Senin, 04 Juni 2012

210 : Kisah Isro Mi’roj

Ada ribuan kitab, buku, situs dan blog yang mengisahkan peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW diantaranya dapat kita kutip dari situs Majelis Ta'lim Dzikrullah Maula 'Aidid (majlisdzikrullahpekojan.org | Kisah Isro' Mi'roj Nabi Muhammad Saw | Selasa, 13 Juli 2010 01:14).


Dalam kisah diatas yang menjadi bahan renungan bagi kita adalah mengapa Nabi Muhammad SAW 'dioperasi' hatinya kemudian 'diisi' iman, hikmah, ilmu, yakin, dan sabar ? Padahal saat itu Nabi Muhammad SAW telah menjadi nabi memasuki tahun ke-12 tentunya mustahil dalam hati beliau ada sifat tercela dan belum berisi iman, hikmah, ilmu, yakin dan sabar. Bila hati beliau itu kotor tentunya tidak akan bisa menerima wahyu dari Allah SWT. Apakah dalam hati beliau itu 'kosong' dari iman, hikmah, ilmu, yakin dan sabar sehingga perlu 'dioperasi' dan 'diisi' oleh malaikat Jibril a.s ?

Dalam kisah diatas dijelaskan beliau menerima kewajiban 50 shalat kemudian atas saran Nabi Musa a.s sehingga berkali-kali Nabi Muhammad SAW 'naik-turun' untuk usul 'keringanan' shalat kepada Allah SWT. Mungkinkah hal ini dilakukan oleh beliau ? Nabi Muhammad SAW itu berbudi pekerti yang agung dan sami'na wa atho'na atau 'aku dengar dan aku taat'. Walau misalnya kisah ini tercantum dalam kitab hadits shahih Bukhari dan Muslim, namun bila isinya tidak sesuai dan bertentangan dengan ayat Al Quran tentunya kita akan menolak hadits tersebut.

Kesimpulan lainnya dari kisah diatas adalah pada saat peristiwa Isra' Mi'raj itulah turunnya perintah shalat lima waktu. Berarti sebelum Isra' Mi'raj, Nabi Muhammad SAW dan umatnya belum melaksanakan shalat lima waktu karena belum ada perintah dari Allah SWT. Benarkah fakta ini ?

Shalat lima waktu adalah tiangnya agama Islam. Sebenarnya di tahun pertama kenabian sudah ada perintah shalat wajib yaitu shalat Lail dan shalat lima waktu. Shalat lima waktu saat itu terdiri atas shalat Isya 2 rakaat, Subuh 2 rakaat, Lohor 2 rakaat, Ashar 2 rakaat dan Maghrib 3 rakaat. Kemudian pada waktu Isra' Mi'raj itu Nabi Muhammad SAW diberi ketetapan shalat lima waktu, bukan diberi kewajiban shalat lima waktu. Ketetapan shalat lima waktu adalah wajib, tidak bakal dirubah dan tidak bakal diganti untuk selama-lamanya. Sedangkan hukum shalat Lail itu dirubah yang awalnya merupakan shalat wajib kemudian dirubah menjadi shalat sunat.

Pada tahun 1 hijrah ada perubahan jumlah rakaat shalat lima waktu. Sebelum hijrah jumlah rakaatnya ada 11 rakaat yaitu shalat Isya 2 rakaat, Subuh 2 rakaat, Dhuhur 2 rakaat, Ashar 2 rakaat dan Maghrib 3 rakaat. Kemudian di tahun 1 hijrah bagi orang yang tidak musafir rincian jumlah rakaatnya menjadi shalat Isya 4 rakaat, Subuh 2 Rakaat, Dhuhur 4 rakaat, Ashar 4 rakaat dan Maghrib 3 rakaat; sedangkan bagi orang yang musafir kewajiban shalat lima waktu kembali seperti sebelum hijrah yaitu shalat Isya 2 rakaat, Subuh 2 rakaat, Dhuhur 2 rakaat, Ashar 2 rakaat dan Maghrib 3 rakaat.

Dalam Al Quran surat Al Muzzammil yang turun pada tahun pertama kenabian menjadi bukti bahwa shalat lima waktu telah diperintahkan kepada Rasulullah SAW dan umat Islam jauh sebelum peristiwa Isra' Mi'raj. Disamping itu dalam Kitab Jamiush Shaghir jilid I bab huruf Alif halaman 195, bersabda Rasulullah SAW : "Awalnya sesuatu yang difardhukan oleh Allah Ta'ala atas umatku ialah shalat lima (waktu) dan awalnya sesuatu yang dinaikkan dari amal mereka adalah shalat lima (waktu) dan awalnya sesuatu yang ditanyakan ialah tentang shalat lima (waktu)".

Namun perbedaan paham dalam masalah ini hendaknya tidak menjadikan pertentangan yang tajam diantara umat Islam. Perbedaan paham adalah hal yang wajar. Semua hal hendaknya dikaji, ditelaah dan dicermati dengan lebih teliti sebelum memutuskan menolak atau menerima pendapat seperti ini. Bagaimana pendapat Anda ?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar