Jumat, 12 Juli 2013

1013 : HUKUM MENELAN LUDAH SAAT PUASA

PERTANYAAN
Tamlikho A AL Kafi

assalamualaikum. . . .

mau tanya,
gimana hukum nya, ketika puasa, nelan ludah, . . .
matur thank you


JAWABAN

Brojol Gemblung

Wa'alaikumussalam

Abdull ah Afif >>>Ta' birnya Fat-hul Mu'in sbb:

ﻻﻳﻔﻄﺮ ﺑﺮﻳﻖ ﻃﺎﻫﺮ ﺻﺮﻑ ﺃﻱ ﺧﺎﻟﺺ ﺍﺑﺘﻠﻌﻪ ﻣﻦ ﻣﻌﺪﻧﻪ ﻭﻫﻮ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻔﻢ

laa yufthiru biroiqi n thoohi rin shirfin ai khooli shin ibtala' ahuu min ma' danihii wahu wa jamii' ul fami

Poso ora batal sbab ngeleg idu kang suci tur murni kang ngeleg saking sumbe re idu yoiku sekabe hane ruangan cangkem

Abdull ah Afif >> Namun jika air ludah tersebut sengaja dikumpulkan dalam mulut sehingga menja di banyak lalu ditelan, maka ada dua pendapat. Ada yang mengatakan tidak memb atalkan puasa, dan ada pula yang mengatakan membatalkan puasa. Berikut ta'bir dari Kitab Al Muhadzdzab:

ﻭﺇﻥ ﺟﻤﻊ ﻓﻲ ﻓﻤﻪ ﺭﻳﻘﺎ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﻭﺍﺑﺘﻠﻌﻪ ﻓﻔﻴﻪ ﻭﺟﻬﺎﻥ : ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ : ﻳﺒﻄﻞ ﺻﻮﻣﻪ ، ﻷﻧﻪ ﺍﺑﺘﻠﻊ ﻣﺎ ﻳﻤﻜﻨﻪ ﺍﻻﺣﺘﺮﺍﺯ ﻣﻨﻪ ﻣﻤﺎ ﻻ ﺣﺎﺟﺔ ﺑﻪ ﺇﻟﻴﻪ ، ﻓﺄﺷﺒﻪ ﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻗﻠﻊ ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﺃﺳﻨﺎﻧﻪ ﻭﺍﺑﺘﻠﻌﻪ . ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﻻ ﻳﺒﻄﻞ ﻷﻧﻪ ﻭﺻﻞ ﺇﻟﻰ ﺟﻮﻓﻪ ﻣﻦ ﻣﻌﺪﺗﻪ ﻓﺄﺷﺒﻪ ﻣﺎ ﻳﺒﺘﻠﻌﻪ ﻣﻦ ﺭﻳﻘﻪ ﻋﻠﻰ ﻋﺎﺩﺗﻪ

WA IN JAMA'A FII FAMIHI I RAIQA N KATSII RAN FA IBTALA 'AHUU FAFIIHI WAJHA ANI AHADU HUMAA : YABTH ULU SHAUM UHUU . .. WATST SAANII : LAA YABTH ULU

Jika seseorang (yang berpuasa) mengumpulkan air ludah yang banyak dalam mulutnya lalu menelannya, maka ada dua pendapat: Pertama: Batal puasanya Kedua: Tidak batal.

Abdullah Afif >> Imam Nawawi dalam Syarah nya mengomentari sbb:

ﺃﺻﺤﻬﻤﺎ : ﻻ ﻳﻔﻄﺮ ، ﻭﻟﻮ ﺍﺟﺘﻤﻊ ﺭﻳﻖ ﻛﺜﻴﺮ ﺑﻐﻴﺮ ﻗﺼﺪ ﺑﺄﻥ ﻛﺜﺮ ﻛﻼﻣﻪ ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﺑﻐﻴﺮ ﻗﺼﺪ ﻓﺎﺑﺘﻠﻌﻪ ﻟﻢ ﻳﻔﻄﺮ ﺑﻼ ﺧﻼﻑ

ASHAH HUHU MAA LAA YUFTHI RU WA LAU IJTAMA 'A RAIQU N KATSII RUN BIGHAI RI QASHD IN BI AN KATSU RA KALAA MUHU U AU GHAIRI DZAALI KA BIGHAI RI QASHD IN FA IBTALA 'AHUU LAM YUFTHI R BILAA KHILAA FIN

Pendapat yang ashah (paling shahih ) tidak membatalkan puasa. Jika ludah banyak terkumpul tanpa disengaja, misalnya banyak berbicara atau yang lainnya dengan tanpa sengaja kemudian menelannya maka tidak membatalkan puasa tanpa ada perbedaan. Sumber: Al Majmuu', Syarah al Muhadzdzab juz VI halaman 327
Wallaahu A'lam

Sumber: http://www.piss-ktb.com/2012/02/332-puasa-menelan-ludah-sewaktu.html?m=1

Lengkapnya referensi dari Kitab Mu'in sebagai berikut:

ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ - ﺍﻟﻤﻠﻴﺒﺎﺭﻱ ﺍﻟﻬﻨﺪﻱ - ﺝ - ٢ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٢٦١ :

ﻭﻻ ﻳﻔﻄﺮ ﺑﺮﻳﻖ ﻃﺎﻫﺮ ﺻﺮﻑ ﺃﻱ ﺧﺎﻟﺺ ﺍﺑﺘﻠﻌﻪ ﻣﻦ ﻣﻌﺪﻧﻪ ﻭﻫﻮ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻔﻢ، ﻭﻟﻮ ﺑﻌﺪ ﺟﻤﻌﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺻﺢ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﻨﺤﻮ ﻣﺼﻄﻜﻰ. ﺃﻣﺎ ﻟﻮ ﺍﺑﺘﻠﻊ ﺭﻳﻘﺎ ﺍﺟﺘﻤﻊ ﺑﻼ ﻓﻌﻞ، ﻓﻼ ﻳﻀﺮ ﻗﻄﻌﺎ.

Dan (puasa) tidak batal sebab menelan ludah yg suci nan bersih dari sumbernya; yaitu semua ruang mulut, meskipun hal demikian dilakukan setelah mengumpulkan ludah, menurut qaul ashah, dan walaupun upaya pengumpulan ludah tersebut dg cara menyedot. Sedangkan menelan ludah yg terkumpul tanpa adanya tindakan (upaya pengumpulan) maka dapat dipastikan hal itu tidak menjadi masalah.

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ - ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ - ﺝ ٢ - ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٢٦١ :

ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻻ ﻳﻔﻄﺮ ﺑﺮﻳﻖ ﺇﻟﺦ(ﺃﻱ ﻟﻌﺴﺮ ﺍﻟﺘﺤﺮﺯ ﻋﻨﻪ. ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻟﺮﻳﻖ ﺭﻳﻘﻪ، ﺃﻣﺎ ﺭﻳﻖ ﻏﻴﺮﻩ ﻓﻴﻔﻄﺮ ﺑﻪ. ﻭﻣﺎ ﺻﺢ ﺃﻧﻪ ﺹ ﻛﺎﻥ ﻳﻤﺺ ﻟﺴﺎﻥ ﺍﻟﺴﻴﺪﺓ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ ﻓﻴﺤﺘﻤﻞ ﺃﻧﻪ ﻳﻤﺠﻪ. ﻗﻮﻟﻪ: ﻃﺎﻫﺮ ﺇﻟﺦ ﺫﻛﺮ ﺛﻼﺛﺔ ﻗﻴﻮﺩ: ﻛﻮﻧﻪ ﻃﺎﻫﺮﺍ، ﻭﻛﻮﻧﻪ ﺻﺮﻓﺎ، ﻭﻛﻮﻧﻪ ﻣﻦ ﻣﻌﺪﻧﻪ. ﻭﺳﻴﺬﻛﺮ ﻣﺤﺘﺮﺯﺍﺗﻬﺎ. ﻗﻮﻟﻪ: ﺍﺑﺘﻠﻌﻪ ﺑﻴﺎﻥ ﻟﻤﺘﻌﻠﻖ ﺍﻟﺠﺎﺭ ﻭﺍﻟﻤﺠﺮﻭﺭ ﺑﻌﺪﻩ. ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻫﻮ ﺃﻱ ﻣﻌﺪﻧﻪ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻔﻢ، ﻭﻗﺪ ﺗﻘﺪﻡ ﺃﻧﻬﻢ ﺟﻌﻠﻮﺍ ﺍﻟﻔﻢ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻠﺮﻳﻖ ﻭﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻭﺍﻟﻐﺴﻞ ﺑﺎﻃﻨﺎ. ﻭﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻹﺯﺍﻟﺔ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻣﻨﻪ ﻭﺩﺧﻮﻝ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺮﻳﻖ ﻣﻨﻪ، ﻭﺧﺮﻭﺝ ﺷﺊ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺎﻃﻦ ﺇﻟﻴﻪ، ﻇﺎﻫﺮﺍ. ﻓﻼ ﺗﻐﻔﻞ. ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﻟﻮ ﺑﻌﺪ ﺟﻤﻌﻪ ﻏﺎﻳﺔ ﻓﻲ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﻔﻄﺮ ﺑﺎﺑﺘﻼﻉ ﺍﻟﺮﻳﻖ. ﺃﻱ ﻻ ﻳﻔﻄﺮ ﻭﻟﻮ ﺍﺑﺘﻌﻠﻪ ﺑﻌﺪ ﺟﻤﻌﻪ ﻓﻲ ﻓﻤﻪ، ﻭﻫﻲ ﻟﻠﺮﺩ - ﻛﻤﺎ ﻳﻔﻴﺪﻩ ﻗﻮﻟﻪ ﺑﻌﺪ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺻﺢ. ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﻨﺤﻮ ﻣﺼﻄﻜﻲ ﻏﺎﻳﺔ ﻟﻠﻐﺎﻳﺔ، ﺃﻱ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺟﻤﻌﻪ ﺣﺎﺻﻼ، ﺑﻮﺍﺳﻄﺔ ﻣﻀﻎ ﻧﺤﻮ ﻣﺼﻄﻜﻲ ﻛﻠﺒﺎﻥ. ﻗﻮﻟﻪ: ﺃﻣﺎ ﻟﻮ ﺍﺑﺘﻠﻊ ﻣﻘﺎﺑﻞ ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻟﻮ ﺑﻌﺪ ﺟﻤﻌﻪ، ﺇﺫ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﻣﻨﻪ ﻓﻌﻞ ﺍﻟﻔﺎﻋﻞ .ﻗﻮﻟﻪ: ﻓﻼ ﻳﻀﺮ ﻗﻄﻌﺎ ﺃﻱ ﺑﻼ ﺧﻼﻑ .



 ﻋﻤﺪﺓ ﺍﻟﻘﺎﺭﻱ - ﺍﻟﻌﻴﻨﻲ - ﺝ - ١١ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٧ :

ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺒﺪﺍﺋﻊ: ﻟﻮ ﺍﺑﺘﻠﻊ ﺭﻳﻖ ﺣﺒﻴﺒﻪ ﺃﻭ ﺻﺪﻳﻘﻪ، ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﻠﻮﺍﻧﻲ: ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺓ ﻷﻧﻪ ﻻ ﻳﻌﺎﻓﻪ ﺑﻞ ﻳﻠﺘﺬ ﺑﻪ، ﻭﻗﻴﻞ: ﻻ ﻛﻔﺎﺭﺓ ﻓﻴﻪ، ﻭﻟﻮ ﺟﻤﻊ ﺭﻳﻘﻪ ﻓﻲ ﻓﻴﻪ ﺛﻢ ﺍﺑﺘﻠﻌﻪ ﻟﻢ ﻳﻔﻄﺮﻩ، ﻭﻳﻜﺮﻩ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﻟﻤﺮﻏﻴﻨﺎﻧﻲ.



Dalam kitab al-Bada`i' diterangkan: Andai seseorang menelan ludah kekasihnya atau temannya, al-Halwani berkata: Wajib atasnya membayar kafarot karena hal itu pekerjaan yg tidak mendapat dispensasi hukum, tapi bahkan hal itu sesuatu yg nikmat baginya. Dan dikatakan juga hal itu tidak mengharuskan membayar kafarot. Dan andai dia mengumpulkan ludahnya dimulutnya lalu dia menelannya maka hal demikian tidak membatalkan puasa dan hukumnya makruh, keterangan ini disampaikan oleh al-Marghinani

link dokumen :

https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/615362861821789/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar