Sabtu, 24 November 2012

397 : HUKUM PEMBERIAN HADIAH HARI RAYA ORANG KAFIR

PERTANYAAN

Narti Khoir

Assalamualaikum...bolehkah seorang majikan muslim memberikan THR (tunjangan natal,galungan dlsb) kepada karyawannya yg non muslim?



JAWABAN

Siroj Munir

MADZHAB HANAFI

قَالَ - رَحِمَهُ اللَّهُ - (وَالْإِعْطَاءُ بِاسْمِ النَّيْرُوزِ وَالْمِهْرَجَانِ لَا يَجُوزُ) أَيْ الْهَدَايَا بِاسْمِ هَذَيْنِ الْيَوْمَيْنِ حَرَامٌ بَلْ كُفْرٌ، وَقَالَ أَبُو حَفْصٍ الْكَبِيرُ - رَحِمَهُ اللَّهُ - لَوْ أَنَّ رَجُلًا عَبَدَ اللَّهَ خَمْسِينَ سَنَةً ثُمَّ جَاءَ يَوْمُ النَّيْرُوزِ، وَأَهْدَى لِبَعْضِ الْمُشْرِكِينَ بَيْضَةً يُرِيدُ بِهِ تَعْظِيمَ ذَلِكَ الْيَوْمِ فَقَدْ كَفَرَ، وَحَبِطَ عَمَلُهُ، وَقَالَ صَاحِبُ الْجَامِعِ الْأَصْغَرِ إذَا أَهْدَى يَوْمَ النَّيْرُوزِ إلَى مُسْلِمٍ آخَرَ، وَلَمْ يُرِدْ بِهِ التَّعْظِيمَ لِذَلِكَ الْيَوْمِ، وَلَكِنْ مَا اعْتَادَهُ بَعْضُ النَّاسِ لَا يَكْفُرُ، وَلَكِنْ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ لَا يَفْعَلَ ذَلِكَ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ خَاصَّةً، وَيَفْعَلُهُ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ كَيْ لَا يَكُونَ تَشَبُّهًا بِأُولَئِكَ الْقَوْمِ، وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ» ، وَقَالَ فِي الْجَامِعِ الْأَصْغَرِ رَجُلٌ اشْتَرَى يَوْمَ النَّيْرُوزِ شَيْئًا لَمْ يَكُنْ يَشْتَرِيهِ قَبْلَ ذَلِكَ إنْ أَرَادَ بِهِ تَعْظِيمَ ذَلِكَ الْيَوْمِ كَمَا يُعَظِّمُهُ الْمُشْرِكُونَ كَفَرَ، وَإِنْ أَرَادَ الْأَكْلَ وَالشُّرْبَ وَالتَّنَعُّمَ لَا يَكْفُرُ

Imam Az-Zaila'i menyatakan Pemberian hadiah pada hari raya orang kafir seperti hari raya "Nairuz" dan "Mahrijan" hukumnya harom, Imam Abu Hafsh menambahkan, apabila tujuannya untuk mengagungkan hari raya mereka maka orang tersebut dihukumi kafir (murtad), dan semua pahala amalnya akan musnah
( Tabyinul haqo'iq, Juz : 6 Hal : 228 )

MADZHAB MALIKI

وَكَرِهَ ابْنُ الْقَاسِمِ أَنْ يُهْدِيَ لِلنَّصْرَانِيِّ فِي عِيدِهِ مُكَافَأَةً لَهُ وَنَحْوُهُ إعْطَاءُ الْيَهُودِيِّ وَرَقَ النَّخِيلِ لِعِيدِهِ

Menurut Imam Ibnul Qosim menghadiahkan sesuatu kepada orang nasrani pada hari rayanya, begitu pula pemberian hadiah kepada orang yahudi untuk tujuan hari raya mereka atas nama balas budi hukumnya makruh.
( At-Taj Wal-Iklil, Juz : 4 Hal : 319 )

MADZHAB HANBALI

ويحرم شهود عيد اليهود والنصارى وبيعه لهم فيه ومهاداتهم لعيدهم

Dan diharomkan menyaksikan perayaan hari raya orang yahudi dan nasrani, berjualan untuk mereka pada hari rayanya dan juga memberikan hadiah untuk hari raya mereka
( Al-Iqna', Juz : 2 Hal : 49 )

AL-ISLAM SUA'L WAL JAWAB, Fatwa no. 85108

لا يجوز أن يهدي للكافر في يوم عيد من أعياده ، لأن ذلك يعد إقرارا ومشاركة في الاحتفال بالعيد الباطل .
وإذا كانت الهدية مما يستعان به على الاحتفال كالطعام والشموع ونحو ذلك ، كان الأمر أعظم تحريما

Tidak diperbolehkan memberikan hadiah pada orang kafir pada hari raya mereka, sebab hal itu sama saja dengan pengakuan dan ikut bersama dalam perayaan hari raya mereka yang bathil.

Dan jika pemberian itu berupa barang-barang yang akan membantu mereka untuk perayaan tersebut, maka pemberian tersebut sangat diharomkan



Narti Khoir

Siroj@Matur suwun sanget pak...atas penjelasannya, lalu bagaimana ya sbaiknya perlakuan(adil) majikan bila punya pekerja/karyawan yg non muslim,krn karyawan yg lain (muslim) selalu dpt THR bila idul fitri...krn bila diperlakukan beda tentu akan menimbulkan suatu kecemburuan dan kesenjangan sesama karyawan.



Siroj Munir

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, hukum asalnya tidak boleh. Adapun jika hal tersebut sudah menjadi aturan pemerintah, dalam ajaran agama peraturan yang bertentangan dengan agama tidak wajib dita'ati.

Sebagai solusi, THR tersebut diberikan dengan niat untuk meluluhkan hati mereka (ta'lif li qulubihim) dan mengharap mereka mau masuk islam, namun tetap bukan dengan tujuan untuk mengagungkan hari raya mereka atau membantu mereka untuk merayakan hari rayanya, sebab larangan tersebut diberlakukan karena hal tersebut sama saja dengan membantu kegiatan keagamaan mereka dan dikhawatirkan orangmuslim ikut mengagungkan hari raya keagamaan mereka.

Kebolehan memberikan hadiah untuk tujuan ta'lifan liqulubihim dan mengharap mereka mau masuk Islam tadi didasarkan pada sebuah hadits yang mengisahkan bahwasanya sahabat Umar bin Khottob rodhiyallohu 'anhu pernah memberikan hadiah kepada saudaranya yang non muslim

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ رَأَى عُمَرُ حُلَّةً عَلَى رَجُلٍ تُبَاعُ فَقَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ابْتَعْ هَذِهِ الْحُلَّةَ تَلْبَسْهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَإِذَا جَاءَكَ الْوَفْدُ فَقَالَ إِنَّمَا يَلْبَسُ هَذَا مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ فَأُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا بِحُلَلٍ فَأَرْسَلَ إِلَى عُمَرَ مِنْهَا بِحُلَّةٍ فَقَالَ عُمَرُ كَيْفَ أَلْبَسُهَا وَقَدْ قُلْتَ فِيهَا مَا قُلْتَ قَالَ إِنِّي لَمْ أَكْسُكَهَا لِتَلْبَسَهَا تَبِيعُهَا أَوْ تَكْسُوهَا فَأَرْسَلَ بِهَا عُمَرُ إِلَى أَخٍ لَهُ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ قَبْلَ أَنْ يُسْلِمَ

"Dari Ibnu'Umar radliallahu 'anhuma berkata; 'Umar melihat pakaian terbuat dari sutera dijajakan oleh seseorang lalu dia berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Belilah pakaian ini untuk Baginda kenakan pada hari Jum'at dan saat menyambut utusan (delegasi) ". Maka Beliau bersabda: "Sesungguhnya orang yang memakai pakaian seperti ini adalah orang yang tidak akan mendapat bagian di akhirat". Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diberikan pakaian diantaranya ada yang terbuat dari sutera lalu Beliau berikan diantaranya kepada 'Umar. Maka 'Umar berkata: "Baginda menyuruh aku mengenakannya sedang Baginda telah berkomentar negatif tentangnya!". Beliau berkata, "Aku memberikannya kepadamu bukan untuk kamu pakai, tapi juallah atau hadiahkan". Lalu 'Umar memberikan pakaian sutera tersebut kepada saudaranya yang tinggal di kota Makkah sebelum masuk Islam" ( ShohihBukhori, no.2426 )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar