Kamis, 17 Januari 2013

484 : BERIBADAH DI DAERAH YANG CUACANYA EKSTRIM

PERTANYAAN

Vladimirs Vladinovskiy


Assalamu'alaikum


Saudara2ku seiman seagama
Aku berada di negara Russia,tepatnya aku berada di Zheleznogorskaya oblast
moskwa Russia dom 17.
Dirussia ada beberapa musim,dan musim terbesar adalah musim panas dan musim dingin.dan ini membuat perubahan waktu yg sangat jauh selisihnya
kalau musim Panas pagi matahari terbit jam,06.00 dan terbenamnya pada pukul 22.00,
Pada musim dingin matahari terbit pagi hari pada pukul 10.00 dan terbenamnya pada pukul 05.00
Yang saya tanyakan pada saudara2 adalah ;
~ Bagaimana jam sholatku,
~ Bagaimana waktu Puasaku waktu sahurku dan waktu buka ku..
(Romadhon Sa'at musim panas)
Mohon pencerahannya dan wajib jawab


JAWABAN


Uponk Sgr Ulilalbab

wa'alaikum salam

bagi daerah yg terbit mataharinya tidak normal. maka waktu sholatnya mengikuti daerah terdekat yg terbit mataharinya normal.
وقال إمام الحرمين وغيره : لا خلاف أن الشمس تغرب عند قوم وتطلع على آخرين ، والليل يطول عند قوم ويقصر عند آخرين ، وعند خط الاستواء يكون الليل والنهار مستويين أبداً . وسئل الشيخ أبو حامد عن بلاد بلغار كيف يصلون فإنه ذكر أن الشمس لا تغرب عندهم إِلا بمقدار ما بين المغرب والعشاء ثم تطلع فقال : يعتبر صومهم وصلاتهم بأقرب البلاد إليهم ، والأحسن وبه قال بعض الشيوخ أنهم يقدرون ذلك ويعتبرون الليل والنهار ، كما قال في يوم الدجال الذي كسنة وكشهر : ( اقدروا له ) حين سأله الصحابي عن الصوم والصلاة فيه

Imam Haramain dan lainnya berkata “Tiada perbedaan pendapat bahwa matahari tenggelam disuatu kaum dan terbit dikaum lainnya, malam menjadi panjang disuatu kaum dan terasa dikaum lainnya, saat berada digaris katulistiwa malam dan siang selamanya akan sama”
Ditanyakan pada Syekh Abu Hamid tentang daerah Bulgaria bagaima penduduknya menjalankan shalat karena disebutkan matahari tiada tenggelam disana kecuali sekedar waktu antara maghrub dan isya’ kemudian mataharinya muncul kembali ?
Syekh Abu Hamid menjawab “Puasa dan shalatnya dipertimbangkan pada daerah terdekat mereka”
Begitu jugalah jawaban sebagian Masyayikh “Diperkirakan dan dan dipertimbangkan akan malam dan siangnya” dengan berlandaskan sebagaimana jawaban Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam

tuhfatih habib 'ala sarhil khatib
----------------------------------------

link ; http://www.kl28.net/knol6/?p=view&post=1164533


قَالَ الشَّيْخُ جَلَالُ الدِّينِ إمَامُ الْفَاضِلِيَّةِ: وَهُوَ يَطْلُعُ إذَا بَقِيَ مِنْ اللَّيْلِ السُّبْعُ اهـ عَنَانِيٌّ. ثُمَّ قَالَ: وَوَقَعَ السُّؤَالُ عَنْ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ إذَا غَرَبَا هَلْ يَسِيرَانِ تَحْتَ الْأَرْضِ أَوْ فِي السَّمَاءِ أَمْ لَا؟ وَأُجِيبَ: بِأَنَّهُمَا إذْ غَرَبَا يَسِيرَانِ تَحْتَ الْأَرْضِ، وَهَذَا عِنْدَ التَّحْقِيقِ لَا يُنَافِي مَا وَرَدَ فِي السُّنَّةِ مِمَّا ظَاهِرُهُ خِلَافُ ذَلِكَ وَهَذَا أَوْلَى فِي الْجَمْعِ بَيْنَ الْأَدِلَّةِ اهـ م د عَلَى التَّحْرِيرِ مَعَ زِيَادَةٍ. ثُمَّ رَأَيْت فِي كَشْفِ الْأَسْرَارِ لِابْنِ الْعِمَادِ مَا نَصُّهُ: سُؤَالٌ، الشَّمْسُ إذَا غَرَبَتْ أَيْنَ تَذْهَبُ؟ قَالَ الطُّرْطُوشِيُّ فِي شَرْحِ الرِّسَالَةِ: اُخْتُلِفَ فِي ذَلِكَ فَقِيلَ يَبْتَلِعُهَا حُوتٌ، وَقِيلَ تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ كَمَا قَالَ تَعَالَى. وَالْحَمِئَةُ بِالْهَمْزِ ذَاتُ حَمْأَةٍ وَطِينٍ وَقُرِئَ حَامِيَةٍ بِغَيْرِ هَمْزٍ أَيْ حَارَّةٍ سَاخِنَةٍ. قَالَ الطُّرْطُوشِيُّ وَقِيلَ إنَّهَا تَطْلُعُ مِنْ سَمَاءٍ إلَى سَمَاءٍ حَتَّى تَسْجُدَ تَحْتَ الْعَرْشِ وَتَقُولُ: يَا رَبِّ إنَّ أَقْوَامًا يَعْصُونَك. فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى لَهَا: ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْت فَتَنْزِلُ مِنْ سَمَاءٍ إلَى سَمَاءٍ حَتَّى تَطْلُعَ مِنْ الْمَشْرِقِ،=== وَقَالَ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَغَيْرُهُ: لَا خِلَافَ أَنَّ الشَّمْسَ تَغْرُبُ عِنْدَ قَوْمٍ وَتَطْلُعُ عَلَى آخَرِينَ، وَاللَّيْلُ يَطُولُ عِنْدَ قَوْمٍ وَيَقْصُرُ عِنْدَ آخَرِينَ، وَعِنْدَ خَطِّ الِاسْتِوَاءِ يَكُونُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ مُسْتَوِيَيْنِ أَبَدًا. وَسُئِلَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ عَنْ بِلَادِ بُلْغَارَ كَيْفَ يُصَلُّونَ فَإِنَّهُ ذُكِرَ أَنَّ الشَّمْسَ لَا تَغْرُبُ عِنْدَهُمْ إلَّا بِمِقْدَارِ مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ ثُمَّ تَطْلُعُ فَقَالَ: يُعْتَبَرُ صَوْمُهُمْ وَصَلَاتُهُمْ بِأَقْرَبِ الْبِلَادِ إلَيْهِمْ، وَالْأَحْسَنُ، وَبِهِ قَالَ بَعْضُ الشُّيُوخِ إنَّهُمْ يُقَدِّرُونَ ذَلِكَ وَيَعْتَبِرُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ،====== كَمَا قَالَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي يَوْمِ الدَّجَّالِ الَّذِي كَسَنَةٍ وَكَشَهْرٍ: «اُقْدُرُوا لَهُ» حِينَ سَأَلَهُ الصَّحَابِيُّ عَنْ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ فِيهِ، وَبُلْغَارُ بِضَمِّ الْبَاءِ الْمُوَحَّدَةِ وَإِسْكَانِ اللَّامِ وَبِالْغَيْنِ الْمُعْجَمَةِ وَبِالرَّاءِ الْمُهْمَلَةِ فِي آخِرِهِ: أَقْصَى بِلَادِ التَّرْكِ، وَذَكَرَ لِي بَعْضُهُمْ عَمَّنْ أَخْبَرَهُ أَنَّ الشَّمْسَ إذَا غَرَبَتْ عِنْدَهُمْ مِنْ هَهُنَا طَلَعَ الْفَجْرُ وَصَارَ يَمْشِي قَلِيلًا، ثُمَّ تَطْلُعُ الشَّمْسُ، وَبِهَذَا الْجَوَابِ الْمَذْكُورِ يَحْصُلُ الْجَوَابُ عَنْ تَرَدُّدٍ أَبْدَاهُ ---------
الكتاب: تحفة الحبيب على شرح الخطيب = حاشية البجيرمي على الخطيب ~ الجزء 1 ص 193
المؤلف: سليمان بن محمد بن عمر البُجَيْرَمِيّ المصري الشافعي (المتوفى: 1221هـ)
الناشر: دار الفكر

untuk pertanyaan di atas FOKUS antara tanda === dan ===
artinya sudah di tulis di atas atau intinya yaitu mengikuti daerah terdekat yg terbit mataharinya normal


وقد أوضح الفقهاء بناء على ذلك وقت كل صلاة على النحو الآتي، وأجمع المسلمون على أن الصلوات الخمس مؤقتة بمواقيت معلومة محدودة، ثبتت في أحاديث صحاح جياد، وتجب الصلاة بأول الوقت وجوباً موسعاً إلى أن يبقى من الوقت ما يسعها فيضيق الوقت حينئذ. وفي المناطق القطبية ونحوها يقدرون الأوقات بحسب أقرب البلاد إليهم، أو بميقات مكة المكرمة.
---كتاب " الفقه الإسلامي "، للدكتور وهبة الزحيلي، ج 1، ص 582،
fukos pada...
وفي المناطق القطبية ونحوها يقدرون الأوقات بحسب أقرب البلاد إليهم
Untuk daerah KUTUB dan sekitarnya. cara menentukan waktu sholat mengikuti daerah terdekat





Nunu Nurul Qomariyah


Bagi kita di Indonesia yang tinggal di daerah tropis, waktu tempuh (durasi) menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan kurang lebih 12 jam. Sedangkan di wilayah lain  beriklim sub-tropis di sebelah utara atau selatan garis khatulistiwa yang memiliki 4 musim, ibadah puasa yang dilakoni tergantung musim yang tiba. Jika jatuh di musim panas, maka siang hari lebih lama ketimbang malam hari. Dengan demikian puasa yang dijalankan lebih lama. Bisa 16 jam, 18 jam atau bahkan lebih. Pula sebaliknya jika jatuh di musim dingin, ibadah puasa yang dijalankan  lebih pendek atau kurang dari 12 jam.

Namun demikian, atas kehendak Allah SWT semata, perhitungan kalender hijriah yang dianut umat Islam berbeda dengan kalender masehi (gregorian), di mana 1 tahun hijriah akan selalu berbeda jumlah harinya. Perbedaan ini mengakibatkan efek rotasi bumi dan pergiliran musim  terutama bagi mereka yang tinggal di daerah sub-tropis. Sehingga datangnya bulan Ramadhan akan bergiliran antara musim panas dan dingin. Bagi kaum yang mau berpikir, di sinilah letak keadilan Yang Maha Pemurah, bahwa suatu wilayah tidak akan selamanya mendapati Ramadhan di musim panas saja. Dan sebaliknya tidak selalu di musim dingin. Senantiasa ada pergiliran setiap sekian tahun sekali di mana Ramadhan datang di musim panas, akan tetapi terkadang Ramadhan datang di musim dingin.

Bagaimana dengan wilayah yang mengalami siang selama 24 jam dalam sehari pada waktu tertentu dan sebaliknya mengalami malam selama 24 jam dalam sehari?  Menurut lembaga fiqih  internasional, Majelis Majma` Al-Fiqh Al-Islami dan Hai`ah Kibarul Ulama di Mekkah al-Mukarramah Saudi Arabia, dalam kondisi semacam itu, masalah jadwal puasa dan juga shalat disesuaikan dengan jadwal puasa dan shalat wilayah yang terdekat dengannya di mana masih ada pergantian siang dan malam setiap harinya.

Bagaimana wilayah yang tidak mengalami hilangnya mega merah (syafaqul ahmar) sampai datangnya waktu shubuh. Sehingga tidak bisa dibedakan antara mega merah saat maghrib dengan mega merah saat shubuh? Kedua lembaga fiqih tersebut berpendapat, maka yang dilakukan adalah menyesuaikan waktu shalat `isya-nya saja dengan waktu di wilayah lain yang terdekat yang masih mengalami hilangnya mega merah maghrib. Begitu juga waktu untuk imsak puasa, disesuaikan dengan wilayah yang terdekat yang masih mengalami hilangnya mega merah maghrib dan masih bisa membedakan antara dua mega itu.

Sedangkan soal ketiga, bagaimana dengan wilayah yang masih mengalami pergantian malam dan siang dalam satu hari, meski panjangnya siang sangat singkat sekali atau sebaliknya? Dalam kondisi ini, maka waktu puasa dan juga shalat tetap sesuai dengan aturan baku dalam syariat Islam. Puasa tetap dimulai sejak masuk waktu shubuh meski baru jam 02.00 dinihari. Dan waktu berbuka tetap pada saat matahari tenggelam meski waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam.

Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih (khaith abyadh) dari benang hitam (khaith aswad), yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.” (QS. Al-Baqarah : 187).

Pendapat kedua lembaga fiqih internasional di atas mendapat sanggahan tatkala disodorkan fakta  puasa di daerah ekstrim. Yakni adanya perbedaan siang dan malam yang sangat mencolok di mana malam hanya terjadi sekitar 30 menit atau sebaliknya, dimana siang hanya terjadi hanya 15 menit misalnya, mungkinkah pendapat itu relevan? Terbayangkah seseorang melakukan puasa di musim panas dari terbit fajar hingga terbenam matahari selama 23 jam 45 menit. Atau sebaliknya di musim dingin, dia berpuasa hanya selama 15 menit?

Atas pertanyaan di atas, dikemukakan pendapat lain sebagai berikut. Pertama, mengikuti waktu hijaz. Jadwal puasa dan shalatnya mengikuti jadwal yang ada di hijaz (Mekkah, Madinah dan sekitarnya). Karena wilayah ini dianggap tempat terbit dan muncul Islam sejak pertama kali. Lalu diambil waktu siang yang paling lama di wilayah itu untuk dijadikan patokan mereka yang ada di kutub utara dan selatan.
Kedua, mengikuti Waktu Negara Islam terdekat Pendapat lain mengatakan bahwa jadwal puasa dan shalat orang-orang di kutub mengikuti waktu di wilayah negara Islam yang terdekat. Dimana di negeri ini berpemerintahan sultan/khalifah muslim.

Lantaran hasil ijtihad para ulama, tentu saja kedua pendapat yang telah dikemukakan di atas memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Ketika dihadapkan pada persoalan di atas, kita boleh memilih pendapat mana yang dirasa baik dan tidak memberatkan. Dalam ajaran Islam yang kita yakini, Allah SWT tidak akan memberatkan kesanggupan seseorang di luar batas kemampuan yang dimiliki.
***
Berpijak dari hal yang telah kami kemukakan di atas, tanpa kita sadari, seiring perputaran malam dan siang selama bulan Ramadhan ini, dan adanya perbedaan waktu antara satu wilayah dengan wilayah lainnya, kita (saya dan anda di suatu belahan bumi yang lain) secara kiasan menjalankan ibadah puasa selama 24 jam penuh. Maksud saya, misalnya, sekalipun saya di Indonesia sudah berbuka puasa, muslim di Sri Langka, India dan Pakistan masih menjalankan ibadah puasa.


Saat muslim Sri Langka, India dan Pakistan berbuka puasa, masyarakat muslim di kawasan Timur Tengah tengah mempersiapkan buka  puasa. Dan semakin ke barat lagi, barangkali tengah menunaikan shalat ashar, dhuhur, bahkan shalat shubuh. Dan seterusnya sebagaiamana kumandang adzan yang terus berputar mengelilingi bumi.
Inilah fenomena yang jarang kita sadari, bahwa di bulan Ramadhan ini selama 24 jam penuh  muslim di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa. Walaupun pelaksanaannya mengikuti perbedaan waktu yang ada antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. 

Wallau A’lam bis-Showab.

http://sosbud.kompasiana.com/2011/08/28/puasa-selama-24-jam-penuh/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar