Senin, 15 April 2013

685 : KAJIAN NAJASAH ANJING & BABI

oleh : Kudung Khantil Harsandi Muhammad

ANJING DAN BABI

Dalam kajian Najasah, anjing dan babi adalah dua hewan yang termasuk dalam kategori najis berat (mugholladzoh), hingga tak heran jika dalam komunitas muslim jarang banget kita temukan dua jenis hewan tadi di pilih sebagai peliharaan, hal ini tidak mengherankan karena memang dalam beberapa text di jelaskan :
لاَ تَدْخُلُ الْمَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلاَ صُورَةٌ التَّمَاثِسيل
Artinya : "Malaikat tidak memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan patung".

Bahkan dalam sebuah sabda lain di sebutkan :
مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا لَيْسَ بِكَلْبِ صَيْدٍ وَلاَ مَاشِيَةٍ وَلاَ أَرْضٍ فَإِنَّهُ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِهِ قِيرَاطَانِ كُلَّ يَوْمٍ
Artinya : "Barang siapa yang memelihara anjing selain anjing pemburu, penjaga ternak, dan pejaga bumi, maka berkurang dua qiroth pahalanya setiap hari".

Berbeda sekali dengan komunitas barat yang justru acapkali menjadikan anjing sebagai binatang kesayangan, atau beberapa komunitas jetset yang justru menjadikan pemeliharaan anjing sebagai lifestyle yang prestisius.
Jika kita sorot hal ini melalui justifikasi fiqhiyyah, ternyata mengenai status najis anjing para ulama' memberikan banyak statemen yang beragam, dan sebagai pelengkap kajian, akan kami jelaskan pula mengenai hukum babi yang juga merupakan kategori najis mugholadzoh.
Syaikh Muhammad Asy-Syarbini Al-Khothib dalam kitab Al-Iqna' menjelaskan bahwa semua hewan statusnya adalah suci selama hewan tersebut masih hidup, kecuali anjing. Entah itu dari jenis anjing pemburu, anjing penjaga, ataupun yang lain. Hal ini berlandaskan sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Imam Muslim :
طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يُغْسَلَ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ
Artinya : "Sucinya wadah kalian tatkala terkena jilatan anjing adalah dengan basuhan tujuh kali. Basuhan pertama (di campur) dengan debu."(H.R. Muslim No. 677).

Dan sebuah hadits lain yang juga di riwayatkan oleh Imam Muslim :
إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيُرِقْهُ ثُمَّ لْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مِرَارٍ
Artinya : "Jika ada anjing yang menjilati wadah kalian maka buanglah isinya dan kemudian basuhlah wadah tadi tujuh kali." (H.R. Muslim No. 674).
Nalar deduksi hukum dan inferensi pada text ini adalah melihat bahwa motif praktek pensucian (thoharoh) tidak akan lepas dari tiga hal, yakni : membersihkan hadats, mensucikan najis dan refleksi pemulyaan terhadap sebuah ritual, dan jika kita cermati praktek pensucian wadah yang tersurat dalam text sabda nabi di atas tidak mungkin kita arahkan karena adanya motif menghilangkan hadats atau pemulyaan terhadap sebuah ritual, sehingga hanya tersisa satu kemungkinan yakni karena status najis dari mulut anjing, padahal bagian tersebut merupakan bagian yang paling harum dari anjing, sehingga tentunya bagian lain lebih layak untuk di statuskan sebagai hal yang najis. Sedangkan dari hadits berikutnya justifikasi hukum najis juga begitu jelas, karena jika anjing bukan merupakan hewan yang najis niscaya rosululloh tidak akan memerintahkan kita untuk membuang isi wadah yang notabenenya adalah tindakan idho'atul mal (menyia-nyiakan harta) yang merupakan larangan rosululloh.
Jika kita klasifikasikan lebih jauh, ada tiga type anjing :
Type anjing yang suka menggigit, para pakar fiqh sepakat bahwa type ini tidak di mulyakan sama sekali dan juga di sunnahkan untuk membunuhnya. Dan Jika sebenarnya anjing tersebut merupakan jenis yang bisa di manfaatkan namun suka menggigit, maka tetap di sunnahkan untuk di bunuh karena lebih mengedepankan madhorot yang di timbulkan.
Jenis anjing yang bisa di manfaatkan untuk perburuan atau di jadikan sebagai anjing penjaga, jenis ini di mulyakan oleh syara' dan haram untuk di bunuh.
Kategori anjing yang tidak berbahaya namun juga tidak bisa di manfaatkan, seperti anjing yang sering berkeliaran di jalan-jalan atau di pasar, Imam Romli menyatakan bahwa jenis ini di mulyakan oleh syara' dan haram untuk di bunuh, berbeda dengan Ibn Hajar yang memperbolehkan untuk membunuh anjing dengan type seperti ini.
Dalam formulasi hukum ini sebenarnya terkandung hikmah yang luar biasa, yang merupakan cermin kepedulian dan kearifan syariat islam sebagai agama sang maha penyayang, karena ternyata dalam banyak study ilmiah di jelaskan bahwa anjing terbukti sangat berpotensi menularkan banyak penyakit yang berbahaya, karena dalam tubuh anjing terdapat kuman penyebab penyakit menular hampir lima puluh macam jenisnya, dan lagi di dalam ususnya, hidup dan berkembang biak banyak sekali cacing, pada saat anjing mengeluarkan kotoran, telur dari cacing-cacing ikut terbawa keluar bersama kotoran, kebiasaan anjing menjilati anusnya membuat telur-telur cacing menempel di lidah dan air liurnya, kemudian berpindah ke bejana atau tangan manusia. Setelah menetas, cacing-cacing tersebut dapat terbawa oleh darah atau lendir ke seluruh tubuh. Yang paling berbahaya adalah bila sampai ke jantung. Bahkan di dalam air liurnya saja juga mengandung berbagai kuman yang mampu menyerang organ dalam manusia melalui sistem terbuka. Belum lagi sebagaimana hasil penelitian yang di lakukan di Universitas Munich, hoby memelihara anjing dapat meningkatkan resiko mengidap kanker, fakta menyatakan bahwa sebanyak 79,7% penderita kanker payudara, ternyata sering bercanda dengan anjing. Dan di Norwegia, 53,3% dari 14.401 pemilik anjing di vonis mengidap kanker. Dan banyak lagi data-data ilmiah lain yang perlahan-lahan mulai menyingkap misteri hikmah ilahiyah yang pasti melingkupi setiap ketentuan hukum yang di tetapkan oleh syari'at.
Sebeagian pakar fiqh lain seperti Imam Dawud Adz-Dzohiri, Imam Malik, dan juga Imam Az-Zuhri menyatakan bahwa hukum anjing adalah suci, ada banyak argumen yang mereka kemukakan di antaranya adalah firman allah :
فَكُلُوا ممّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ
Artinya : "Dan makanlah buruan yang telah di tangkap oleh anjing pemburumu". (Al-Ma'idah : 4)

Dan juga di dukung oleh sebuah hadits Abdullah Ibn 'Umar :
كَانَتِ الْكِلابُ تَبُولُ وَتُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِى الْمَسْجِدِ فِى زَمَانِ النَّبِى ، ( صلى الله عليه وسلم ) ، فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ
Artinya : "Di zaman rosululloh seringkali banyak anjing yang kencing dan lalu-lalang di dalam masjid, namun beliau tidak memerintahkan kami untuk memerciki air pada tempat yang di lalui anjing tadi".

Sedangkan hadits mengenai kewajiban untuk membasuh tujuh kali pada wadah yang di jilati anjing oleh kubu ini hanya di artikan sebagai sebuah ritual yang bersifat ta'abbudi sehingga tidak dapat di jadikan sebagai patokan status najis pada anjing. Namun para pakar fiqh syafi'iyyah memberikan tanggapan bahwa firman allah yang di kutip oleh kubu ini merupakan konteks permasalahan hewan buruan yang memang dalam kubuh syafi'iyyah pun terdapat kontrofersi dalam hal itu, kubu yang tidak mewajibkan adanya pembasuhan menganggap bekas gigitan itu sebagai hal yang ma'fu karena faktor masyaqot yang di rasakan dan tuntutan adanya hajat, berbeda dengan permasalahan wadah yang di jilati oleh anjing. Mengenai hadits Abdullah Ibn 'Umar yang di jadikan salah satu refrensi oleh kubu ini, oleh Imam Baihaqi ketentuan di arahkan sebelum turunnya wahyu yang menjelaskan akan kewajiban membasuh tempat yang di jilati oleh anjing atau kebetulan air kencing anjing yang terpotret dalam hadits ini tidak nampak sehingga memang kewajiban pembasuhan hanya tertentu pada tempat yang di yakini terkena air kencing. karena di kalangan para pakar fiqh telah terdapat konsensus bahwa anjing merupakan hewan yang hukumnya adalah najis dan juga terdapat kesepakatan akan wajibnya memerciki air pada tempat yang terkena air kencing anak kecil, maka semestinya dalam kasus air kencing anjing lebih layak untuk di kenai kewajiban pembasuhan.
Hewan lain yang juga termasuk dalam kategori najis berat (mugholladzoh) adalah babi, mengenai alasan pasti yang melatar belakangi hal ini para ulama' masih mengalami perdebatan dan tarik ulur, berikut ini akan kami beberkan beberapa alasan status najis hewan babi yang di kemukakan oleh para pakar fiqh :
Para ulama' menganggap bahwa babi lebih buruk daripada anjing, karena untuk hewan babi sama sekali tidak ada legalitas untuk memanfaatkannya, berbeda dengan beberapa jenis anjing yang boleh untuk di manfaatkan. Alasan ini masih di janggalkan jika kita bandingkan dengan hewan serangga yang juga tidak dapat di manfaatkan sama sekali, dan ternyata statusnya adalah hewan yang suci, namun kemudian di perjelas kembali bahwa berbeda dengan serangga, babi sebenarnya masih memiliki manfaat semisal untuk menarik atau mengangkat muatan, sehingga hal ini dapat memperkuat status najisnya, karena teryata manfaat yang ada pada babi tidak cukup untuk menggugurkan status najisnya.
Statement Ibn Munzdir bahwa terdapat konsensus ulama' mengenai status najis hewan babi. Namun alasan ini juga masih di pertanyakan karena ternyata Imam Malik yang menyatakan bahwa status babi saat masih hidup adalah hewan suci, begitu juga sebagian riwayat yang menyatakan bahwa imam hanafi juga berpendapat bahwa babi statusnya adalah suci.
Adanya kesunnahan untuk membunuhnya meski bukan merupakan jenis yang berbahaya, bahkan sebagian ulama' mewajibkan untuk membasminya.
Terdapat nash shorih yang menjelaskan mengenai keharaman babi, dan hal ini juga telah di ACC oleh para fuqoha', berbeda dengan anjing yang masih di perdebatkan oleh para pakar (Imam Malik mengvonis anjing sebagai hewan yang suci).
Imam Mawardi mengguanakan firman allah :
"أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ"
Meski secara tersurat dalam text hanya menstatuskan daging babi saja yang di vonis najis, namun ungkapan ini hanya merupakan kiasan yang sebenarnya juga mengikutkan semua bagian dari hewan babi, karena jika hanya daging saja yang di statuskan najis maka hal ini sudah di cukupi dengan keterangan mengenai najisnya bangkai. Namun penggunaan nash ini sebagi dalil di tolak oleh Imam Zakariyah Al Anshori karena menurut beliau secara dhohir pengembalian dhomir lebih tepat jika di kembalikan pada mudhof yakni lafadz "lahm" sehingga maksut dari text ini adalah vonis najis pada daging babi setelah hewan itu mati.

Karena banyaknya kontrofersi dan tarik ulur dari para fuqoha' mengenai alasan vonis najis yang peling tepat. Beliau Imam Nawawi menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada dalil yang jelas mengenai status najis babi. Karena memang jika sebuah dalil masih memiliki multi tafsir maka tidak dapat di jadikan sebagai sebuah tendesi hukum.
Dan mungkin ini pula yang membuat munculnya statement dari Imam Malik yang menyatakan bahwa hukum babi adalah suci selama hewan ini masih hidup, begitu juga salah satu riwayat pendapat Imam Hanafi yang senada dengan hal ini.
Kontrofersi juga terjadi mengenai metode pensucian najis mugholladzoh, kubu syafi'iyyah mewajibkan adanya pembasuhan tujuh kali pada area yang terkena najis mugholladzoh dan metode ini juga merupakan pendapat dari mayoritas pakar fiqh seperti Abi Huroiroh, Ibn 'Abbas, Abi Tsaur dan banyak lagi yang lain sebagaimana keterangan yang di kutip dari Ibn Mundzir. Namun ada juga pendapat lain seperti pendapat imam az-zuhry yang sudah menganggap cukup dengan hanya tiga kali basuhan. Atau pendapat imam hanafi yang tidak menentukan bilangan tertentu dalam hal pembasuhan, beliau hanya memberi patokan hingga adanya persangkaan bahwa area tersebut telah suci, ketentuan ini juga berlaku untuk semua najis 'ainiyyah . Imam Malik dalam sebagian riwayat mewajibkan delapan kali basuhan yang salah satunya di campur dengan debu hal ini senada dengan statement Dawud Adz-Dzohiri, namun dalam riwayat lain Imam Malik menyatakan bahwa makanan atau minuman yang di jilati oleh anjing tidak bisa di hukumi najis, sehingga boleh-boleh saja untuk di konsumsi atau di gunakan untuk berwudhu'.
Mengenai keharusan menggunakan debu sebagai campuran, terdapat dua versi pendapat, pendepat yang lebih shohih menyatakan bahwa semisal sabun kayu

Unique Reference For You…
• ANJING DI HUKUMI SUCI MENURUT IMAM MALIK & DAWUD ADH-DHOHIRI.
المجموع شرح المهذب - (ج 2 / ص 567)
[ وأما الكلب فهو نجس لما روى أن النبي صلى الله عليه وسلم (دعى ألى دار فأجاب ودعى إلى دار فلم يجب فقيل له في ذلك فقال ان في دار فلان كلبا فقيل له وفى دار فلان هرة فقال الهرة ليست بنجسة) فدل علي أن الكلب نجس ] * [ الشرح ] مذهبنا ان الكلاب كلها نجسة المعلم وغيره الصغير والكبير وبه قال الاوزاعي وأبو حنيفة واحمد واسحق وأبو ثور وأبو عبيد وقال الزهري ومالك وداود هو طاهر وانما يجب غسل الاناء من ولوغه تعبدا وحكى هذا عن الحسن البصري وعروة بن الزبير واحتج لهم بقول الله تعالى (فَكُلُوا ممّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ) ولم يذكر غسل موضع امساكها وبحديث ابن عمر رضي الله عنهما قال (كانت الكلاب تقبل وتدبر في المسجد في زمن رسول الله صلى الله عليه وسلم فلم يكونوا يرشون شيئا من ذلك) ذكره البخاري في صحيحه فقال وقال احمد بن شبيب حدثنا أبى إلى آخر الاسناد والمتن وأحمد هذا شيخه ومثل هذه العبارة محمول علي الاتصال وان البخاري رواه عنه كما هو معروف عند أهل هذا الفن وذلك واضح في علوم الحديث وروى البيهقي وغيره هذا الحديث متصلا وقال فيه (وكان الكلاب تقبل وتدبر في المسجد فلم يكونوا يرشون شيئا من ذلك) واحتج اصحابنا بحديث أبى هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال (إذا ولغ الكلب في اناء أحدكم فليرقه ثم ليغسله سبع مرات) رواه مسلم وعن أبي هريرة أيضا قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (طهور اناء احدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات أو لاهن بالتراب) رواه مسلم وفى رواية له (طهر أناء احدكم إذا ولغ الكلب فيه ان يغسل سبع مرات) والدلالة من الحديث الاول ظاهرة لانه لو لم يكن نجسا لما أمر باراقته لانه يكون حينئذ اتلاف مال وقد نهينا عن اضاعة المال والدلالة من الحديث الثاني ظاهرة أيضا فان الطهارة تكون من حدث أو نجس وقد تعذر الحمل هنا علي طهارة الحدث فتعينت طهارة النجس وأجاب اصحابنا عن احتجاجهم بالآية بان لنا خلافا معروفا في أنه يجب غسل ما اصابه الكلب ام لا فان لم نوجبه فهو معفو للحاجة والمشقة في غسله بخلاف الاناء واما الجواب عن حديث ابن عمر فقال البيهقى مجيبا عنه اجمع المسلمون علي نجاسة بول الكلب ووجوب الرش علي بول الصبى فالكلب أولي قال فكان حديث ابن عمر قبل الامر بالغسل من ولوغ الكلب أو ان بولها خفى مكانه فمن تيقنه لزمه غسله والله أعلم

• MACAM-MACAM ANJING DAN HUKUM MEMBUNUHNYA.
كاشفة السجا ص 35
والكلب ثلاثة أقسام : عقور, وهذا لا خلاف في عدم احترامه وندب قتله, وما فيه نفع من اصطياد او حراسة وهذا لا خلاف في احترامه وحرمة قتله, وما لا نفع فيه ولا ضرر وهو كلب السوق المسمى بالجعاصى ومعتمد الرملى فيه انه محترم فيحرم قتله وعند شيخ الأسلام يجوز قتله فإن كان الكلب عقورا ولكن فيه نفع سن قتله تغليبا لجانب الضرر.

• BABI DI HUKUMI SUCI MENURUT MADZHAB IMAM MALIK DAN SEBAGIAN RIWAYAT ABI HANIFAH.
الاقناع في حل ألفاظ أبي شجاع - (ج 1 / ص 136)
والحيوان كله طاهر أي طاهر العين حال حياته إلا الكلب ولو معلما لخبر مسلم طهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات أولاهن بالتراب وجه الدلالة أن الطهارة إما لحدث أو خبث أو تكرمة ولا حدث على الإناء ولا تكرمة فتعينت طهارة الخبث فثبتت نجاسة فمه وهو أطيب أجزائه بل هو أطيب الحيوانات نكهة لكثرة ما يلهث فبقيتها أولى والخنزير بكسر الخاء المعجمة لأنه أسوأ حالا من الكلب لأنه لا يقتنى بحال ونقض هذا التعليل بالحشرات ونحوها ولذلك قال النووي ليس لنا دليل واضح على نجاسته لكن ادعى ابن المنذر الإجماع على نجاسته وعورض بمذهب مالك ورواية عن أبي حنيفة أنه طاهر ويرد النقض بأنه مندوب إلى قتله من غير ضرر فيه ولأنه يمكن الانتفاع به بحمل شيء عليه ولا كذلك الحشرات فيهما.

• BABI SAAT MASIH HIDUP ITU TIDAK DI HUKUMI NAJIS.
المجموع شرح المهذب - (ج 2 / ص 568)
نقل ابن المنذر في كتاب الاجماع اجماع العلماء علي نجاسة الخنزير وهو أولي ما يحتج به لو ثبت الاجماع ولكن مذهب مالك طهارة الخنزير مادام حيا وأما ما احتج به المصنف فكذا احتج به غيره ولا دلالة فيه وليس لنا دليل واضح علي نجاسة الخنزير في حياته.
المجموع شرح المهذب - (ج 2 / ص 588)
ويفرق بينه وبين سائر النجاسات بل المراد هنا الزجر والتنفير من الكلاب والمبالغة في التغليظ في ذلك ولهذا غلظ بالعدد والتراب

• SUNNAH MBANTAI BABI !!
فتاوى الرملي - (ج 1 / ص 237)
( سُئِلَ ) هَلْ يُنْدَبُ قَتْلُ الْخِنْزِيرِ أَمْ لَا ؟ ( فَأَجَابَ ) بِأَنَّهُ يُنْدَبُ قَتْلُهُ.

• IJMA' 'ULAMA' MENGENAI DI HARAMAKANNYA MENGKONSUMSI BABI.
بداية المجتهد ج 1 ص 342
فاما المتفق منها عليه فاتفق المسلمون منها على اثنين لحم الخنزير والدم فأما الخنزير فاتفقوا على تحريم شحمه ولحمه وجلده واختلفوا في الإنتفاع بشعره وفي طهارة جلده مدبوغا وغير مدبوغ .

• KONTROFERSI MENGENAI METODE PEMBASUHAN NAJIS MUGHOLLADZOH.
المجموع شرح المهذب - (ج 2 / ص 580)
وقد اختلف العلماء في ولوغ الكلب فمذهبنا انه ينجس ما ولغ فيه ويجب غسل انائه سبع مرات احداهن بالتراب وبهذا قال اكثر العلماء حكى ابن المنذر وجوب الغسل سبعا عن ابى هريرة وابن عباس وعروة بن الزبير وطاووس وعمرو بن دينار ومالك والاوزاعي واحمد واسحق وابى عبيد وابي ثور قال ابن المنذر وبه اقول وقال الزهري يكفيه غسله ثلاث مرات وقال أبو حنيفة يجب غسله حتى يغلب على الظن طهارته فلو حصل ذلك بمرة أجزأه وكذا عنده سائر النجاسات العينية قال ويجب غسل النجاسة الحكمية ثلاثا وعن أحمد رواية انه يجب غسله ثمانى مرات احداهن بالتراب وهى رواية عن داود أيضا وقال مالك والاوزاعي لا ينجس الطعام الذى ولغ فيه بل يحل أكله وشربه والوضوء به قالا ويجب غسل الاناء تعبدا قال مالك وان ولغ في ماء جاز أن يتوضأ به لانه طاهر وفى جواز غسل هذا الاناء بهذا الماء روايتان عنه واحتج لابي حنيفة بحديث يرويه عبد الوهاب بن الضحاك عن اسماعيل بن عياش عن هشام بن عروة عن أبى الزناد عن الاعرج عن أبى هريرة عن النبي صلي الله عليه وسلم في الكلب يلغ في الاناء قال (يغسله ثلاثا أو خمسا أو سبعا) وبالقياس علي سائر النجاسات واحتج لاحمد رحمه الله بحديث عبد الله بن مغفل المزني رضي الله عنه قال قال رسول الله صلي الله عليه وسلم (إذا ولغ الكلب في الاناء فاغسلوه سبع مرار وعفروه الثامنة في التراب) رواه مسلم واحتج لمالك والاوزاعي في عدم نجاسته وجواز الانتفاع بالطعام بأن الامر بغسل الاناء كان تعبدا ولا يلزم منه نجاسة الطعام واتلافه واحتج اصحابنا والجمهور علي وجوب الغسل سبعا بحديث ابى هريرة ان رسول الله صلي الله عليه وسلم قال (طهور اناء احدكم إذا ولغ فيه الكلب ان يغسل سبعا أولاهن بالتراب) رواه مسلم وفى رواية عنه عن النبي صلي الله عليه وسلم قال (إذا شرب الكلب في اناء احدكم فليغسله سبعا) رواه البخاري ومسلم وروى هذا المتن في الصحيح جماعة من الصحابة رضى الله عنهم وذكر اصحابنا اقيسة كثيرة ومناسبات لاقوة فيها ولا حاجة إليها مع ما ذكرناه من السنن الصحيحة المتظاهرة.
المجموع شرح المهذب - (ج 2 / ص 586)
حاصل ما ذكره أن في ولوغ الخنزير طريقين أحدهما فيه قولان وهى طريقة ابن القاص أحدهما يكفى مرة بلا تراب كسائر النجاسات والثانى يجب سبع مع التراب والطريق الثاني يجب سبع قطعا وبه قال الجمهور وتأولوا نصه في القديم كما أشار إليه المصنف واعلم أن الراجح من حيث الدليل أنه يكفى غسلة واحدة بلا تراب وبه قال أكثر العلماء الذين قالوا بنجاسة الخنزير وهذا هو المختار لان الاصل عدم الوجوب حتى يرد الشرع لاسيما في هذه المسألة المبنية على التعبد وممن قال يجب غسله سبعا أحمد ومالك وفى رواية عنه قال صاحب العدة ويجرى هذا الخلاف الذى في الخنزير فيما أحد أبويه كلب أو خنزير وذكر صاحب التلخيص في المتولد بين الكلب والخنزير قولين وهذا صحيح لان الشرع انما ورد في الكلب وهذا المتولد لا يسمي كلبا.

• MENSUCIKAN NAJIS MUGHOLADHOH CUKUP DENGAN SABUN.
شرح التنبيه ج 1 ص 86
فإن غسل بدل التراب بالجص معا والأشنان والصابون وكذا النخالة كما في البحر وغيره ففيه قولان : أصحهما انه يطهر لأنه قائم مقام التراب في الإستطهار كما قام غير الشبّ والقرظ مقامهما في الدباغ مع ورود النص بهما وصححه النووي في رؤوس المسائل والثاني : لا, ويتعين لتعبدية اوللجمع بين نوعي الطهور وهو الأصح في كتب الرافعي واكثر كتب النووي.


• SEMUA JENIS KULIT TERMASUK KULIT ANJING DAN BABI DAPAT DI HUKUMI SUCI SETELAH PROSES PENYAMAKAN.
المجموع شرح المهذب - (ج 1 / ص 217)
(فرع في مذاهب العلماء في جلود الميتة) هي سبعة مذاهب أحدها لا يطهر بالدباغ شئ من جلود الميتة لما روى عن عمر بن الخطاب وابنه وعائشة رضي الله عنهم وهو أشهر الروايتين عن أحمد ورواية عن مالك والمذهب الثاني يطهر بالدباغ جلد مأكول اللحم دون غيره وهو مذهب الاوزاعي وابن المبارك وأبي داود واسحق ابن راهويه والثالث يطهر به كل جلود الميتة الا الكلب والخنزير والمتولد من أحدهما وهو مذهبنا وحكوه عن على بن أبي طالب وابن مسعود رضي الله عنهما: والرابع يطهر به الجميع الا جلد الخنزير وهو مذهب ابي حنيفة والخامس يطهر الجميع والكلب والخنزير الا أنه يطهر ظاهره دون باطنه فيستعمل في اليابس دون الرطب ويصلي عليه لا فيه وهو مذهب مالك فيما حكاه أصحابنا عنه: والسادس يطهر بالدباغ جميع جلود الميتة والكلب والخنزير ظاهرا وباطنا قاله داود وأهل الظاهر وحكاه الماوردي عن أبي يوسف: والسابع ينتفع بجلود الميتة بلا دباغ ويجوز استعمالها في الرطب واليابس حكوه عن الزهري.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar