Selasa, 26 Februari 2013

566 : KAJIAN KITAB KLASIK PESANTREN SUNNI (SALAFIYAH) >> WAFATNYA IBNU TAIMIYYAH

oleh : Muhasabah Diri



KAJIAN KITAB KLASIK PESANTREN SUNNI
(SALAFIYAH)


IBNU KATSIR MENCERITAKAN
PERISTIWA KETIKA
IBNU TAIMIYYAH WAFAT Al-Hafidz Ibnu Katsir
(700-774 H. Pengarang
Tafsir Ibnu Katsir) berkata dalam kitabnya al- Bidayah wa an-Nihayah 14/156-157:
"(Wafatnya Syaik Ibnu Taimiyah). Syaikh
Alamuddin berkata dalam at- Tarikh: Pada malam Senin tanggal 20 Dzulqa'dah, syaikh Ibnu Taimiyah putra al- Mufti Shihabuddin
abi al-
Mahasin, wafat di sebuah tempat di Damasykus di ruangan tempat ia dipenjara. Saat wafatnya
banyak orang yang datang ke tempat itu dan
mereka diizinkan untuk masuk. Para jamaah
duduk di dekat mayat Ibnu Taimiyah sebelum
dimandikan, mereka membaca
al-Quran,
mereka mencari berkah dengan melihat mayatnya dan menciumnya, lalu mereka
berpindah. Berikutnya jamaah perempuan,
mereka juga melakukan hal yang sama
(mereka membaca al-Quran, mereka mencari
berkah dengan melihat mayatnya dan
menciumnya), kemudian mereka berpindah dan hanya orang-orang yang memandikannya saja.
Selesai dimandikan, maka mayatnya
dikeluarkan. Kemudian berkumpullah orang-
orang di tempat tersebut, di jalan menuju masjid
Jami', di pelatarannya, di pintu Barid, di pintu
Saa'at ke pintu Labadin dan Ghaurah. Dan janazah dihadirkan pada jam 4 siang, diletakkan
di masjid Jami'. Pasukan tentara mengelilingi dan
menjaganya karena banyaknya
berdesakan. Ia
lalu disalatkan pertama kali, yang maju dahulu
adalah Syaikh Muhammad bin Tamam. Kemudian disalatkan di masjid Jami' al-Umawi sesaat setelah
Dzuhur. Dan sungguh makin banyak berkumpulnya
manusia, lalu makin bertambah hingga tempat-tempat menjadi
sempit, begitu pula pasar-pasar.
Setelah
disalatkan
janazahnya kemudian dipikul diatas kepala orang orang dan tangan-
tangannya.
Keranda yang di dalamnya terdapat
Ibnu Taimiyah keluar dari pintu al-Barid dan
makin dahsyat berdesakan, suara-suara tangis, pujian dan doa kepadanya makin bergemuruh.
Orang-orang melempar saputangannya,
surbannya dan pakaiannya kearah keranda
tersebut. Sandal-sandal mereka hilang dari kaki
mereka, begitu pula songkoknya,
saputangannya dan surbannya, mereka tidak
menghiraukannya dan terkonsentrasi melihat
janazahnya. Keranda itu berada di atas kepala,
terkadang maju, mundur atau terhenti hingga orang-orang berjalan. Orang-orang keluar dari
masjid Jami', dari semua
penjuru pintu, sangat penuh dengan berdesakan.
Satu pintu lebih penuh berdesakannya daripada
yang lain. Kemudian orang-orang keluar dari
pintu-pintu negeri karena banyaknya berdesakan. Tetapi tempat berdesakan
terbanyak ada di 4 pintu, pintu al-Faraj, tempat
keluarnya janazah, pintu al-Faradis, pintu al-Nasr
dan pintu al-Jabiyah Masalah ini makin menjadi
beban di pasar al-
Khail, dan orang-orang makin bertambah.
Janazah diletakkan disana dan yang maju untuk mensalatinya adalah saudaranya, Zainuddin
Abdurrahman. Selesai disalati, janazah dipikul ke
makam Shufi. Ia dikubur di dekat saudaranya
Syarafuddin Abdullah. Pemakamannya menjelang Ashar, hal ini karena
banyaknya orang yang berdatangan dan
menyalatinya, baik yang dari
kebun, pedalaman, pedesaan dan lainnya. Orang-
orang
menutup tokonya
dan tidak ada yang tertinggal
kecuali yang berhalangan hadir, namun tetap
mendoakan kepada Ibnu Taimiyah, seandainya mampu maka ia turut hadir. Begitu pula para
wanita sangat banyak, kira-kira 15000 wanita,
selain para wanita yang ada di lantai atas rumah
dan sebagainya, kesemuanya mendoakan dan
menangis. Sementara para lelaki diperkirakan
mencapai 60.000 sampai 100.000, bahkan lebih
sampai 200.000 orang. Sekelompok orang
meminum air sisa yang
dibuat memandikan Ibnu Taimiyah. Jamaah yang lain membagikan sisa-sisa sabun yang
dibuat memandikan Ibnu Taimiyah. Sementara
benang jahitan yang ada di lehernya karena
penyakit kutu dibeli sebesar 150 dirham. Dikatakan bahwa songkok yang ada di kepala
Ibnu Taimiyah dibeli sebesar 500dirham. Di
hadapan janazah telah terjadi jeritan, tangisan,
dan merendahkan diri. Ibnu Taimiyah
dikhatamkan bacaan al-Quran
berkali-kali baik di makamnya atau di kota. Orang-orang mondar-mandir ke kuburnya berkali-kali selama beberapa hari yang lama,
malam atau siang. Mereka menginap di dekat
kuburnya sampai Subuh. Mereka menjumpai
mimpi-mimpi yang baik tentang
Ibnu Taimiyah,
dan para jamaah melantunkan kasidah yang
beraneka ragam" (Baca juga keterangan yang
sama dalam Kitab Tarik h Ibnu al-Wardi 2/275 Dan ar-Radd al-Wafir
karya Muhammad bin Abi Bakar ad-Dimasyqi
1/122) ____________ Oleh Ustadz Muhammad Ma'ruf Khozin (Nara
Sumber "Hujjah Aswaja" di TV9, Anggota
Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar