Rabu, 31 Juli 2013

1086 : HUKUM SIKAT GIGI SAAT PUASA

PERTANYAAN

assalamu'alaikum

bagaimanan hukum menggosok gigi memakai pasta gigi ?

JAWABAN

Afkhani FL Corp

wa'alaikum salam

Syarah Fathul Qarib :

(والسواك مستحب في كل حال) ولا يكره تنزيها (إلا بعد الزوال للصائم) فرضا أو نفلا؛
وتزول الكراهة بغروب الشمس. واختار النووي عدم الكراهة مطلقا.

Siwak / Gosok gigi itu disunnahkan pada semua situasi kecuali dimakruhkan dengan hukum makruh tanzih bagi orang yang sedang berpuasa pada siang hari setelah matahari
zawal baik puasa fardhu atau puasa sunnah dan hilanglah kemakruhannya
apabila matahari sudah terbenam (Maghrib), sedangkan menurut Imam Nawawi
beliau memilih tanpa ada kemakruhan secara mutlak


Ibnu Hasyim Alwi

Telah menjadi kesepakatan atas kebolehan menyikat gigi sebelum masuknya waktu
dzuhur(Qoblaz Zawal), Sedangkan jika di lakukan stelah masuknya waktu
dzuhur(Ba'daz Zawal) maka Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama'
Namun menurut pendapat yang Masyhur di kalangan Ulama' Syafi'iyah Hukumnya Makruh
الاستياك للصائم
اتفق الفقهاء على أنه لا بأس بالاستياك للصائم أول النهار، واختلفوا في الاستياك للصائم بعد الزوال
Al Mausu'ah : 4/139

وأكثر العلماء وهو المختار: والمشهور الكراهة وسواء فيه صوم الفرض والنفل وتبقي الكراهة حتى تغرب الشمس
Al Majmu’, 1/275

* Jika busa dari pasta gigi tersebut sampai tertelan maka puasanya batal.





Kakek Jhøsy

Siwak dengan kayu basah dan yang kering bagi orang Berpuasa

Imam Ibnu Hajar berkata dalam Al Fath
وَأَشَارَ بِهَذِهِ التَّرْجَمَةِ إِلَى الرَّدِّ عَلَى مَنْ كَرِهَ لِلصَّائِمِ الِاسْتِيَاكَ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ كَالْمَالِكِيَّةِ وَالشَّعْبِيِّ ، وَ
قَدْ تَقَدَّمَ قَبْلُ بِبَابِ قِيَاسِ اِبْنِ سِيرِينَ السِّوَاكَ الرَّطْبَ عَلَى الْمَاء الَّذِي يُتَمَضْمَضُ بِهِ
Keterangan ini mengisyaratkan bantahan atas pihak yang memakruhkan bersiwak bagi orang yang berpuasa, yakni bersiwak dengan kayu basah, seperti kalangan Malikiyah dan Asy Sya'bi' dan telah dikemukakan sebelumnya tentang qiyas-nya Ibnu Sirin,bahwa bersiwak dengan kayu basah itu seperti air yang dengannya kita berkumur-kumur
(Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari juz 4/158 cet Darul Fikr)

Dijelaskan juga dalam Tuhfah al Ahwadzi disebutkan:
( إِلَّا أَنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ كَرِهُوا السِّوَاكَ لِلصَّائِمِ بِالْعُودِ الرَّطْبِ )
كَالْمَالِكِيَّةِ وَالشَّعْبِيِّ فَإِنَّهُمْ كَرِهُوا لِلصَّائِمِ الِاسْتِيَاكَ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ لِمَا فِيهِ مِنْ الطَّعْمِ ، وَأَجَابَ عَنْ ذَلِكَ اِبْنُ سِيرِينَ جَوَابًا حَسَنًا ، قَالَ الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ : قَالَ اِبْنُ سِيرِينَ : لَا بَأْسَ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ ، قِيلَ لَهُ طَعْمٌ ، قَالَ وَالْمَاءُ لَهُ طَعْمٌ وَأَنْتَ تُمَضْمِضُ بِهِ اِنْتَهَى . وَقَالَ اِبْنُ عُمَرَ : لَا بَأْسَ أَنْ يَسْتَاكَ الصَّائِمُ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ وَالْيَابِسِ رَوَاهُ اِبْنُ أَبِي شَيْبَةَ ، قُلْت هَذَا هُوَ الْأَحَقُّ

Sesungguhnya sebagian ahli ilmu ada yang memakruhkan bersiwak bagi orang yang berpuasa dengan menggunakan dahan kayu yang basah:
Seperti kalangan Malikiyah dan Imam Asy Sya'bi, mereka memakruhkan orang berpuasa bersiwak dengan dahan kayu basah karena itu bagian dari makanan.
Ibnu Sirin telah menyanggah itu dengan jawaban yang baik. Al Bukhari berkata dalam Shahihnya:
Berkata Ibnu Sirin: Tidak mengapa bersiwak dengan kayu basah, dikatakan bahwa itu adalah makanan Dia (Ibnu Sirin) menjawab:
Air baginya juga makanan, dan engkau berkumur kumur dengannya (air)Selesai. Ibnu Umar berkata:
Tidak mengapa bersiwak bagi yang berpuasa baik dengan kayu basah atau kering,
diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Aku (pengarang Tuhfah Al Ahwadzi) berkata: Inilah yang lebih benar(Syaikh Abdurrahman al Mubarakfuri)
(Tuhfah Al Ahwadzi juz III/419. Al Maktabah As Salafiyah)

Dengan demikian tidak mengapa bahkan sunah kita bersiwak ketika berpuasa, baik, pagi, siang,atau sore secara mutlak sebagaimana yang dikatakan dalam Tuhfah al Ahwadzi.

وَبِجَمِيعِ الْأَحَادِيثِ الَّتِي رُوِيَتْ فِي مَعْنَاهُ وَفِي فَضْلِ السِّوَاكِ فَإِنَّهَا بِإِطْلَاقِهَا تَقْتَضِي إِبَاحَةَ السِّوَاكِ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ وَهُوَ الْأَصَحُّ وَالْأَقْوَى
Dan dengan semua hadits-hadits yang diriwayatkan tentang ini dan keutamaan bersiwak, bahwa keutamaannya adalah mutlak, dan kebolehannya itu pada setiap waktu, setiap keadaan, dan itu lebih shahih dan lebih kuat,

Apakah pasta gigi, dihukumi sama dengan kayu basah, karena sama-sama mengandung air dan rasa.

Dan Imam An Nawawi mengatakan bahwa dengan alat apa pun selama tujuan membersihkan

وَهُوَ كُلّ آلَة يُتَطَهَّر بِهَا شُبِّهَ السِّوَاك بِهَا ؛ لِأَنَّهُ يُنَظِّف الْفَم ، وَالطَّهَارَة النَّظَافَة ذَكَرَهُ النَّوَوِي
Yaitu alat apa saja yang bisa mensucikan dengannya maka dia menyerupai siwak, karena dia bisa membersihkan mulut, bersuci dan membersihkan, demikian kata An Nawawi
(Imam Abul Hasan Muhammad bin Abdil Hadi As Sindi, Syarh An Nasa'i Juz 1 Hal. 7 No. 5. Mawqi Al Islam)


 link dokumen :

 https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/624251624266246/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar