Rabu, 11 Juli 2012

251 : DEFINISI UJUB

PERTANYAAN


MzU' Alwaysinmyheart


Ujub

mohon penjabarannya nuwun ^_^



JAWABAN



Aji Kelana Jagat


Ujub (sombong) bagaimana Bila di puji mengandung Mashlahat....


MzU' Alwaysinmyheart


tolong contohnya kang Aji Kelana Jagat...:D



Aji Kelana Jagat


maaf Mbak Mzu...
pujian yg berlebihan,menambahi sifat sifat,atau memuji orang yg dikhawatirkan dia akan ujub ketika dipuji,sedang orang yg tdk dikhawatirkan akan hal itu krn sifat taqwanya,kuat akal dan ma'rifatnya maka tdk ada larangan untuk memujinya ketika tdk berlebihan bahkan pujian bisa menjadi sunnah jika menghasilkan maslahat seperti bertambahnya semangat melakukan kebaikan,konsisten melakukan kebajikan,dan agar ia ditiru"~fawaidul mukhtarah 348.
Syaikh Ahmad Rifa’I menukil dari pendapat Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulum al-Diin, Jilid III halaman 390-391, yaitu:

  وَحَقِيْقَةُ الْعُجْبِ تَكَبُّرٌ يَحْصُلُ فِى الْبَاطِنِ بِتَحَيُّلِ كَمَالٍ مِنْ عِلْمٍ وَعَمَلٍ , فَإِنْ كَانَ خَائِفًا عَلَى زَوَالِهِ فَهُوَ غَيْرُ مُعْجِبٍ . وَإِنْ كَانَ يَفْرَحُ بِكَوْنِهِ نِعْمَةً مِنَ اللهِ فَهُوَ لَيْسَ مُعْجِبًا بَلْ هُوَ مَسْرُوْرٌ بِفَضْلِ اللهِ, وَإِنْ كَانَ نَاظِرًا إِلَيْهِ مِنْ حَيْثُ هُوَ صِفَةٌ غَيْرَ مُلْتَفِتٍ إِلَى إِمْكَانِ الزَّوَالِ وَلَا إِلَى الْمُنْعِمِ بِهِ إِلَى صِفَةِ نَفْسِهِ فَهَذَا الْعُجْبُ وَهُوَ مِنَ الْمُهْلِكَاتِ وَعِلاَجُهُ أَنْ يَتَأَمَّلَ فِى الْعَاقِبَةِ, وَأَنَّ بَلْعَامَ كَيْفَ خُتِمَ بِالْكُفْرِ وَكَذَلِكَ إِبْلِيْسَ, فَمَنْ تَأَمَّلَ فِى إِمْكَانِ سُوْءِ الْخَاتِمَةِ وَإِنَّهُ مُمْكِنٌ فَلاَ يَعْجُبُ بِشَيْئٍ مِنْ صِفَاتِهِ .

“Bahwa hakikat ‘ujub adalah kesombongan yang terjadi dalam diri seseorang karena menganggap adanya kesempurnaan amal dan ilmunya. Apabila seseorang merasa takut kesempurnaan (ilmu dan amalnya), itu akan dicabut oleh Allah, maka berarti ia tidak bersifat ‘ujub.

Nadiah Nurull Hasanah


Bisyr Al-Hafi mendefenisikan ujub sebagai
berikut: “Yaitu menganggap hanya
amalanmu saja yang banyak dan
memandang remeh amalan orang lain.”

Orang yang terkena penyakit ujub akan
memandang remeh dosa-dosa yang
dilakukannya dan mengang-gapnya bagai
angin lalu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
telah mengabarkan kepada kita dalam
sebuah hadits: “Orang yang jahat akan
melihat dosa-dosanya seperti lalat yang
hinggap di hidungnya, dengan santai dapat
diusirnya hanya dengan mengibaskan
tangan. Adapun seorang mukmin melihat
dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah
kaki gunung yang siap menimpanya.” (HR.
Al-Bukhari)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar