Kamis, 22 November 2012

395 : MATI SURI

PERTANYAAN


Nunu Nurul Qomariyah

Assalamu'alaikum

mohon sharenya
tentang " Mati Suri "?

JAWABAN

Sanusi El Ruzy

wa'alaikum salam

Dalam kitab I'anah ada.
Orang yang hidup lagi setelah ia benar2 mati(menurut orang yg ahli dibidangnya), hal ini menetapkan hukumnya orang mati beneran. Spti hrta boleh di waris, istri bleh nikah lg dll. Sdangkan hidup kedua tidak di anggap. Dan bila dia mati LAGI stlah hidup yg kedua, maka tidak wajib di mandikan, dis0lati, hanya wajib dikubur saja. Namun bila mati yg PERTAMA itu belum jelas, maka ia dihukumi BELUM Mati, tetapi hanya dianggap orang pingsan.
(Lihat: I'anah At-Tholibin juz 2 hal 109)

ni ta'birnya
إن من احيا بعد الموت الحقيقي بأن أخبر به معصوم ثبت له جميع أحكام الموءمن من قسمة تركته و نكاح زوجته و نحو ذلك و إن الحياة الثانية لا يعول عليها لأن ذلك تشريع لما لم يرد هو و لا نظيره بل و لا ما يقاربه و تشريع ما هو كذلك ممتنع بلا شك . أي و عليه فمن مات بعد الحياة الثانية لا يغسل و لا يصلى عليه و إنما تجب موارثه فقط و أما إذا لم يتحققت موته حكمنا بإنه إنما كان به غشى أو نحوه. (إعانة الطالبين جز 2 ص 109



Ki Joko Semprul

wa'alaikumsalam
kalau jaman nabi dulu kurang tahu saya
kalau aspek hukumnya di masyarakat ini :

(فرع آخر) لو مات إِنسان موتاً حقـيقـياً، وجهز، ثم أحيـي حياة حقـيقـية، ثم مات، فـالوجه الذي لا شك فـيه أنه يحب لـه تـجهيز آخر، خلافاً لـمن توهمه. اهـ.
وفـي ع ش ما نصه: وفـي فتاوي حجر الـحديثـية ما حاصلـه أن ما من أحيـي بعد الـموت الـحقـيقـي، بأن أخبر به معصوم، تثبت لـه جميع أحكام الـموتـى؛ من قسمة تركته، ونكاح زوجته، ونـحو ذلك، وأن الـحياة الثانـية لا يعوَّل علـيها، لأن ذلك تشريع لـما لـم يرد هو ولا نظيره، بل ولا ما يقاربه، وتشريع ما هو كذلك مـمتنع بلا شك. اهـ. أي وعلـيه: فمن مات بعد الـحياة الثانـية لا يغسل ولا يصلـى علـيه، وإنـما تـجب مواراته فقط. وأما إذا لـم يتـحقق موته حكمنا بأنه إنـما كان به غشي أو نـحوه. اهـ. إعانة الطالبين الجزء الثانى ص ١٠٨




Mbah Pardan Milanistie


sundul...derek-derek.....
l urun rembug...

Allah menyebutkan, ada dua kondisi di mana Allah menahan nyawa manusia ; tatkala dalam keadaan 'maut'(mati) dan 'manam'(tidur) Allah berfirman..
"Allah memegang jiwa orang ketika matinya (maut) dan juga orang yang belum mati di dalam tidurnya (manam) maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah di tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai wakru yang di tetapkan, "(QS, az-Zumar 42)

Ibnu Katsir Rahimahullah menukil perkataan Ibnu 'Abbas Rodhiallohu 'Anhuma tentang ayat ini, " Arwah orang yang twlah mati di tahan, dan arwah orang yang hidup di kembalikan
Makanya orang yang pada akhirnya di kembalikan nyawanya pada akhirnya masuk dalam kategori "lam tamut" belum mati,.Dia masuk dalam kategori "manam" (tidur) dengan berbagai level kesadaran dan kondisi fisiologisnya Baik dalm kondisi tidur, pingsan, koma,maupun mati suri. Wallahu A'lam (Abu Amar Abdillah /majalah Arrisalah edisi 119/Kasfyu Subhat)

 tambahan

Sanusi El Ruzy

Sahdan, dulu ada seorang Ulama' yg di vonis mati oleh orang2. Maka beliau pun di mandikan, di kafani, dis0lati dan di kubur. Subhanallah, dalam sempitnya liang lahad beliau HIDUP LAGI, maka beliau pun bernadzar, "bila aku sampai bisa keluar dari kubur ini, maka aku akan mengarang kitab tafsir". Dan dengan izin Allah entah dgn apa, kubur beliau di gali oleh orang2 maka selamatlah beliau. Dan beliau melaksanakan nadzarnya hingga kitabnya masih kita gunakan sampai saat ini, yaitu Kitab Tafsir Baidlowi.
Ya benar.. Ulama tadi adalah Imam Baidlowi.

Nb: cerita dari guru kami Al-Alim, Al-Adib, Al-Mastur Al-Habib Abd. Qodir As-Segaf tadi malam saat kami tanya tentang masalah ini.


Prabu'jihad Al-syahid


Tak hanya di zaman ini, bahkan di kalangan ulama Islam ada yang pernah memiliki pengalaman, yang oleh orang sekarang dinamakan mati suri. Ibnu al-Jauzi menyebutkan dalam karyanya Kitab al-Alqaab, tentang seorang tokoh yang dijuluki Haamilu Kafanihi (orang yang membawa kafannya). Dia adalah Abu Said Muhammad bin Yahya al-Bazzaaz ad-Dimasyqi. Julukan itu diberikan terkait kejaidan yang dialaminya. Suatu kali beliau telah dianggap wafat, lalu dimandikan, dikafani, serta dishalatkan dan kemudian dikuburkan. Di malam pertama, datanglah seseorang yang bermaksud mencuri kain kafannya. Ketika pencuri itu telah menggali kuburan dan melepaskan kafan untuk diambil, tiba-tiba beliau bangun dari kuburnya, maka spontan pencuri itu lari ketakutan. Dan Abu Said pun kembali kepada keluarganya dengan memakai kafannya. Itulah kenapa beliau dijuluki Haamilu Kafanihi. Dan hari-hari selanjutnya, beliau hidup normal seperti yang lain.

Banyak kisah diutarakan oleh orang yang pernah mengalami mati suri. Meski banyak versi, namun ada kemiripan dari sisi konten. Rata-rata mereka merasa berada di dalam yang lain, bertemu dengan orang yang telah mati dan semisalnya. Sedangkan secara fisik, saat itu mungkin dia telah divonis mati. Lantas kenapa hidup lagi? Kemana ruhnya tatkala dia mati suri?

Memang, tidak semua wilayah ilmu bisa kita jamah. Allah berkehendak menjadikan sebagian perkara itu tetap menjadi misteri, dan hanya diketahui hakikat pastinya oleh-Nya. Termasuk dalam masalah ruh, Allah berfirman,

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu Termasuk urusan Rabbku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”" (QS. al-Isra’:85)

Namun, jika pertanyaannya sebatas, apakah orang yang mati suri itu benar-benar mati hakiki ataukah belum mati, maka ini masuk wilayah dari sedikit ilmu yang bisa kita dapatkan dalam dalil-dalil yang ada.

Allah menyebutkan, ada dua kondisi di mana Allah menahan nyawa manusia; tatkala dalam kondisi ‘maut’ dan ‘manam’. Allah berfirman,

“Allah memegang jiwa orang ketika matinya (maut) dan jiwa orang yang belum mati di waktu tidurnya (manam). Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.” (QS. az-Zumar 42)

Ibnu Katsir Rahimahullah menukil perkataan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhumaa tentang ayat ini, “Arwah orang yang telah mati ditahan, dan arwah orang yang hidup dikembalikan.”
Maknanya, orang yang pada akhirnya dikembalikan nyawanya itu hakikatnya masuk dalam kategori ‘lam tamut’, belum mati. Dia masuk dalam kategori ‘manam’ (tidur) dengan berbagai level kesadaran dan kondisi fisiologisnya. Baik dalam kondisi tidur, pingsan, koma, maupun mati suri. Jadi, hakikatnya orang yang mengalami mati suri itu belum mati secara hakiki. Wallahu a’lam. (Abu Umar Abdillah/ majalah arrisalah edisi 119/ Kasyfu Syubhat).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar