدكم صائما فلا يرفث ولا يجهل ، فإن امرؤ قاتله أو شاتمه فليقل : إني صائم***************

Puasa orang ngomongin orang (ghibah) maka maksiat dan tidak batal puasanya menurut madzhab kita (syafi'iyyah) dan juga imam malik abu hanifah dan ahmad dan semua ulama'.kecuali menurut Imam Auzaa'ie batal puasanya orang ghibah dan wajib qodho'Referensi 

المجموع شرح المهذبفلو اغتاب في صومه عصى ولم يبطل صومه عندنا ، وبه قال مالك وأبو حنيفة وأحمد والعلماء كافة إلا الأوزاعي فقال : يبطل الصوم بالغيبة ويجب قضاؤه . واحتج بحديث أبي هريرة المذكور وبحديثه أيضا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه : رواه البخاري ، وعنه أيضا قال :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع ، ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر : رواه النسائي وابن ماجه في سننهما ، ورواه الحاكم في المستدرك قال : وهو صحيح على شرط البخاري . وعنه أيضا قال :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ليس الصيام من الأكل والشرب فقط ، الصيام من اللغو والرفث : رواه البيهقي والحاكم في المستدرك وقال : هو صحيح على شرط مسلم ، وبالحديث الآخر : خمس يفطرن الصائم : الغيبة والنميمة والكذب والقبلة واليمين الفاجرة : وأجاب أصحابنا عن هذه الأحاديث سوى الأخير بأن المراد أن كمال الصوم وفضيلته المطلوبة إنما يكون بصيانته عن اللغو والكلام الرديء لا أن الصوم يبطل به .

وأما الحديث الأخير ، خمس يفطرن الصائم " فحديث باطل لا يحتج به ، وأجاب عنه الماوردي والمتولي وغيرهما بأن المراد بطلان الثواب لا نفس الصوم 


link dokumen :

 https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/619454741412601/
Baca Selengkapnya >>

Selasa, 16 Juli 2013

1032 : HUKUM BEKAM SAAT PUASA

PERTANYAAN

Zarritsalasatun ELhamy Kaffah


Assalamu'alaikumapakah bekam di perbolehkan saat puasa


JAWABAN

Aryo Mangku Langit

Wa'alaikum salam

Diambil darah saat puasa untuk keperluan laboratorium atau sebagai donor darah tidak membatalkan puasa kecuali jika dengan donor tubuh menjadi lemah (drop), diperbolehkan untuk berbuka. Hal ini mengacu pada hadis, “Nabi Muhammad SAW berbekam (diambil darah) ketika beliau puasa” (H.R. Bukhari).


Ibnu Hasyim Alwi

Berbekam(di ambil darah)ketika puasa hukumnya Makruh
Kemakruhan ini apabila menyebabkan lemah , lebih2 mengakibatkan berbuka puasa maka hukum makruhnya bertambah Tetapi apabila tidak menyebabkan lemah maka Tidak Makruh.
Namun yang lebih Utama adalah Tidak Melakukan Bekam ketika dalam keadaan berpuasa
" بِأَنَّ الْحِجَامَةَ مَكْرُوهَةٌ فِي حَقِّ مَنْ كَانَ يَضْعُفُ بِهَا وَتَزْدَادُ الْكَرَاهَةُإذَا كَانَ الضَّعْفُ يَبْلُغُ إلَى حَدٍّ يَكُونُ سَبَبًا لِلْإِفْطَارِ، وَلَا تُكْرَهُ فِي حَقِّ مَنْ كَانَ لَا يَضْعَفُ بِهَا، وَعَلَى كُلِّ حَالٍ تَجَنُّبُ الْحِجَامَةِ لِلصَّائِمِ أَوْلَى، فَيَتَعَيَّنُ حَمْلُ قَوْلِهِ: "أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ".
"Nailul Author" : juz IV/ Hal 241

link dokumen :

 https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/617115264979882/
Baca Selengkapnya >>

1031 : PASUTRI MUSAFIR BERSENGGAMA DI SIANG RAMADHAN

PERTANYAAN
Nunu Nurul Qomariyah

Assalamu'alaikum

sebelum tidur

titip pertanyaan dulu

bagaimanana hukum bersenggama di siang ramadhan bagi musafir ?

yang di mana jarak safarnya di perbolehkan untuk tidak berpuasa .

JAWABAN

Kakek Jhøsy

Wa'alaikum salam wr wb

Saya coba ambil Intinya saja
Tidak wajib kaffarat, bahkan bila tadinya ia puasa kemudian ditengah jalan dibatalkan dengan jima' maka tidak wajib kaffarat menurut Imam syafi'i karena berbuka puasa saat musafir baginya mubah.

Referensi
الفقه على المذاهب الأربعة الجزء الأول ص ٩٠٣
السابع : أن يكون آثما بهذا الجماع بأن كان مكلفا عاقلا أما إذا كان صبيا وفعل ذلك وهو صائم فإنه لا كفارة عليه ومن ذلك ما لو كان مسافرا ثم نوى الصيام وأصبح صائما : ثم أفطر في أثناء اليوم بالجماع : فإنه لا كفارة عليه بسبب رخصة السفر

Brojol Gemblung

JAWABAN :

Masaji Antoro
Tidak wajib kaffarat, bahkan bila tadinya ia puasa kemudian ditengah jalan dibatalkan dengan jima' maka tidak wajib kaffarat menurut Imam syafi'i karena berbuka puasa saat musafir baginya mubah.

ﻭ ﻻ ﻋﻠﻰ ﻣﺴﺎﻓﺮ ﻭﻃﺊ ﺯﻧﺎ ﺃﻭ ﻟﻢ ﻳﻨﻮ ﺗﺮﺧﺼﺎ ﻷﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﺄﺛﻢ ﺑﻪ ﻟﻠﺼﻮﻡ ﺑﻞ ﻟﻠﺰﻧﺎ ﺃﻭ ﻟﻠﺼﻮﻡ ﻣﻊ ﻋﺪﻡ ﻧﻴﺔ ﺍﻟﺘﺮﺧﺺ ﻭﻷﻥ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﻣﺒﺎﺡ ﻟﻪ ﻓﻴﺼﻴﺮ ﺷﺒﻬﺔ ﻓﻲ ﺩﺭﺀ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺓ

Syarh alMinhaj II/345

ﻭﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻣﺎ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻣﺴﺎﻓﺮﺍ ﺛﻢ ﻧﻮﻯ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﻭﺃﺻﺒﺢ ﺻﺎﺋﻤﺎ : ﺛﻢ ﺃﻓﻄﺮ ﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎﺀ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺑﺎﻟﺠﻤﺎﻉ : ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻛﻔﺎﺭﺓ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺴﺒﺐ ﺭﺧﺼﺔ ﺍﻟﺴﻔﺮ

Fiqh alaa Madzaahib al-arba’ah I/903

ﺛﻢ ﺍﺧﺘﻠﻔﻮﺍ ﻓﻴﻤﺎ ﺇﺫﺍ ﺃﻧﺸﺄ ﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺮ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻓﻲ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺛﻢ ﺟﺎﻣﻊ . ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ : ﻻ ﺗﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻛﻔﺎﺭﺓ . ﻭﻋﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻭﺃﺣﻤﺪ ﺭﻭﺍﻳﺘﺎﻥ ، ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ : ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ ، ﻭﺍﻷﺧﺮﻯ : ﺍﻹﺳﻘﺎﻁ .

Ikhtilaaf al-Ummah I/250

Sumber : http://www.piss-ktb.com/2012/03/230-pasutri-musafir-ber-jima-di-siang.html?m=1


Sunde Pati

sepakat tidak kena kafarot

الحاوى الكبير ـ الماوردى (3/ 966)

مَسْأَلَةٌ : قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : " وَإِذَا سَافَرَ الرَّجُلُ بِالْمَرْأَةِ سَفَرًا يَكُونُ سِتَّةً وَأَرْبَعِينَ مِيلًا بِالْهَاشِمِيِّ ، كَانَ لَهُمَا أَنْ يُفْطِرَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَيَأْتِيَ أَهْلَهُ ، فَإِنْ صَامَا فِي سَفَرِهِمَا أَجْزَأَهُمَا " .

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ : وَهَذَا كَمَا قَالَ ، كُلُّ مَسَافَةٍ جَازَ أَنْ تُقْصَرَ فِيهَا الصَّلَاةُ جَازَ أَنْ يُفْطَرَ فِيهَا .
فِي شَهْرِ رَمَضَانَ ؛ لِأَنَّ الْفِطْرَ رُخْصَةٌ كَالْقَصْرِ ، وَاخْتَلَفُوا فِي قَدْرِ الْمَسَافَةِ التي يحل لها الفطر فَعِنْدَنَا أَنَّهَا مَسَافَةُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بِسَيْرِ النَّقْلِ ، وَدَبِيبِ الْأَقْدَامِ وَقَدْرُ ذَلِكَ سِتَّةٌ وَأَرْبَعُونَ مِيلًا بِالْهَاشِمِيِّ ، أَوْ ثَمَانِيَةٌ وَأَرْبَعُونَ مِيلًا بِالْمَرْوَانِيِّ ، وَهُوَ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا ، وَهُوَ أَرْبَعَةُ بُرُدٍ وَحَكَيْنَا خِلَافَ أَبِي حَنِيفَةَ فِي كِتَابِ الصَّلَاةِ ، وَدَلَّلْنَا عَلَيْهِ بِمَا أَغْنَى عَنْ إِعَادَتِهِ ، فَمِنْ ذَلِكَ مَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} قَالَ : " لَا تُفْطِرُوا يَا أَهْلَ مَكَّةَ فِي أَقَلِّ مِنْ أَرْبَعَةِ بُرُدٍ " وَذَلِكَ مِنْ مَكَّةَ إِلَى عَسَفَانَ وَإِلَى الطَّائِفِ ، فَإِذَا سَافَرَ قَدْرَ الْمَسَافَةِ الْمَذْكُورَةِ جَازَ لَهُمَا الْفِطْرُ إِنْ شَاءَ بِالْأَكْلِ أَوْ بِالْجِمَاعِ فَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِ ؛ لِأَنَّ الْفِطْرَ الْمُبَاحَ يَسْتَوِي فِيهِ حَالُ الْأَكْلِ وَالْجِمَاعِ ، وَالْفِطْرُ فِي السَّفَرِ مُبَاحٌ

fokus

فَإِذَا سَافَرَ قَدْرَ الْمَسَافَةِ الْمَذْكُورَةِ جَازَ لَهُمَا الْفِطْرُ إِنْ شَاءَ بِالْأَكْلِ أَوْ بِالْجِمَاعِ فَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِ ؛ لِأَنَّ الْفِطْرَ الْمُبَاحَ يَسْتَوِي فِيهِ حَالُ الْأَكْلِ وَالْجِمَاعِ ، وَالْفِطْرُ فِي السَّفَرِ مُبَاحٌ

jika orang pergi mencapai jarak yg diterangkan (masafatul qosri) maka boleh baginya berbuka,jika ia mau boleh berbuka dgn makan atau dengan menjimak dan tiada kafarot baginya karena bagi yg diperbolehkan berbuka itu sama antara berbuka dengan makan atau dengan menjimak,sedangkan berbuka saat bepergian itu boleh

Ibnu Hasyim Alwi

MuwafiQ .. !
Tidak ada kaffarot bagi seseorang musafir melakukan jima' meskipun dalam keadaan berpuasa.
وقولنا آثم به احترازا عن المسافر فيما إذا جامع نية الترخص فإنه لا يأثم وكذا بغير نية الترخص على الصحيح لأن الإفطار مباح لهفيصير شبهة في درء الكفارة
"mengecualikan orang bepergian yang berjima' (bersetubuh) dengan niat mengambil kemudahan dari syara' maka dia tidak berdosa, begitu juga tanpa niat mengambil kemudahan dari syara' menurut qoul shohih karena membatalkan puasa baginya boleh sehingga bisa menjadi seperti penolak kafarot"
KIFAYAH AL AKHYAR : JUZ 1 /HALAMAN 211.

link dokumen :

 https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/617113041646771/
Baca Selengkapnya >>

Senin, 15 Juli 2013

1028 : HUKUM BERCUMBU RAYU SUAMI ISTRI DI SIANG RAMADHAN

PERTANYAAN
Adinda Shanty

Assalamualaikum HUDA ana mau tanya kami pengantin baru Ɣªⁿğ mana masih d lingkup bulan
madu dan kini waktu puasa tak jarang aku atau suami mendaratkan ciuma d
kening dan pipi slalu bergandeng tangan lau jalan dan mandi bareng saat
mau melakukan solat jama'ah apakah itu membatalkan puasa tp kami tidak
ada hasrat Ɣªⁿğ mengarah ke rangsangan ?
Terimakasih atas jawAbannya


JAWABAN

Brojol Gemblung

Wa'alaikumussalam

Bercumbu rayu bersama istri di siang hari bulan Ramadhan sebaiknya ditinggalkan,
sebab apabila bercumbu rayu bersamanya berefek dapat membangkitkan
syahwat dan di atas kekhawatiran akan keluar mani maka hukumnya makruh.
Dan mengenai kemakruhan ini ulama terjadi perbedaan pendapat antara
Makruh Tanzih dan Makruh Tahrim, namun menurut klaim Imam Rafi'i dan
selainnya hal itu makruh tahrim, dan akan tetapi ulama sepakat bila
tidak keluar mani maka puasanya tetap sah, baik ketika dalam konsekuensi
hukum makruh tanzih ataupun makruh tahrim.

Dan
apabila cumbuan itu dilakukan dg disertai syahwat namun tanpa ada unsur
kesengajaan untuk mengeluarkan mani serta ada penghalang (yg memisah
antara kulit suami & istri), maka puasanya tidak batal, namun bila
ada unsur kesengajaan mengeluarkan mani maka mutlak membatalkan puasa.

Selanjutnya
apabila aktivitas tersebut (cumbu - peluk) berefek keluarnya mani tanpa
ada unsur kesengajaan untuk mengeluarkan mani, maka bila dilakukan
tanpa menggunakan penghalang (yg memisah antara kulit suami & istri)
maka batal puasanya, baik dilakukan dg syahwat ataupun tidak, dan
apabila ada penghalang di antaranya walaupun tipis maka puasanya tidak
batal meskipun hal itu dilakukan dg syahwat.

Maka
dg demikian untuk pertanyaan di atas, apabila tidak berefek syahwat
maka tidak apa-apa dan puasanya tetap sah, namun alangkah baiknya
ditinggalkan karena demikian biasanya membangkitkan birahi seksual.
ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ - ﻣﺤﻴﻰ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ - ﺝ ٦ - ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ : ٣٥٥

ﺃﻣﺎ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻓﻬﻮ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﺗﻜﺮﻩ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺣﺮﻛﺖ ﺷﻬﻮﺗﻪ ﻭﻫﻮ ﺻﺎﺋﻢ
ﻭﻻ ﺗﻜﺮﻩ ﻟﻐﻴﺮﻩ ﻟﻜﻦ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﺗﺮﻛﻬﺎ ﻭﻻ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻭﺍﻟﺸﺎﺏ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻓﺎﻻﻋﺘﺒﺎﺭ
ﺑﺘﺤﺮﻳﻚ ﺍﻟﺸﻬﻮﺓ ﻭﺧﻮﻑ ﺍﻻﻧﺰﺍﻝ ﻓﺎﻥ ﺣﺮﻛﺖ ﺷﻬﻮﺓ ﺷﺎﺏ ﺃﻭ ﺷﻴﺦ ﻗﻮﻯ ﻛﺮﻫﺖ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ
ﺗﺤﺮﻛﻬﺎ ﻟﺸﻴﺦ ﺃﻭ ﺷﺎﺏ ﺿﻌﻴﻒ ﻟﻢ ﺗﻜﺮﻩ ﻭﺍﻷﻭﻟﻰ ﺗﺮﻛﻬﺎ ﻭﺳﻮﺍﺀ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺨﺪ ﺃﻭ ﺍﻟﻔﻢ ﺃﻭ
ﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻭﻫﻜﺬﺍ ﺍﻟﻤﺒﺎﺷﺮﺓ ﺑﺎﻟﻴﺪ ﻭﺍﻟﻤﻌﺎﻧﻘﺔ ﻟﻬﻤﺎ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﺛﻢ ﺍﻟﻜﺮﺍﻫﺔ ﻓﻲ ﺣﻖ
ﻣﻦ ﺣﺮﻛﺖ ﺷﻬﻮﺗﻪ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﻨﺼﻒ ﻭﺷﻴﺨﻪ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺃﺑﻰ ﺍﻟﻄﻴﺐ ﻭﺍﻟﻌﺒﺪ ﺭﻯ
ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ ﻭﻗﺎﻝ ﺁﺧﺮﻭﻥ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺗﻨﺰﻳﻪ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻨﺰﻝ ﻭﺻﺤﺤﻪ ﺍﻟﻤﺘﻮﻟﻲ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﺍﻓﻌﻲ ﻭﻏﻴﺮﻩ
ﺍﻷﺻﺢ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﻭﺇﺫﺍ ﻗﺒﻞ ﻭﻟﻢ ﻳﻨﺰﻝ ﻟﻢ ﻳﺒﻄﻞ ﺻﻮﻣﻪ ﺑﻼ ﺧﻼﻑ ﻋﻨﺪﻧﺎ ﺳﻮﺍﺀ ﻗﻠﻨﺎ
ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﺃﻭ ﺗﻨﺰﻳﻪ.

ﻓﺮﻉ:
ﻓﻲ ﻣﺬﺍﻫﺐ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﻟﻠﺼﺎﺋﻢ : ﺫﻛﺮﻧﺎ ﺍﻥ ﻣﺬﻫﺒﻨﺎ ﻛﺮﺍﻫﺘﻬﺎ ﻟﻤﻦ ﺣﺮﻛﺖ
ﺷﻬﻮﺗﻪ ﻭﻻ ﺗﻜﺮﻩ ﻟﻐﻴﺮﻩ ﻭﺍﻷﻭﻟﻰ ﺗﺮﻛﻬﺎ ﻓﺎﻥ ﻗﺒﻞ ﻣﻦ ﺗﺤﺮﻙ ﺷﻬﻮﺗﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﻨﺰﻝ ﻟﻢ ﻳﺒﻄﻞ
ﺻﻮﻣﻪ ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﻨﺬﺭ ﺭﺧﺺ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﻭﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﺃﺑﻮ ﻫﺮﻳﺮﺓ
ﻭﻋﺎﺋﺸﺔ ﻭﻋﻄﺎﺀ ﻭﺍﻟﺸﻌﺒﻲ ﻭﺍﻟﺤﺴﻦ ﻭﺍﺣﻤﺪ ﻭﺍﺳﺤﻖ ﻗﺎﻝ ﻭﻛﺎﻥ ﺳﻌﺪ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻭﻗﺎﺹ ﻻ ﻳﺮﻯ
ﺑﺎﻟﻤﺒﺎﺷﺮﺓ ﻟﻠﺼﺎﺋﻢ ﺑﺄﺳﺎ ﻭﻛﺎﻥ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻳﻨﻬﻰ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﻳﻘﻀﻰ ﻳﻮﻣﺎ
ﻣﻜﺎﻧﻪ ﻭﻛﺮﻩ ﻣﺎﻟﻚ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﻟﻠﺸﺎﺏ ﻭﺍﻟﺸﻴﺦ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﺃﺑﺎﺣﺘﻬﺎ ﻃﺎﺋﻔﺔ ﻟﻠﺸﻴﺦ ﺩﻭﻥ
ﺍﻟﺸﺎﺏ ﻣﻤﻦ ﻗﺎﻟﻪ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺛﻮﺭ ﺍﻥ ﺧﺎﻑ ﺍﻟﻤﺠﺎﻭﺯﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮﻫﺎ
ﻟﻢ ﻳﻘﺒﻞ ﻫﺬﺍ ﻧﻘﻞ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﻨﺬﺭ ﻭﻣﺬﻫﺐ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻛﻤﺬﻫﺒﻨﺎ ﻭﺣﻜﻰ ﺍﻟﺨﻄﺎﺑﻲ ﻋﻦ ﺳﻌﻴﺪ
ﺑﻦ ﺍﻟﻤﺴﻴﺐ ﺍﻥ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻗﻀﻲ ﻳﻮﻣﺎ ﻣﻜﺎﻧﻪ ﻭﺣﻜﺎﻩ ﺍﻟﻤﺎﻭﺭﺩﻱ ﻋﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺍﺑﻦ
ﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻭﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﺑﻦ ﺷﺒﺮﻣﺔ ﻗﺎﻝ ﻭﻗﺎﻝ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﻻ ﺗﻔﻄﺮ ﺍﻻ ﺃﻥ
ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻌﻬﺎ ﺍﻧﺰﺍﻝ ﻓﺎﻥ ﺍﻧﺰﻝ ﻣﻌﻬﺎ ﺃﻓﻄﺮ ﻭﻟﺰﻣﻪ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺓ ﻭﺩﻻﺋﻞ ﻫﺬﻩ
ﺍﻟﻤﺬﺍﻫﺐ ﺗﻌﺮﻑ ﻣﻤﺎ ﺳﺒﻖ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻋﻠﻢ

ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﺰﻳﻦ ﻓﻲ ﺇﺭﺷﺎﺩ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﺋﻴﻦ - ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ : 186

ﺃﻣﺎ
ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻹﻧﺰﺍﻝ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻃﻠﺐ ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﻤﻨﻲ ﻓﺘﺎﺭﺓ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﻤﺒﺎﺷﺮﺓ ﻣﺎ ﺗﺸﺘﻬﻴﻪ
ﺍﻟﻄﺒﺎﻉ ﺍﻟﺴﻠﻴﻤﺔ ﺃﻭ ﻻ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻻ ﺗﺸﺘﻬﻴﻪ ﺍﻟﻄﺒﺎﻉ ﺍﻟﺴﻠﻴﻤﺔ ﻛﺎﻷﻣﺮﺩ ﺍﻟﺠﻤﻴﻞ ﻭﺍﻟﻌﻀﻮ
ﺍﻟﻤﺒﺎﻥ ﻓﻼ ﻓﻄﺮ ﺑﺎﻹﻧﺰﺍﻝ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﺑﺸﻬﻮﺓ ﺃﻭ ﻻ ﺑﺤﺎﺋﻞ ﺃﻭ ﻻ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ
ﺗﺸﺘﻬﻴﻪ ﺍﻟﻄﺒﺎﻉ ﺍﻟﺴﻠﻴﻤﺔ ﻓﺘﺎﺭﺓ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻦ ﻣﺤﺎﺭﻣﻪ ﻭﺗﺎﺭﺓ ﻻ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺤﺎﺭﻡ
ﻭﻛﺎﻥ ﺑﺸﻬﻮﺓ ﻭﺑﺪﻭﻥ ﺣﺎﺋﻞ ﺃﻓﻄﺮ ﻭﺇﻻ ﻓﻼ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺤﺎﺭﻡ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﺪﻭﻥ
ﺣﺎﺋﻞ ﺃﻓﻄﺮ ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﺑﺸﻬﻮﺓ ﺃﻭ ﻻ ﺃﻣﺎ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﺤﺎﺋﻞ ﻭﻟﻮ ﺭﻗﻴﻘﺎ ﺟﺪﺍ ﻓﻼ ﺇﻓﻄﺎﺭ
ﻭﻟﻮ ﺑﺸﻬﻮﺓ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ : ﻻ ﺑﻀﻢ ﺑﺤﺎﺋﻞ. ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻟﺸﻬﻮﺓ ﺃﻥ ﻳﻘﺼﺪ ﻣﺠﺮﺩ ﺍﻟﻠﺬﺓ ﻣﻦ
ﻏﻴﺮ ﺃﻥ ﻳﻘﺼﺪ ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﻤﻨﻲ ﻭﺇﻻ ﻛﺎﻥ ﺍﺳﺘﻤﻨﺎﺀ ﻭﻫﻮ ﻣﻔﻄﺮ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻛﻤﺎ ﻣﺮ .

Ibnu Hasyim Alwi

Sepakat dengan Yai Brojol_

cuma mbade Nyumbang Ibarot -:
berciuman ketika dalam keadaan puasa jika dikhawatirkan akan menyebabkan
keluarnya mani atau keinginan berhubungan intim maka menurut pendapat
yang Ashoh adalah Makruh Tahrim.
Kemakruhan Tahrim ini jika dalam puasa Wajib.
Sedangkan jika dalam puasa sunnah dalam kasus di atas hukumnya Makruh Tanzih.
وتكره
القبلة) في الفم وغيرهوهي مثال؛ إذ مثلها كل لمس لشيء من البدن بلا حائل
(لمن حركت شهوته) حالا كما أفاده عدوله عن قول أصله تحرك؛ لأنه - صلى الله
عليه وسلم - رخص فيها للشيخ دون الشاب وعلل ذلك بأن الشيخ يملك إربه بخلاف
الشاب فأفهم التعليل أن النهي دائر مع تحريك الشهوة الذي يخاف منه الإمناء
أو الجماع وعدمه (والأولى لغيره تركها) حسما للباب ولأنها قد تحرك ولأن
الصائم يسن له ترك الشهوات ولم تكره لضعف أدائها إلى الإنزال (قلتهي كراهة
تحريم) إن كان الصومفرضا (في الأصح
--------
:وأما النفل فيجوز قطعه بما شاء نهاية
Tuhfah al Muhtaj : Juz III/ Hal 410.
Kakek Jhøsy

Referensi

وقال النووي في "المجموع" (6/349) :" إذَا قَبَّلَ أَوْ بَاشَرَ فِيمَا دُونَ
الْفَرْجِ بِذَكَرِهِ أَوْ لَمَسَ بَشَرَةَ امْرَأَةٍ بِيَدِهِ أَوْ
غَيْرِهَا , فَإِنْ أَنْزَلَ الْمَنِيَّ بَطَلَ صَوْمُهُ وَإِلا فَلا ,
وَنَقَلَ صَاحِبُ الْحَاوِي وَغَيْرُهُ الإِجْمَاعَ عَلَى بُطْلانِ صَوْمِ مَنْ قَبَّلَ أَوْ بَاشَرَ دُونَ الْفَرْجِ فَأَنْزَلَ " انتهى باختصار

قال ابن قدامة في "المغني" (4/363) : " وَلَوْ اسْتَمْنَى بِيَدِهِ فَقَدْ
فَعَلَ مُحَرَّمًا , وَلا يَفْسُدُ صَوْمُهُ بِهِ إلا أَنْ يُنْزِلَ ,
فَإِنْ أَنْزَلَ فَسَدَ صَوْمُهُ " انتهى

link dokumen :

 https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/616701955021213/
Baca Selengkapnya >>

Sabtu, 13 Juli 2013

1019 : HUKUM MENELAN LUDAH KETIKA GUSI BERDARAH SAAT PUASA

PERTANYAAN

Sasky Kia

Assalamualaikum ....
mau tanya , apakah batal puasanya bila tidak sengaja gigi berdarah dan berkumur2 karna niat ingin membersihkan darah yang ada di mulut . trimakasih ,

JAWABAN

Brojol Gemblung

Wa'alaikumussalam

14. MENELAN LUDAH KETIKA GUSI BERDARAH

Dalam melaksanakan ritual puasa banyak hal yang perlu diketahui terkait masalah batal dan tidaknya puasa. Sebut saja kang Asror, entah karena apa, disaat sedang berpuasa gusinya sering mengel
uarkan darah. akibatnya percampuran air ludah dan darah sulit dihindari. Hal ini akan menjadi problem ketika ia mau menelan ludahnya. Apakah puasanya kang Asror batal saat menelan ludah?

Jawab: Batal, kecuali jika darah yang keluar dari gusi tersebut terus menerus. Dengan demikian hal itu termasuk masyaqqat.

Referensi:

ﺑُﻐْﻴَﺔُ ﺍﻟﻤْﺴُﺘَﺮْﺷِﺪِﻱَﻥْ ﻟﻠِﺴَﻴّﺪِ ﺑﺎﻋَﻠَﻮِﻱ ﺍﻟﺤﻀﺮﻣﻲ ﺻﺤـ : 182 ﻣﻜﺘﺒﺔ ﺩﺍﺭ ﺍﻟﻔﻜﺮ

ﻣَﺴْﺄَﻟَﺔُ ﻙ: ﻳُﻌْﻔَﻰ ﻋَﻦْ ﺩَﻡِّ ﺍﻟﻠِّﺜَّﺔِ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﻳَﺠْﺮِﻱْ ﺩَﺍﺋِﻤﺎً ﺃَﻭْ ﻏَﺎﻟِﺒﺎً ﻭَﻻَ ﻳُﻜَﻠَّﻒُ ﻏَﺴْﻞٌ ﻓِﻴْﻪِ ﻟِﻠْﻤَﺸَﻘَّﺔِ ﺑِﺨِﻼَﻑِ ﻣَﺎ ﻟَﻮِ ﺍﺣْﺘَﺎﺝَ ﻟِﻠْﻘَﻲْﺀِ ﺑِﻘَﻮْﻝِ ﻃَﺒِﻴْﺐٍ ﻓَﺎﻟَّﺬِﻱْ ﻳَﻈْﻬَﺮُ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮُ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﻧَﻈِﻴْﺮُ ﺇِﺧْﺮَﺍﺝِ ﺍﻟﺬُّﺑَﺎﺑَﺔِ ﻭَﻟَﻮِ ﺍﺑْﺘُﻠِﻲَ ﺑِﺪُﻭْﺩٍ ﻓِﻲْ ﺑَﺎﻃِﻨِﻪِ ﻓَﺄَﺧْﺮَﺟَﻪُ ﺑِﻨَﺤْﻮِ ﺃُﺻْﺒُِﻌِﻪِ ﻟَﻢْ ﻳُﻔْﻄِﺮْ ﺇِﻥْ ﺗَﻌَﻴَّﻦَ ﻃَﺮِﻳْﻘﺎً ﻗِﻴَﺎﺳًﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺩْﺧَﺎﻟِﻪِ ﺍﻟْﺒَﺎﺳُﻮْﺭَ ﺑِﻪِ ﺍﻫـ

ﺃﺳﻨﻰ ﺍﻟﻤﻄﺎﻟﺐ ﺍﻟﺠﺰﺀ 1 ﺻـ : 417 ﻣﻜﺘﺒﺔ ﺩﺍﺭ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲ

ﻭَﻳُﻔْﻄِﺮُ ﺑِﻪِ ﺇﻥْ ﺗَﻨَﺠَّﺲَ ﻛَﻤَﻦْ ﺩَﻣِﻴَﺖْ ﻟِﺜَﺘُﻪُ ﺃَﻭْ ﺃَﻛَﻞَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻧَﺠْﺴًﺎ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻐْﺴِﻞْ ﻓَﻤَﻪُ ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﺻْﺒَﺢَ ﻭَﺇِﻥِ ﺍﺑْﻴَﺾَّ ﺭِﻳﻘُﻪُ . ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﻛَﻤَﻦْ ﺩَﻣِﻴَﺖْ ﻟِﺜَﺘُﻪُ. ﻗَﺎﻝَ ﺍْﻷَﺫْﺭَﻋِﻲُّ ﻻَ ﻳَﺒْﻌُﺪُ ﺃَﻥْ ﻳُﻘَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﻋَﻤَّﺖْ ﺑَﻠْﻮَﺍﻩُ ﺑِﺪَﻡِ ﻟِﺜَﺘِﻪِ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﻳَﺠْﺮِﻱ ﺩَﺍﺋِﻤًﺎ ﺃَﻭْ ﻏَﺎﻟِﺒًﺎ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳُﺘَﺴَﺎﻣَﺢُ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﺸُﻖُّ ﺍَﻹِﺣْﺘِﺮَﺍﺯُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﻳَﻜْﻔِﻲ ﺑَﺼْﻘُﻪُ ﺍﻟﺪَّﻡَ ﻭَﻳُﻌْﻔَﻰ ﻋَﻦْ ﺃَﺛَﺮِﻩِ ﻭَﻻَ ﺳَﺒِﻴﻞَ ﺇﻟَﻰ ﺗَﻜْﻠِﻴﻔِﻪِ ﻏَﺴْﻠُﻪِ ﺟَﻤِﻴﻊَ ﻧَﻬَﺎﺭِﻩِ ﺇِﺫَﺍ ﺍﻟْﻔَﺮْﺽُ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳَﺠْﺮِﻱ ﺩَﺍﺋِﻤًﺎ ﺃَﻭْ ﻳَﺘَﺮَﺷَّﺢُ ﻭَﺭُﺑَّﻤَﺎ ﺇِﺫَﺍ ﻏَﺴَﻠَﻪُ ﺯَﺍﺩَ ﺟَﺮَﻳَﺎﻧُﻪُ ﺍﻫـ

ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ ﺍﻟﺠﺰﺀ 1 ﺻﺤـ : 321 ﻣﻜﺘﺒﺔ ﺩﺍﺭ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﺍﻟﺘﺮﺍﺙ ﺍﻟﻌﺮﺑﻲ

ﻭَﺗَﻘَﺪَّﻡَ ﻋَﻦْ ﻉ ﺵ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﻮِ ﺍﺑْﺘُﻠِﻲَ ﺷَﺨْﺺٌ ﺑِﺪَﻣْﻲِ ﺍﻟﻠِّﺜَﺔِ ﺑِﺄَﻥْ ﻳَﻜْﺜُﺮَ ﻭُﺟُﻮﺩُﻩُ ﻣِﻨْﻪُ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﻳَﻘِﻞُّ ﺧُﻠُﻮُّﻩُ ﻋَﻨْﻪُ ﻳُﻌْﻔَﻰ ﻋَﻨْﻪُ ﺍﻫـ

Sumber: http://www.piss-ktb.com/2012/03/f0068-permasalahan-seputar-puasa.html?m=1


link dokumen :

https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/615837915107617/
Baca Selengkapnya >>

1017 : MUNTAH APAKAH MEMBATLKAN PUASA ?

PERTANYAAN

Rezza Moe

Assalamu'alaikum..
Apakah btal puasanya bila mutah mutah tnpa d sengaja..
Krn dari tadi pagi..saya mutah mutah terus??

JAWABAN

Opick Syahreza

wa'alaikum salam, tidak batal
jika tidak ada unsur kesengajaan,

 fathul mun hal 89 bairut

ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻏﻠﺒﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﻌﺪ ﻣﻨﻪ - ﺃﻭ ﻣﻦ ﺭﻳﻘﻪ ﺍﻟﻤﺘﻨﺠﺲ ﺑﻪ - ﺷﺊ ﺇﻟﻰ ﺟﻮﻓﻪ ﺑﻌﺪ ﻭﺻﻮﻟﻪ ﻟﺤﺪ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮ، ﺃﻭ ﻋﺎﺩ ﺑﻐﻴﺮ ﺍﺧﺘﻴﺎﺭﻩ: ﻓﻼ ﻳﻔﻄﺮ ﺑﻪ - ﻟﻠﺨﺒﺮ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺑﺬﻟﻚ )

apabila muntah itu terjadi tanpa sengaja serta tiada sebag
ian muntahnya maka tidak batal puasanya

ianatu thalibin juj 2:

ﻗﻮﻟﻪ: ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻏﻠﺒﻪ ( ﺃﻱ ﺧﺮﺝ ﺑﻐﻴﺮ ﺍﺧﺘﻴﺎﺭﻩ ﻭﻗﺼﺪﻩ، ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻔﻬﻮﻡ ﻗﻮﻟﻪ ﺍﺳﺘﻘﺎﺀﺓ، ﺇﺫ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﻣﻨﻬﺎ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﺍﻟﻤﺴﺘﻠﺰﻡ ﻟﺨﺮﻭﺟﻪ ﺑﺎﺧﺘﻴﺎﺭﻩ ﻭﻗﺼﺪﻩ. )ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻟﻢ ﻳﻌﺪ ﻣﻨﻪ( ﺃﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺊ، ﻭﺍﻟﺠﻤﻠﺔ ﺣﺎﻟﻴﺔ. ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﺃﻭ ﻣﻦ ﺭﻳﻘﻪ: ﺃﻱ ﺃﻭ ﻟﻢ ﻳﻌﺪ ﻣﻦ ﺭﻳﻘﻪ. )ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﺍﻟﻤﺘﻨﺠﺲ ﺑﻪ( ﺃﻱ ﺑﺎﻟﻘﺊ. )ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﺷﺊ( ﻓﺎﻋﻞ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﻗﺒﻠﻪ. )ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﺇﻟﻰ ﺟﻮﻓﻪ( ﻣﺘﻌﻠﻖ ﺑﺎﻟﻔﻌﻞ. )ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﺑﻌﺪ ﻭﺻﻮﻟﻪ ﺇﻟﺦ( ﻣﺘﻌﻠﻖ ﺑﺎﻟﻔﻌﻞ ﺃﻳﻀﺎ. ﺃﻱ ﻟﻢ ﻳﻌﺪ ﺇﻟﻴﻪ ﺑﻌﺪ ﻭﺻﻮﻟﻪ ﻟﺤﺪ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮ، ﺑﺄﻥ ﻟﻢ ﻳﻌﺪ ﺇﻟﻴﻪ ﺃﺻﻼ، ﺃﻭ ﻋﺎﺩ ﻗﺒﻞ ﻭﺻﻮﻟﻪ ﻟﺤﺪ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮ، ﻓﺈﻥ ﻋﺎﺩ ﺇﻟﻴﻪ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﺃﺑﻄﻞ ﺍﻟﺼﻮﻡ. ﻭﺳﻴﺄﺗﻲ ﺑﻴﺎﻥ ﺣﺪ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮ. )ﻗﻮﻟﻪ: ﺃﻭ ﻋﺎﺩ( ﺃﻱ ﺑﻌﺪ ﻭﺻﻮﻟﻪ ﻟﺬﻟﻚ، ﻟﻜﻦ ﺑﻐﻴﺮ ﺍﺧﺘﻴﺎﺭﻩ ﻭﻗﺼﺪﻩ. )ﻗﻮﻟﻪ: ﻓﻼ ﻳﻔﻄﺮ ﺑﻪ( ﺟﻮﺍﺏ ﺃﻣﺎ. ﻭﺿﻤﻴﺮ ﺑﻪ ﻳﻌﻮﺩ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﺊ. )ﻗﻮﻟﻪ: ﻟﻠﺨﺒﺮ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ( ﻫﻮ: ﻣﻦ ﺫﺭﻋﻪ ﺍﻟﻘﺊ ﻓﻠﻴﺲ ﻋﻠﻴﻪ ﻗﻀﺎﺀ، ﻭﻣﻦ ﺍﺳﺘﻘﺎﺀ ﻓﻠﻴﻘﺾ. ﻭﺫﺭﻋﻪ - ﺑﺎﻟﻤﻌﺠﻤﺔ - ﺑﻤﻌﻨﻰ ﻏﻠﺒﻪ، ﻭﻫﻮ ﺩﻟﻴﻞ ﻟﻜﻮﻥ ﺍﻻﺳﺘﻘﺎﺀﺓ ﺗﻔﻄﺮ، ﻭﻟﻜﻮﻥ ﻣﻔﻬﻮﻣﻬﺎ - ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻟﻪ ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻏﻠﺒﻪ ﺇﻟﺦ - ﻻ ﻳﻔﻄﺮ، ﻓﻬﻮ ﻣﺮﺗﺒﻂ ﺑﺎﻟﻤﺘﻦ: ﻣﻨﻄﻮﻗﺎ، ﻭﻣﻔﻬﻮﻣﺎ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺻﻨﻴﻌﻪ ﻳﻔﻴﺪ ﺭﺟﻮﻋﻪ ﻟﻠﺜﺎﻧﻲ ﻓﻘﻂ.

kifaytul akhyar hal 206:
ﻭﺇﻥ ﻏﻠﺒﻪ ﺍﻟﻘﻲﺀ ﻟﻢ ﻳﻔﻄﺮ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ) ﻣﻦ ﺫﺭﻋﻪ ﺍﻟﻘﻲﺀ ﻭﻫﻮ ﺻﺎﺋﻢ ﻓﻠﻴﺲ ﻋﻠﻴﻪ ﻗﻀﺎﺀ ﻭﻣﻦ ﺍﺳﺘﻘﺎﺀ ﻓﻠﻴﻘﺾ ( ﻭﺫﺭﻋﻪ ﻏﻠﺒﻪ ﻭﻫﻮ ﺑﺎﻟﺬﺍﻝ ﺍﻟﻤﻨﻘﻮﻃﺔ


link dokumen :

 https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/615834688441273/
Baca Selengkapnya >>

Jumat, 12 Juli 2013

1013 : HUKUM MENELAN LUDAH SAAT PUASA

PERTANYAAN
Tamlikho A AL Kafi

assalamualaikum. . . .

mau tanya,
gimana hukum nya, ketika puasa, nelan ludah, . . .
matur thank you


JAWABAN

Brojol Gemblung

Wa'alaikumussalam

Abdull ah Afif >>>Ta' birnya Fat-hul Mu'in sbb:

ﻻﻳﻔﻄﺮ ﺑﺮﻳﻖ ﻃﺎﻫﺮ ﺻﺮﻑ ﺃﻱ ﺧﺎﻟﺺ ﺍﺑﺘﻠﻌﻪ ﻣﻦ ﻣﻌﺪﻧﻪ ﻭﻫﻮ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻔﻢ

laa yufthiru biroiqi n thoohi rin shirfin ai khooli shin ibtala' ahuu min ma' danihii wahu wa jamii' ul fami

Poso ora batal sbab ngeleg idu kang suci tur murni kang ngeleg saking sumbe re idu yoiku sekabe hane ruangan cangkem

Abdull ah Afif >> Namun jika air ludah tersebut sengaja dikumpulkan dalam mulut sehingga menja di banyak lalu ditelan, maka ada dua pendapat. Ada yang mengatakan tidak memb atalkan puasa, dan ada pula yang mengatakan membatalkan puasa. Berikut ta'bir dari Kitab Al Muhadzdzab:

ﻭﺇﻥ ﺟﻤﻊ ﻓﻲ ﻓﻤﻪ ﺭﻳﻘﺎ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﻭﺍﺑﺘﻠﻌﻪ ﻓﻔﻴﻪ ﻭﺟﻬﺎﻥ : ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ : ﻳﺒﻄﻞ ﺻﻮﻣﻪ ، ﻷﻧﻪ ﺍﺑﺘﻠﻊ ﻣﺎ ﻳﻤﻜﻨﻪ ﺍﻻﺣﺘﺮﺍﺯ ﻣﻨﻪ ﻣﻤﺎ ﻻ ﺣﺎﺟﺔ ﺑﻪ ﺇﻟﻴﻪ ، ﻓﺄﺷﺒﻪ ﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻗﻠﻊ ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﺃﺳﻨﺎﻧﻪ ﻭﺍﺑﺘﻠﻌﻪ . ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﻻ ﻳﺒﻄﻞ ﻷﻧﻪ ﻭﺻﻞ ﺇﻟﻰ ﺟﻮﻓﻪ ﻣﻦ ﻣﻌﺪﺗﻪ ﻓﺄﺷﺒﻪ ﻣﺎ ﻳﺒﺘﻠﻌﻪ ﻣﻦ ﺭﻳﻘﻪ ﻋﻠﻰ ﻋﺎﺩﺗﻪ

WA IN JAMA'A FII FAMIHI I RAIQA N KATSII RAN FA IBTALA 'AHUU FAFIIHI WAJHA ANI AHADU HUMAA : YABTH ULU SHAUM UHUU . .. WATST SAANII : LAA YABTH ULU

Jika seseorang (yang berpuasa) mengumpulkan air ludah yang banyak dalam mulutnya lalu menelannya, maka ada dua pendapat: Pertama: Batal puasanya Kedua: Tidak batal.

Abdullah Afif >> Imam Nawawi dalam Syarah nya mengomentari sbb:

ﺃﺻﺤﻬﻤﺎ : ﻻ ﻳﻔﻄﺮ ، ﻭﻟﻮ ﺍﺟﺘﻤﻊ ﺭﻳﻖ ﻛﺜﻴﺮ ﺑﻐﻴﺮ ﻗﺼﺪ ﺑﺄﻥ ﻛﺜﺮ ﻛﻼﻣﻪ ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﺑﻐﻴﺮ ﻗﺼﺪ ﻓﺎﺑﺘﻠﻌﻪ ﻟﻢ ﻳﻔﻄﺮ ﺑﻼ ﺧﻼﻑ

ASHAH HUHU MAA LAA YUFTHI RU WA LAU IJTAMA 'A RAIQU N KATSII RUN BIGHAI RI QASHD IN BI AN KATSU RA KALAA MUHU U AU GHAIRI DZAALI KA BIGHAI RI QASHD IN FA IBTALA 'AHUU LAM YUFTHI R BILAA KHILAA FIN

Pendapat yang ashah (paling shahih ) tidak membatalkan puasa. Jika ludah banyak terkumpul tanpa disengaja, misalnya banyak berbicara atau yang lainnya dengan tanpa sengaja kemudian menelannya maka tidak membatalkan puasa tanpa ada perbedaan. Sumber: Al Majmuu', Syarah al Muhadzdzab juz VI halaman 327
Wallaahu A'lam

Sumber: http://www.piss-ktb.com/2012/02/332-puasa-menelan-ludah-sewaktu.html?m=1

Lengkapnya referensi dari Kitab Mu'in sebagai berikut:

ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ - ﺍﻟﻤﻠﻴﺒﺎﺭﻱ ﺍﻟﻬﻨﺪﻱ - ﺝ - ٢ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٢٦١ :

ﻭﻻ ﻳﻔﻄﺮ ﺑﺮﻳﻖ ﻃﺎﻫﺮ ﺻﺮﻑ ﺃﻱ ﺧﺎﻟﺺ ﺍﺑﺘﻠﻌﻪ ﻣﻦ ﻣﻌﺪﻧﻪ ﻭﻫﻮ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻔﻢ، ﻭﻟﻮ ﺑﻌﺪ ﺟﻤﻌﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺻﺢ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﻨﺤﻮ ﻣﺼﻄﻜﻰ. ﺃﻣﺎ ﻟﻮ ﺍﺑﺘﻠﻊ ﺭﻳﻘﺎ ﺍﺟﺘﻤﻊ ﺑﻼ ﻓﻌﻞ، ﻓﻼ ﻳﻀﺮ ﻗﻄﻌﺎ.

Dan (puasa) tidak batal sebab menelan ludah yg suci nan bersih dari sumbernya; yaitu semua ruang mulut, meskipun hal demikian dilakukan setelah mengumpulkan ludah, menurut qaul ashah, dan walaupun upaya pengumpulan ludah tersebut dg cara menyedot. Sedangkan menelan ludah yg terkumpul tanpa adanya tindakan (upaya pengumpulan) maka dapat dipastikan hal itu tidak menjadi masalah.

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ - ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ - ﺝ ٢ - ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٢٦١ :

ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻻ ﻳﻔﻄﺮ ﺑﺮﻳﻖ ﺇﻟﺦ(ﺃﻱ ﻟﻌﺴﺮ ﺍﻟﺘﺤﺮﺯ ﻋﻨﻪ. ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻟﺮﻳﻖ ﺭﻳﻘﻪ، ﺃﻣﺎ ﺭﻳﻖ ﻏﻴﺮﻩ ﻓﻴﻔﻄﺮ ﺑﻪ. ﻭﻣﺎ ﺻﺢ ﺃﻧﻪ ﺹ ﻛﺎﻥ ﻳﻤﺺ ﻟﺴﺎﻥ ﺍﻟﺴﻴﺪﺓ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ ﻓﻴﺤﺘﻤﻞ ﺃﻧﻪ ﻳﻤﺠﻪ. ﻗﻮﻟﻪ: ﻃﺎﻫﺮ ﺇﻟﺦ ﺫﻛﺮ ﺛﻼﺛﺔ ﻗﻴﻮﺩ: ﻛﻮﻧﻪ ﻃﺎﻫﺮﺍ، ﻭﻛﻮﻧﻪ ﺻﺮﻓﺎ، ﻭﻛﻮﻧﻪ ﻣﻦ ﻣﻌﺪﻧﻪ. ﻭﺳﻴﺬﻛﺮ ﻣﺤﺘﺮﺯﺍﺗﻬﺎ. ﻗﻮﻟﻪ: ﺍﺑﺘﻠﻌﻪ ﺑﻴﺎﻥ ﻟﻤﺘﻌﻠﻖ ﺍﻟﺠﺎﺭ ﻭﺍﻟﻤﺠﺮﻭﺭ ﺑﻌﺪﻩ. ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻫﻮ ﺃﻱ ﻣﻌﺪﻧﻪ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻔﻢ، ﻭﻗﺪ ﺗﻘﺪﻡ ﺃﻧﻬﻢ ﺟﻌﻠﻮﺍ ﺍﻟﻔﻢ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻠﺮﻳﻖ ﻭﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻭﺍﻟﻐﺴﻞ ﺑﺎﻃﻨﺎ. ﻭﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻹﺯﺍﻟﺔ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻣﻨﻪ ﻭﺩﺧﻮﻝ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺮﻳﻖ ﻣﻨﻪ، ﻭﺧﺮﻭﺝ ﺷﺊ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺎﻃﻦ ﺇﻟﻴﻪ، ﻇﺎﻫﺮﺍ. ﻓﻼ ﺗﻐﻔﻞ. ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻟﻮ ﺑﻌﺪ ﺟﻤﻌﻪ ﻏﺎﻳﺔ ﻓﻲ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﺑﺎﺑﺘﻼﻉ ﺍﻟﺮﻳﻖ. ﺃﻱ ﻻ ﻳﻔﻄﺮ ﻭﻟﻮ ﺍﺑﺘﻌﻠﻪ ﺑﻌﺪ ﺟﻤﻌﻪ ﻓﻲ ﻓﻤﻪ، ﻭﻫﻲ ﻟﻠﺮﺩ - ﻛﻤﺎ ﻳﻔﻴﺪﻩ ﻗﻮﻟﻪ ﺑﻌﺪ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺻﺢ. ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﻨﺤﻮ ﻣﺼﻄﻜﻲ ﻏﺎﻳﺔ ﻟﻠﻐﺎﻳﺔ، ﺃﻱ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺟﻤﻌﻪ ﺣﺎﺻﻼ، ﺑﻮﺍﺳﻄﺔ ﻣﻀﻎ ﻧﺤﻮ ﻣﺼﻄﻜﻲ ﻛﻠﺒﺎﻥ. ﻗﻮﻟﻪ: ﺃﻣﺎ ﻟﻮ ﺍﺑﺘﻠﻊ ﻣﻘﺎﺑﻞ ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻟﻮ ﺑﻌﺪ ﺟﻤﻌﻪ، ﺇﺫ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﻣﻨﻪ ﻓﻌﻞ ﺍﻟﻔﺎﻋﻞ .ﻗﻮﻟﻪ: ﻓﻼ ﻳﻀﺮ ﻗﻄﻌﺎ ﺃﻱ ﺑﻼ ﺧﻼﻑ .



 ﻋﻤﺪﺓ ﺍﻟﻘﺎﺭﻱ - ﺍﻟﻌﻴﻨﻲ - ﺝ - ١١ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٧ :

ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺒﺪﺍﺋﻊ: ﻟﻮ ﺍﺑﺘﻠﻊ ﺭﻳﻖ ﺣﺒﻴﺒﻪ ﺃﻭ ﺻﺪﻳﻘﻪ، ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﻠﻮﺍﻧﻲ: ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺓ ﻷﻧﻪ ﻻ ﻳﻌﺎﻓﻪ ﺑﻞ ﻳﻠﺘﺬ ﺑﻪ، ﻭﻗﻴﻞ: ﻻ ﻛﻔﺎﺭﺓ ﻓﻴﻪ، ﻭﻟﻮ ﺟﻤﻊ ﺭﻳﻘﻪ ﻓﻲ ﻓﻴﻪ ﺛﻢ ﺍﺑﺘﻠﻌﻪ ﻟﻢ ﻳﻔﻄﺮﻩ، ﻭﻳﻜﺮﻩ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﻟﻤﺮﻏﻴﻨﺎﻧﻲ.



Dalam kitab al-Bada`i' diterangkan: Andai seseorang menelan ludah kekasihnya atau temannya, al-Halwani berkata: Wajib atasnya membayar kafarot karena hal itu pekerjaan yg tidak mendapat dispensasi hukum, tapi bahkan hal itu sesuatu yg nikmat baginya. Dan dikatakan juga hal itu tidak mengharuskan membayar kafarot. Dan andai dia mengumpulkan ludahnya dimulutnya lalu dia menelannya maka hal demikian tidak membatalkan puasa dan hukumnya makruh, keterangan ini disampaikan oleh al-Marghinani

link dokumen :

https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/615362861821789/
Baca Selengkapnya >>

Kamis, 11 Juli 2013

1008 : MENCICIPI MAKANAN SAAT PUASA

PERTANYAAN
Durö Böy
Assalamuslaikum wr wb

Sudah jadi kebiasaan di kampung para bu nyai tante n mbook swaktu masak mencicipi masakanya
Bagaimana puasa nya batal atau tidak +ibarotnya

Atas jawabanya sukron katsiirr ...!
JAWABAN

Mbah Pardan Milanistie

 wa'alaikum salam

 من ﺫﻟﻚ ﺫﻭﻕ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻓﺎﻧﻪ ﻳﻜﺮﻩ ﻟﻠﺼﺎﺋﻢ ﺍﻻ ﻟﺤﺎﺟﺔ
ﻛﺎﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻃﺮﺧﺎ ﻭ ﻧﺤﻮﻩ ﻓﻼ ﻳﻜﺮﻩ
ﺍﻟﻔﻘﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺬﺍﻫﺐ ﺍﻻﺭﺑﻌﺔ ١/٥١٨

Sebagian diantara perkara yg dimakruhkan bagiorang yg berpuasa adalah mencicipi makanan,kecuali adanya hajat semisal memasak, makatidak dimakruhkan.

Kemakruhan ini terjadi karena dihawatirkanmakanan akan tertelan.

ﻭ ﺗﺮﻙ ﺫﻭﻕ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﺑﻞ ﻳﻜﺮﻩ ﺧﻮﻑ ﻭﺻﻮﻟﻪ ﻟﺠﻮﻓﻪﺑﺸﺮﻯ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ٥٧

Kesunahan berpuasa adalah meninggalkanmencicipi makanan, bahkan mencicipi inimakruh karena dihawatirkan sampainya makananke jauf.

ﺤﻞ ﺍﻟﻜﺮﺍﻫﺔ ﺍﻥ ﻟﻢ ﺗﻜﻦ ﻟﻪ ﺣﺎﺟﺔ ﺍﻣﺎ ﺍﻟﻄﺒﺎﺡ ﺭﺟﻼﻛﺎﻥ ﺍﻭ ﺍﻣﺮﺍﺀﺓ ﻭﻣﻦ ﻟﻪ ﺻﻐﻴﺮ ﻳﻌﻠﻠﻪ ﻓﻼ ﻳﻜﺮﻩ ﻓﻲﺣﻘﻬﻤﺎ ﺫﻟﻚ ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﻱ

"Dimakruhkan mencicipi makanan (bagi orangyang puasa...) tersebut bila memang bagi orangyang tidak ada kepentingan sedangkan bagiseorang pemasak makanan baik laki-laki atauperempuan atau orang yang memiliki anak kecil yang mengunyahkan makanan buatnya maka tidak dimakruhkan mencicipi makanan buat mereka seperti apa yang di fatwakan Imam Az-Ziyaadi" (Assyarqowy I/445


Preman Sarungan

wa'alaikumsalam

BOLEH ASAL TIDAK DI TELAN MASAKAN YANG DICICIPINYA TADI,dan berniyat hanya sekedar mencicipi masakan tersebut.

Landasan;

تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 3 صحـ : 425 مكتبة دار إحياء التراث العربي
وَ عَنْ ذَوْقِ الطَّعَامِ وَغَيْرِهِ بَلْ يُكْرَهُ خَوْفًا مِنْ وُصُولِهِ إلَى حَلْقِهِ ( قَوْلُهُ إلَى حَلْقِهِ ) قَضِيَّتُهُ أَنَّ وُصُولَهُ قَهْرًا عَلَيْهِ مُفْطِرٌ وَلاَ يَبْعُدُ فِيمَا إذَا احْتِيجَ لِلذَّوْقِ أَنْ لاَ يَضُرَّ سَبْقُهُ إلَى الْجَوْفِ كَمَا يُؤْخَذُ مِمَّا تَقَدَّمَ فِي الْحَاشِيَةِ عَنِ اْلأَنْوَارِ ( قَوْلُهُ بَلْ يُكْرَهُ إلَخْ ) نَعَمْ إنِ احْتَاجَ إلَى مَضْغِ نَحْوِ خُبْزٍ لِطِفْلٍ لَمْ يُكْرَهْ نِهَايَةٌ وَإِيعَابٌ قَالَ ع ش قَوْلُهُ نَعَمْ إنِ احْتَاجَ إلَخْ قَضِيَّةُ اقْتِصَارِهِ عَلَى ذَلِكَ كَرَاهَةُ ذَوْقِ الطَّعَامِ لِغَرَضِ إِصْلاَحِهِ لِمُتَعَاطِيهِ وَيَنْبَغِي عَدَمُ كَرَاهَتِهِ لِلْحَاجَةِ وَإِنْ كَانَ عِنْدَهُ مُفْطِرٌ غَيْرُهُ ِلأَنَّهُ قَدْ لاَ يُعْرَفُ إصْلاَحُهُ مِثْلَ الصَّائِمِ اهـ ( قَوْلُهُ فِي الْمَتْنِ وَذَوْقِ الطَّعَامِ وَالْعِلْكِ ) وَمَحَلُّهُ فِي غَيْرِ مَا يَتَفَتَّتُ أَمَّا هُوَ فَإِنْ تَيَقَّنَ وُصُولَ بَعْضِ جِرْمِهِ عَمْدًا إلَى جَوْفِهِ أَفْطَرَ وَحِينَئِذٍ يَحْرُمُ مَضْغُهُ بِخِلاَفِ مَا إذَا شَكَّ أَوْ وَصَلَ طَعْمُهُ أَوْ رِيحُهُ ِلأَنَّهُ مُجَاوِرٌ اهـ

Focusnya saja kang bahwa memncicipi masakan itu bagi orang yg berpuasa itu makruh,

Jika ada hajat untuk mengunyahkan makan untuk anak kecil boleh dan tidak makruh

link dokumen :

https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/614976358527106/

Baca Selengkapnya >>

Rabu, 10 Juli 2013

1004 : MENGHIRUP VIKS INHALER, APAKAH MEMBATALKAN PUASA?

PERTANYAAN

Opick Syahreza  

Assalamu alaikum.

apakah batal puasa memakai inhaler

wasalamualaikum

JAWABAN

Sunde Pati

wa'alaikum salam

1748. MENGHIRUP VIKS INHALER, APAKAH MEMBATALKAN PUASA? 

PERTANYAAN : Maz Erlangga 

assalamu'alaikumketika kita flu di bulan ramadhan trus kita mnghirup viks inheler,apakah membatalkan puasa tolong di jawab yaaaa dan ibarohnya jangan di tulis arab latin aja plissss,trima ksih 

JAWABAN :>> Mbah Jenggot II  

Tidak batal.

titip ibarot &

حاشية الجمل الجزء 2 صحـ : 318 - 319 مكتبة دار الفكروَ تَرْكُ وُصُولِ عَيْنٍ لاَ رِيحٍ وَطَعْمٍ مِنْ ظَاهِرٍ ( قَوْلُهُ لاَ رِيحٍ ) أَيْ وَلَوْ مِنْ نَجَسٍ وَهُوَ غَيْرُ بَعِيدٍ وَصَلَ بِالشَّمِّ إلَى دِمَاغِهِ وَلَوْ رِيحَ الْبُخُورِ ِلأَنَّهُ لَيْسَ عَيْنًا وَيُؤْخَذُ مِنْ هَذَا أَنَّ وُصُولَ الدُّخَانِ الَّذِي فِيهِ رَائِحَةُ الْبُخُورِ أَوْ غَيْرُهُ إلَى جَوْفِهِ لاَ يَضُرُّ وَإِنْ تَعَمَّدَ ذَلِكَ قَالَ شَيْخُنَا وَهُوَ ظَاهِرٌ وَبِهِ أَفْتَى الشَّمْسُ الْبَرْمَاوِيُّ لِمَا تَقَرَّرَ أَنَّ الرَّائِحَةَ لَيْسَتْ عَيْنًا أَيْ عُرْفًا إذِ الْمَدَارُ هُنَا عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ مُلْحَقَةً بِالْعَيْنِ فِي بَابِ اَْلإحْرَامِ أَلاَ تَرَى أَنَّ ظُهُورَ الرِّيحِ وَالطَّعْمِ مُلْحَقٌ بِالْعَيْنِ فِيهِ لاَ هُنَا وَقَدْ عُلِمَ مِنْ ذَلِكَ أَنَّ صُورَةَ الْمَسْأَلَةِ أَنَّهُ
لَمْ يُعْلَمْ انْفِصَالُ عَيْنٍ هُنَا أَيْ بِوَاسِطَةِ الدُّخَانِ اهـ حَلَبِيٌّ 

ibarot yg dalam bughyah 

فَائِدَةٌ : لاَيَضُرُّ وُصُولُ الرِّيحُ بِالشَّمِّ وَكَذَا مِنَ الْفَمِ كَرَائِحَةِ الْبُخُورِ أَوْ غَيْرِهِ إِلَى الْجَوْفِ وَإِنْ تَعَمَّدَهُ ِلأَنَّهُ لَيْسَ عَيْنًا وَخَرَجَ بِهِ مَا فِيهِ عَيْنٌ كَرَائِحَةِ النَّتْنِ يَعْنِي التَّنْبَاكَ لَعَنَ اللهُ مَنْ أَحْدَثَهُ ِلأَنَّهُ مِنَ الْبِدَعِ الْقَبِيحَةِ فَيُفْطِرُ بِهِ وَقَدْ أَفْتَى بِهِ زي بَعْدَ أَنْ أَفْتَى أَوَّلاً بِعَدَمِ الْفِطْرِ قَبْلَ أَن يَّرَاهُ انْتَهَى ع ش . 

>> Ibnu Toha  

Menghirup INHALER tidak batal sekalipun disengaja, karena bukan termasuk AIN tapi adalah rasa dari uap/asap.

ibarot : 

قوله ( ومثله وصول دخان نحو البخور الخ ) أي وإن فتح فاه قصدا لذلك عبارة النهاية بعد كلام ويؤخذ منه أن وصول الدخان الذي فيه رائحة البخور أو غيره إلى الجوف لا يفطر به وإن تعمد فتح فيه لأجل ذلك وهو ظاهر وبه أفتى الشمس البرماوي لما تقرر أنها ليست
عينا 

(HASYIYAH ASY-SYARWANI)

Tambahan :Perbedaan illat antara ROKOK dan INHALERROKOK : 

1. menghisapnya enak

2. merasakan kenyang menurut pengakuan siperokok

3. disamakan dengan minum ciri khusus bahasa urfnya adalah "syurb addukhan" 

4. menghisapnya disengaja 

5. di kategorikan Ain 

INHALER : 

1. menghisapnya tidak enak bagi yg waras, kecuali obat bagi yg merasa sakit 

2. tidak merasakan kenyang 

3. tidak disamakan dengan minum menurut urfnya.

4. tidak dikategorikan Ain. 

5. sekalipun disengaja tapi bukan Ain.

>> Masaji Antoro  

Yup, sepakat... Tidak BATAL.

tapi bila tanpa ada keperluan hukumnya makruh 

فائدة : لا يضر وصول الريح بالشم ، وكذا من الفم كرائحة البخور أو غيره إلى الجوف وإن تعمده لأنه ليس عيناً 

FAEDAH 

Tidak berbahaya sampainya aroma pada penciuman, begitu jugadari bibir seperti araoma kemenyan atau lainnya pada rongga yang tembus pencernaan meskipun disengaja karena ia bukan tergolong ‘ain (benda). 

Bughyah al-Mustarsyidiin 111 

ومكروهاته شم الرياحين...لما يتحلل منه شئ الا لحاجة فان كان له كطباخ ومن يمضغ لغيره كولد صغير وحيوان فلا كراهة 

Dan kemakruhan puasa yaitu diantaranya membaui aroma....karena masuk darinya sesuatu kecuali bila ada keperluan maka tidak makruh seperti juru masak dan orang mengunyahkan makanan untuk orang lainnya seperti anak kecil dan binatang. 

Tanwiir al-Quluub Hal. 231Wallaahu A'laamu Bis Showaab

http://www.piss-ktb.com/2012/08/1748-menghirup-viks-inhaler-apakah.html?m=1

link dokumen :

 https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/614561561901919/
Baca Selengkapnya >>

1003 : NIAT PUASA 1 BULAN PENUH

PERTANYAAN

Mufied Sofia Hd  

Assalamu*alaikum mau tanya kalau mau niat puasa 1bln penuh gimana ya doanya ,

kata guru saya ya biar aman kalau bablas gak sahur tapi Saya Sudah Lupa doanya . jawabannya Saya tunggu .

terimakasih wassalamu*alaikum 

JAWABAN

Aryo Mangku Langit

wa'alaikumsalam 

Warohmatullohi 

WabarokaatuhIni niyat puasa setiap hari:

--------------------------------


نـَوَيْتُ صَوْمَ غـَدٍ عَـنْ ا َدَاءِ فـَرْضِ شـَهْرِ رَمـَضَانَ هـَذِهِ السَّـنـَةِ لِلـّهِ تـَعَالىَ 

Lafadz Latin:


Nawaitu saumagadin an'adai fardi syahri ramadhana hadzihissanati lillahita'ala.Artinya: "Sengaja aku berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu puasa pada bulan Ramadhan bagi tahun ini karena Allah Taala"

-Niyat Puasa Satu Bulan Penuh: 

-------------------------------------- 

نـَوَيْتُ صَوْمَ شـَهْرِ رَمـَضَانَ كله لِلـّهِ تـَعَالىَ 

Nawaitu shouma Syahro romadhona kullihi lillaahi ta'alaaartinya;Sengaja aku berpuasa dibulan romadhon secara keseluruhan karena Alloh ta'alaa

Brojol Gemblung  

Bagaimana kalau begini saja lafazd niatnya : 


نويت صوم جميع شهر رمضان لهذه السنة تقليدا للإمام مالك فرضا لله تعالى

Em Djassiman

la klo niat seperti suntingan statuse kang aryo niku pripun mbah...


Brojol Gemblung  

Boleh2 saja, tapi kalau tidak taqlid pd imam malik maka tidak mencukupi untuk satu bulan full.



untuk lebih jelas silahkan buka link diskusi :

https://www.facebook.com/groups/kasarung/permalink/613722718652470/?comment_id=614554871902588&offset=0&total_comments=24

link dokumen :

 https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/614559305235478/
Baca Selengkapnya >>

1002 : 3 TINGKATAN PUASA

PERTANYAAN

Mahesa Koentara  

Assalamu'alaikum 

dalam bulan puasa di bagi menjadi 3 tingkatan puasa ..

tolong jabarin ya poro sepuh huda..

JAWABAN

Brojol Gemblung

Puasa itu ada tiga tingkatan; 

1. Puasanya Orang Awam 

2. Puasanya Orang Khas  

3. Puasanya Orang Khasnya Orang Khas 

Adapun puasanya orang awam adalah menahan perut dan farj dari melakukan keinginan syahwat.

Adapun puasanya orang khas ialah puasanya orang-orang shalih, yaitu menahan anggota tubuh dari perbuatan dosa yg hanya sempurna dg cara melakukan lima perkara:

Pertama, memejamkan mata dari setiap hal yg hina secara syari'at.

Kedua, menjaga lisan dari ghibah, berbohong, adu-domba, dan sumpah dusta.

Ketiga, menahan telinga dari mendengarkan hal yg dibenci syari'at.

Keempat, menahan seluruh anggota tubuh dari hal-hal yg dibenci syari'at, dan menahan perut dari hal-hal yg masih samar ketika berbuka, karena tidak ada artinya puasa dari makanan yg halal kemudian berbuka dg makanan yg haram; Hal itu sama dg orang yg membangun sebuah istana namun menghancurkan kota

--

Kelima, hendaknya tidak memperbanyak makan ketika berbuka sekira perutnya menjadi sesak dengannya

--

Adapun puasanya orang khasnya orang khas adalah puasanya hati dari kemauan-kemauan yg rendah dan fikiran-fikiran duniawi serta menahan hati dari selain Allah secara keseluruhan,

lantas apabila seorang yg puasa (dalam fase ini-pen) berfikir tentang hal selain Allah maka batallah puasanya; puasa ini tingkatan para Nabi dan al-Shiddiqin,

karena orientasi tingkatan ini adalah menghadap Allah secara keseluruhan dan memalingkan diri dari selain-Nya. 

درة الناصحين في الوعظ والإرشاد ص 12 :

يقال الصوم ثلاث درجات؛ صوم العوام وصوم الخواص وصوم خواص الخواص. أما صوم العوام فكف البطن والفرج عن قضاء الشهوة. أما صوم الخواص فهو صوم الصالحين، وهو كف الجوارح عن الآثام فلا يتم ذلك إلا بمداومة خمسة أشياء ؛ الأول غض البصر عن كل ما يذم شرعا. والثاني حفظ اللسان عن الغيبة والكذب والنميمة واليمين الغموس ـــ والثالث كف الأذن عن إستماع كل مكروه. والرابع كف جميع الأعضاء عن المكاره وكف البطن عن الشبهات في وقت الإفطار، إذ لا معنى للصوم عن الطعام الحلال ثم الإفطار على الحرام، فمثله كمن بنى قصرا وهدم مصرا ـــ والخامس أن لا يستكثر من الحلال وقت الإفطار بحيث يملاء بطنه ـــ وأما صوم خواص الخواص فصوم القلب عن الهمم الدنية والأفكار الدنيوية وكفه عما سوى الله بالكلية، فإذا تفكر هذا الصائم فيما سوى الله يحصل الفطر من صومه وهو رتبة الأنبياء والصديقين، فإن تحقيق هذا المقام الإقبال إلى الله تعالى بالكلية والإنصراف عن غيره. إهــ

link dokumen :

 https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/614556531902422/
Baca Selengkapnya >>

Selasa, 09 Juli 2013

999 : HADITS YANG MENERANGKAN BAHWA TIDURNYA ORANG PUASA ADALAH IBADAH

PERTANYAAN

Mbah Pardan Milanistie

Berangkat Tidurrrr...

Sering dengar kata2

Naumusshoimu 'ibaatun kurang lebih maknanya =tidurnya Orang yang sedang Puasa itu di catat Ibadah...

Sekalian mo nanya nihh..

Kalimat tersebut Hadist atau Maqolah para Ulama' Yaaa....mohon pencerahannya Ibadah dulu ahhh Mancal kemulll


JAWABAN

Ibnu Hasyim Alwi

Niku Hadist Mbah ..

Cuma kedudukannya Marfu' :

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ
(HR. Baihaqi).

Dan Terrangaken Ten "Fatawi Ibnu Jibrin" :

السؤال: أنام كثيرًا في نهار رمضان ولكنني أحرص على أداءالصلاة في وقتها، فهل في هذا السلوك مأخذ ما ؟الاجابـــة : لا بأس بالنوم في نهار رمضان لراحة البدن وللتقوى على قيام الليل ولترك الخوض مع الخائضين فيما فيه مضرة كالغيبة واللهو والباطل وقد ورد في حديث مرفوع نوم الصائم عبادةرواه البيهقي ولكن كثرة النوم تفوت خيرًا كثيرًا فإن الإنسان مطالب بأعمال دنيويةكالحرفة والتكسب والعمل فيطلب الرزق فمتى نام أكثر النهار فإنه خير كثير وكذا يشرع في رمضان الإكثار من الذكر والدعاء وتلاوة القرآن فيندب اغتنام الأوقات الفاضلة وعدم إضاعتها في النوم الكثير ولكن النوم أفضل من اللهو واللعب والقيل والقال والخوض في أعراض الناس فإن ذلك مما ينقص أجر الصيام لحديث ليس الصيام من الطعام والشراب إنما الصيام من اللغو والرفث


Cikong Mesigit

mgkn ini mbah >> رقم الحديث: 3642 (حديث مرفوع)

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ ، أنا عَلِيُّ بْنُ عِيسَى ، نا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْعَلاءِ ، نا سِخْتَوَيْهِ بْنُ مَازِيَارَ ، نا مَعْرُوفُ بْنُ حَسَّانَ ، نا زِيَادٌ الأَعْلَمُ ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى الأَسْلَمِيِّ ، قال : قال رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ " . مَعْرُوفُ بْنُ حَسَّانَ ضَعِيفٌ وَسُلَيْمَانُ بْنُ عَمْرٍو النَّخَعِيُّ أَضْعَفُ مِنْهُ

http://library.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=682&hid=3642&pid=335495


Brojol Gemblung

Dalam kitab Faidh al-Qadir disebutkan bahwa di dalam sanad hadits tersebut ada salah satu perawi yg lemah, yaitu Ma'ruf bin Hisan, dan yg lebih lemah darinya ialah Sulaiman bin 'Umar al-Nukha'i; Orang ini disebut sebagai pendusta oleh al-Hafizd al-'Iraqi. Imam al-Munawi berkata bahwa dalam sanad hadist tersebut ada seorang perawi yg bernama 'Abdul Mulk bin 'Umair yg dimasukkan ke dalam jajaran perawi lemah oleh al-Dzahabi.

Maka dg demikian, bila dinilai dari penilaian yg termaktub dikitab ini maka hadits itu dha'if (lemah).

ﻓﻴﺾ ﺍﻟﻘﺪﻳﺮ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮ - ﺍﻟﻤﻨﺎﻭﻱ - ﺝ - ٦ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٣٧٨ :

9293 - ﻧﻮﻡ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﻋﺒﺎﺩﺓ ﻭﺻﻤﺘﻪ ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ: ﻭﻧﻔﺴﻪ ﺗﺴﺒﻴﺢ ﺃﻱ ﺑﻤﻨﺰﻟﺔ ﺍﻟﺘﺴﺒﻴﺢ ﻭﻋﻤﻠﻪ ﻣﻀﺎﻋﻒ ﻭﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﺑﻌﺸﺮﺓ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻓﻮﻗﻬﺎ ﻭﺩﻋﺎﺅﻩ ﻣﺴﺘﺠﺎﺏ ﻭﺫﻧﺒﻪ ﻣﻐﻔﻮﺭ ﺃﻱ ﺫﻧﻮﺑﻪ ﺍﻟﺼﻐﺎﺋﺮ ﻣﺎ ﺍﺟﺘﻨﺒﺖ ﺍﻟﻜﺒﺎﺋﺮ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻓﻲ ﺧﺒﺮ ﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ ﺍﻟﺨﻤﺲ.

ﻫﺐ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺃﻭﻓﻰ ﺍﻷﺳﻠﻤﻲ ﻭﻗﻀﻴﺔ ﺻﻨﻴﻊ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﺃﻥ ﻣﺨﺮﺟﻪ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﺧﺮﺟﻪ ﻭﺃﻗﺮﻩ، ﻭﺍﻷﻣﺮ ﺑﺨﻼﻓﻪ، ﺑﻞ ﺇﻧﻤﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﻣﻘﺮﻭﻧﺎ ﺑﺒﻴﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﻋﻘﺒﻪ: ﻣﻌﺮﻭﻑ ﺑﻦ ﺣﺴﺎﻥ - ﺃﻱ ﺃﺣﺪ ﺭﺟﺎﻟﻪ - ﺿﻌﻴﻒ، ﻭﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺍﻟﻨﺨﻌﻲ ﺃﺿﻌﻒ ﻣﻨﻪ ﺍﻫ.

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﻌﺮﺍﻗﻲ: ﻓﻴﻪ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺍﻟﻨﺨﻌﻲ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﻜﺬﺍﺑﻴﻦ ﺍﻫ
ﻭﺃﻗﻮﻝ: ﻓﻴﻪ ﺃﻳﻀﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺑﻦ ﻋﻤﻴﺮ ﺃﻭﺭﺩﻩ ﺍﻟﺬﻫﺒﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻀﻌﻔﺎﺀ، ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ: ﻣﻀﻄﺮﺏ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ، ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻣﻌﻴﻦ: ﻣﺨﺘﻠﻂ، ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺣﺎﺗﻢ: ﻟﻴﺲ ﺑﺤﺎﻓﻆ، ﻭﻋﺠﺐ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻛﻴﻒ ﻳﻌﺰﻭ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺇﻟﻰ ﻣﺨﺮﺟﻪ ﻭﻳﺤﺬﻑ ﻣﻦ ﻛﻼﻣﻪ ﻣﺎ ﺃﻋﻠﻪ ﺑﻪ؟ ﻭﺃﻋﺠﺐ ﻣﻨﻪ ﺃﻥ ﻟﻪ ﻃﺮﻳﻘﺎ ﺧﺎﻟﻴﺔ ﻋﻦ ﻛﺬﺍﺏ ﺃﻭﺭﺩﻩ ﺍﻟﺰﻳﻦ ﺍﻟﻌﺮﺍﻗﻲ ﻓﻲ ﺃﻣﺎﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ، ﻓﺄﻫﻤﻞ ﺗﻠﻚ ﻭﺁﺛﺮﻩ ﻫﺬﻩ ﻣﻘﺘﺼﺮﺍ ﻋﻠﻴﻬﺎ



link dokumen :

 https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/614421848582557/
Baca Selengkapnya >>