Kamis, 25 Oktober 2012

367 : Sebaiknya janganlah memaknai bersemayam dengan berada atau bertempat

Sebaiknya janganlah memaknai bersemayam dengan berada atau bertempat


Pada hakikatnya mereka bukan bermazhab Hambali sebagaimana yang telah dijelaskan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/28/semula-bermazhab-hambali/

Mereka lebih bersandar kepada pemahaman (ijtihad) mereka sendiri dengan muthola’ah (menelaah) kitab secara otodidak (belajar sendiri) sehingga mereka menolak makna majaz (kiasan atau makna tersirat) sebagaimana yang disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/06/23/makna-majaz/



Terkait ayat-ayat sifat dan mutasyabihat , mereka menolak mentafwidh makna dan kaifiyatnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menolak mentakwilkan dengan takwilan yang layak bagi keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini telah disampaikan pula dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/06/13/mereka-melarang-takwil/

Mereka menolak riwayat pentakwilan Imam Ahmad bin Hanbal bahkan mereka menempuh cara-cara yang licik untuk mencari pembenaran , selengkapnya disampaikan dalam tulisan http://ibnu-alkatibiy.blogspot.com/2012/10/penipuan-dan-kecurangan-wahabi-salafi.html

Mereka adalah korban hasutan atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi sehingga mereka "kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah" berdasarkan pemahaman mereka sendiri secara otodidak (belajar sendiri) dengan bersandarkan muthola'ah (menelaah) kitab di balik perpustakaan dan memaknai secara dzahir/harfiah/tertulis/tersurat atau memahaminya dengan metodologi "terjemahkan saja" dari sudut arti bahasa (lughot) dan istilah (terminologi) saja. Sebagaimana kompetensi kaum Zionis Yahudi dalam memahami Al Qur'an dan As sunnah untuk keperluan menghasut atau ghazwul fikri (perang pemahaman) sehingga menimbulkan perselisihan pada kaum muslim karena perbedaan pemahaman.

Ulama keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Habib Munzir Al Musawa menyampaikan “Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya (dengan akal pikirannya sendiri), maka oleh sebab itu jadi tidak boleh baca dari buku, tentunya boleh baca buku apa saja boleh, namun kita harus mempunyai satu guru yang kita bisa tanya jika kita mendapatkan masalah

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)

Tentulah kita mempergunakan akal untuk memahami Al Qur'an namun ada dua jenis cara mempergunakan akal yakni

1. Akal mendahului firmanNya
2. Akal mengikuti firmanNya

Akal mendahului firmanNya ditimbulkan karena mengikuti hawa nafsu. FirmanNya dipergunakan bukan untuk berdalil tetapi berdalih. Sebagaimana contohnya  orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim an Najdi atau khawarij yang mempergunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir lantas mereka terapkan untuk menyerang kaum muslim

Abdullah bin Umar ra dalam mensifati kelompok khawarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman”.[Lihat: kitab Sohih Bukhari jilid:4 halaman:197]

Akal mengikuti firmanNya adalah akal pikiran yang ditundukkan kepada akal qalbu dan mengikuti tata cara dalam memahami Al Qur’an.  Untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah, tidak cukup dengan arti bahasa. Diperlukan kompetensi menguasai alat bahasa seperti Nahwu, Shorof, Balaghoh (ma’ani, bayan dan badi’) dan lain lain.  Apalagi jika ingin menetapkan hukum-hukum syara’ bedasarkan dalil syar’i diperlukan penguasaan ilmu ushul fiqih. Penjelasan tentang hal ini telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/10/07/tak-cukup-arti-bahasa/

Oleh karena memahami dengan makna dzahir/harfiah/tertulis/tersurat atau memahami dengan metodologi “terjemahkan saja”, ulama Ibnu Taimiyyah yang menjadi teladan bagi ajaran ulama Muhammad bin Abdul Wahhab (ajaran Wahabi) maka Ibnu Taimiyyah terjerumus kekufuran dalam i’tiqod yang mengakibatkan beliau diadili oleh para qodhi dan para ulama ahli fiqih dari empat madzhab dan diputuskan hukuman penjara agar ulama Ibnu Taimiyyah tidak menyebarluaskan kesalahapahamannya sehingga beliau wafat di penjara sebagaimana dapat diketahui dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/04/13/ke-langit-dunia atau uraian dalam tulisan pada http://ibnu-alkatibiy.blogspot.com/2011/12/kisah-taubatnya-ibnu-taimiyah-di-tangan.html

Mereka boleh jadi mengikuti pola pemahaman Fir’aun bahwa setiap yang ada pasti punya tempat sebagaimana yang telah disampaikan dalam tuisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/09/14/terhasut-aqidah-firaun/

Contohnya silahkan simpulkan dari tulisan pada http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/3351-di-manakah-allah-8.html

“arrahmaanu ‘alaal ‘arsyi istawaa” dan biasanya diterjemahkan dengan “Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy” (QS Thaha [20]: 5 )

Para ahli bahasa di negara kita telah sepakat bahwa terjemahan istawa adalah bersemayam

Bersemayam mempunyai dua makna yakni makna dzahir dan makna majaz

Makna dzahir/harfiah/tertulis/tersurat dari bersemayam menurut kamus bahasa Indonesia adalah

1. duduk; Pangeran bersemayam di kursi kerajaan
2. tinggal; berkediaman, bertempat; Presiden bersemayam di Istana Negara

Sedangkan makna tersirat atau makna majaz (makna kiasan) dari bersemayam adalah terkait dengan hati, terpendam dalam hati, tersimpan (kata kiasan); Sudah lama dendam itu bersemayam di hatinya atau cinta bersemayam di hatinya.

Para ulama terdahulu yang sholeh telah memberikan batasan kepada kita untuk tidak memahami ayat mutasyabihat tentang sifat dengan makna dzahir.

Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir (kufur dalam i’tiqod) secara pasti.

Bahkan Imam Sayyidina Ali ra mengatakan bahwa mereka yang mensifati Allah ta’ala dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan adalah mereka yang mengingkari Allah Azza wa Jalla.

Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir”. Seseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”
Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.”

Dalam kitab ilmu tauhid berjudul “Hasyiyah ad-Dasuqi ‘ala Ummil Barahin” karya Syaikh Al-Akhthal dapat kita ketahui bahwa

- Barangsiapa mengi’tiqadkan (meyakinkan) bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai tangan (jisim) sebagaimana tangan makhluk (jisim-jisim lainnya), maka orang tersebut hukumnya “Kafir (orang yang kufur dalam i’tiqod)

- Barangsiapa mengi’tiqadkan (meyakinkan) bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai tangan (jisim) namun tidak serupa dengan tangan makhluk (jisim-jisim lainnya), maka orang tersebut hukumnya ‘Aashin atau orang yang telah berbuat durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

- I’tiqad yang benar adalah i’tiqad yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala itu bukanlah seperti jisim (bentuk suatu makhluk) dan bukan pula berupa sifat. Tidak ada yang dapat mengetahui Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali Dia

Sedangkan tentang 'Arsy dijelaskan

Imam Sayyidina Ali ra berkata, “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi DzatNya

Imam Sayyidina Ali ra juga mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana

Imam Asy Syafi’i ~rahimahullah ketika ditanya terkait firman Allah QS. Thaha: 5 (ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa), Beliau berkata “Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan

Dalam kitab al-Washiyyah, Al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

وَنُقِرّ بِأنّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى مِنْ غَيْرِ أنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ إليْهِ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ، وَهُوَ حَافِظُ العَرْشِ وَغَيْرِ العَرْشِ مِنْ غَبْرِ احْتِيَاجٍ، فَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا لَمَا قَدَرَ عَلَى إيْجَادِ العَالَمِ وَتَدْبِيْرِهِ كَالْمَخْلُوقِيْنَ، وَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا إلَى الجُلُوْسِ وَالقَرَارِ فَقَبْلَ خَلْقِ العَرْشِ أيْنَ كَانَ الله، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوّا كَبِيْرًا.

Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan dalam pengertian bahwa Dia bertempat di arsy. Allah yang memelihara arsy dan memelihara selain arsy, maka Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-makhluk-Nya tersebut. Karena jika Allah membutuhkan kapada makhluk-Nya maka berarti Dia tidak mampu untuk menciptakan alam ini dan mengaturnya. Dan jika Dia tidak mampu atau lemah maka berarti sama dengan makhluk-Nya sendiri. Dengan demikian jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia? (Artinya, jika sebelum menciptakan arsy Dia tanpa tempat, dan setelah menciptakan arsy Dia berada di atasnya, berarti Dia berubah, sementara perubahan adalah tanda makhluk). Allah maha suci dari pada itu semua dengan kesucian yang agung

Jadi istawaa atau bersemayam sebaiknya janganlah diartikan dengan berada atau bertempat namun bersemayam dalam makna majaz atau makna kiasan yang terkait dengan hati

Allah ta’ala berfirman dalam hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu ’Umar r.a.: “Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan mampu menampung Aku. Hanya hati orang beriman yang sanggup menerimanya.

Contoh penggunaan kata bersemayam yang tidak dapat diartikan berada atau bertempat seperti perkataan Bung Karno pada tanggal 23 Oktober 1946

"Orang tidak bisa mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuk si miskin"

Apa yang disampaikan oleh bung Karno serupa dengan contoh riwayat yang termuat pada Syarah Shahih Muslim, Jilid. 17, No.171 ketika menjelaskan tentang orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah at Tamimi an Najdi atau khawarij

****** awal kutipan ******
"Dengan sedikit keraguan, Khalid bin Walīd bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, orang ini memiliki semua bekas dari ibadah-ibadah sunnahnya: matanya merah karena banyak menangis, wajahnya memiliki dua garis di atas pipinya bekas airmata yang selalu mengalir, kakinya bengkak karena lama berdiri sepanjang malam (tahajjud) dan janggut mereka pun lebat”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab : camkan makna ayat ini : qul in’kuntum tuhib’būnallāh fattabi’unī – Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Khalid bin Walid bertanya, “Bagaimana caranya ya Rasulullah ? ”

Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Jadilah orang yang ramah seperti aku, bersikaplah penuh kasih, cintai orang-orang miskin dan papa, bersikaplah lemah-lembut, penuh perhatian dan cintai saudara-saudaramu dan jadilah pelindung bagi mereka.”
***** akhir kutipan *****

Jika yang dimaksud dengan "Allah ta'ala bersemyamam di atas Arsy" dalam arti kebesaran status atau sejenisnya, maka ini adalah benar, dan semua muslim mesti percaya hal itu. Ini adalah arti yang paling indah yang bisa mengerti dari pernyataan ini, dan itu bagaimana yang harus dipahami, karena Allah memiliki asma yang paling indah.

Namun, tidak benar menyatakan bahwa "Allah ta'ala bersemyamam di atas Arsy" bukti menunjukkan Allah berada (bertempat) di atas Arsy dalam arti lokasi dan arah, karena Allah ta'ala mengatakan kepada kita bahwa Dia tidak menyerupai apa pun, dan karena di atas dengan arti lokasi dan arah bukanlah arti yang paling indah dari lafad itu, dan jika di katakan di atas, maka pasti ada sesuatu di bawahnya, maka tidak benar di katakan di atas tapi terpisah dengan ciptaanNya, atau mungkin ada maksud lain dari kata terpisah ?

Jika terpisah, maka apakah ada jarak, apakah jarak terbatas atau tidak terbatas, dan itu berarti ada ruang lagi untuk Allah ta'ala, terus apakah ruang itu qodim: tanpa permulaan [tidak di cipta], atau ada permulaan ?

Jika tidak ada permulaan berarti ada selain Allah ta'ala yang qodim, dan jika ada permulaan [di cipta], maka artinya tidak terpisah dengan ciptaan...!

Jika Allah ta'ala berada di suatu tempat, maka Dia akan memiliki batas berdekatan dengan tempat [Arsy], dan dengan batas ini akan menjadi adanya bentuk tertentu, dan seperti setiap bentuk itu perlu ditetapkan dan di adakan, yaitu diciptakan oleh pencipta, sama seperti semua bentuk lainnya, maka dengan Allah ta'ala berada di suatu tempat berarti bahwa Allah ta'ala akan membutuhkan pencipta, dan berarti Dia seperti ciptaan. Itulah mengapa salaf mengatakan bahwa sifat Allah itu bila kaif: tanpa bagaimana, yaitu, tanpa bentuk. Ini sebenanrnya sudah jelas.

Wassalam



Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar