Jumat, 07 Juni 2013

884 : HUKUM MENINGGALKAN SHOLAT KARENA TERPAKSA

PERTANYAAN

Siti Aminah

assalamu'alaikum..
maaf numpang tanya,hukum tkw yg meninggal kn sholat dan puasa karna tdk bisa(tdk ada waktu) / tdk di perboleh kn majikan apa? syukron

JAWABAN

Brojol Gemblung


Wa'alaikumussalam

Penanya memberikan dua pilihan kasus yg sebenarnya tidak sama konsekuensi hukumnya; tidak menemukan waktu dan tidak boleh karena dilarang majikan, ini dua hal yg berbeda, kok malah dibuat pilihan...

Berangkat dari kasus orang yg dipaksa untuk meninggalkan shalat hingga seseorang pun terpaksa meninggalkan shala, secara tela'ah dangkal orang tersebut tidak dihukumi berdosa, hal ini berpijak pada sabda Nabi :

ﺭُﻓِﻊَ ﻋَﻦْ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﺍﻟْﺨَﻄَﺄُ ﻭَﺍﻟﻨِّﺴْﻴَﺎﻥُ ﻭَﻣَﺎ ﺍﺳْﺘُﻜْﺮِﻫُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ. ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺍﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻭﺍﻟﺪﺍﺭﻗﻄﻨﻲ ﻭﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻭﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ

Dimaafkan atas ummatku karena kekeliruan, lupa dan karena dipaksa. Hadits Riwayat Ibn Majah, Ibn Hibban, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, al- Hakim, dan at-Thabrani

Namun dalam hal keterpaksaan ini, Imam Nawawi menjelaskan dalam pembahasan tentang "orang yg terpaksa mengakhirkan shalat", bahwa hal itu untuk kasus seseorang yg dipaksa meninggalkan shalat dan melakukannya dg cara berisyaroh. Lantas bila seseorang masih bisa melakukan shalat dg cara berisyaroh menggunakan kepala dan kedipan kelopak mata, maka shalat tetap wajib dia kerjakan untuk menghormat waktu serta wajib mengqadha`nya.

Maka dg demikian, andai majikan tidak memperbolehkan pembantunya untuk shalat dan diapun melarangnya melakukan shalat dg cara berisyaroh, maka boleh bagi pembantu untuk mengakhirkan shalat sampai keluar dari waktunya, dan diapun wajib qadha` atas shalat yg telah tertinggal. Namun kalau majikan hanya melarang pembantu untuk shalat tapi tidak melarangnya shalat dg cara isyaroh, maka dia wajib shalat dg cara isyaroh memakai kepala dan mata sebagaimana orang sakit, dan wajib qadha` atas shalat yg dia kerjakan tersebut.

Dan andai majikan melarang total tentang hal yg berkaitan dg shalat dalam keadaan bagaimanapun, maka dia tidaj berdosa karena telah meninggalkan shalat, dan wajib baginya untuk mengqadha` shalat yg telah dia tinggalkan setelah dia terbebas dari belenggu sang majikan.

ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ - ﻣﺤﻴﻰ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ - ﺝ - ٣ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٦٤ :

ﻭﺃﻣﺎ ﻗﻮﻟﻪ: ﺃﻭ ﻣﻦ ﺃﻛﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﺗﺄﺧﻴﺮﻫﺎ. ﻓﻤﺤﻤﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺃﻛﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﻣﻨﻊ ﻣﻦ ﺍﻻﻳﻤﺎﺀ ﺑﻬﺎ ﺃﻭ ﺃﻛﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻠﺒﺲ ﺑﻤﺎ ﻳﻨﺎﻓﻴﻬﺎ. ﻓﺎﻣﺎ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻛﺬﻟﻚ ﻭﺃﻣﻜﻨﻪ ﺍﻻﻳﻤﺎﺀ ﺑﺮﺃﺳﻪ ﻭﻋﻴﻨﻪ ﺃﻭ ﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﻓﻴﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻟﺤﺮﻣﺘﻪ ﻭﻳﻌﻴﺪ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻟﻪ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻓﻲ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﺍﻟﻐﺮﻳﻖ ﻭﺍﻟﻤﺼﻠﻮﺏ ﻭﺍﻟﻤﺮﻳﺾ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ ﻣﻤﻦ ﻋﺠﺰ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﻭﺍﺗﻤﺎﻡ ﺍﻷﺭﻛﺎﻥ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺑﺤﺴﺐ ﺍﻻﻣﻜﺎﻥ ﻭﺗﺠﺐ ﺍﻹﻋﺎﺩﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ. ﻭﺳﺒﻖ ﺑﻴﺎﻥ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻭﺍﻟﺨﻼﻑ ﻓﻴﻬﺎ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺘﻴﻤﻢ ﻭﻗﺪ ﻧﺺ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻜﺮﻩ ﻓﻘﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻮﻳﻄﻲ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺠﻨﺎﺋﺰ ﺑﺪﻭﻥ ﻭﺭﻗﺔ ﻭﻟﻮ ﺃﺳﺮ ﺭﺟﻞ ﻭﻣﻨﻊ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻘﺪﺭ ﺍﻥ ﻳﺼﻠﻴﻬﺎ ﺇﻳﻤﺎﺀ ﺻﻼﻫﺎ ﻭﻟﻢ ﻳﺪﻋﻬﺎ ﻭﺃﻋﺎﺩﻫﺎ

Dan mengenai seseorang itu dapat dikategorikan terpaksa, maka harus memenuhi syarat-syarat berikut ini :

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ - ﺍﻟﻔﻘﻪ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲ ﻭﺃﺩﻟﺘﻪ 6/256 :

ﻭﺍﻟﺨﻼﺻﺔ: ﺍﺗﻔﻖ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﻭﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ﻋﻠﻰ ﺷﺮﻭﻁ ﺛﻼﺛﺔ ﻟﻺﻛﺮﺍﻩ ﻫﻲ:

ﺃﻭﻻً ـ ﻗﺪﺭﺓ ﺍﻟﻤﻜﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﺗﺤﻘﻴﻖ ﻣﺎ ﻫﺪﺩ ﺑﻪ ﺑﺴﻠﻄﺎﻥ ﺃﻭ ﺗﻐﻠﺐ ﻛﺎﻟﻠﺺ ﻭﻧﺤﻮﻩ.

ﻭﺛﺎﻧﻴﺎً ـ ﻋﺠﺰ ﺍﻟﻤﺴﺘﻜﺮﻩ ﻋﻦ ﺩﻓﻊ ﺍﻹﻛﺮﺍﻩ ﺑﻬﺮﺏ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ، ﻭﺃﻥ ﻳﻐﻠﺐ ﻋﻠﻰ ﻇﻨﻪ ﻧﺰﻭﻝ ﺍﻟﻮﻋﻴﺪ ﺑﻪ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺠﺒﻪ ﺇﻟﻰ ﻣﺎﻃﻠﺒﻪ.

ﻭﺛﺎﻟﺜﺎً ـ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻤﺎ ﻳﺴﺘﻀﺮ ﺑﻪ ﺿﺮﺭﺍً ﻛﺜﻴﺮﺍً ﻛﺎﻟﻘﺘﻞ ﻭﺍﻟﻀﺮﺏ ﺍﻟﺸﺪﻳﺪ، ﻭﺍﻟﻘﻴﺪ ﻭﺍﻟﺤﺒﺲ ﺍﻟﻄﻮﻳﻠﻴﻦ، ﻭﺇﺗﻼﻑ ﻣﺎﻝ ﻭﻧﺤﻮﻩ.

ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺸﺘﻢ ﺃﻭ ﺍﻟﺴﺐ ﻓﻠﻴﺲ ﺑﺈﻛﺮﺍﻩ. ﻭﺍﺷﺘﺮﻁ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﺃﻳﻀﺎً ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻹﻛﺮﺍﻩ ﺑﻐﻴﺮ ﺣﻖ.

RINGKSAN : Kalangan Syafi’iyyah dan Hanabilah sepakat untuk dapatnya dikatakan ‘terpaksa’ harus memenuhi beberapa syarat :

1. Kemampuan pihak pemaksa untuk mewujudkan ancamannya sebab ia penguasa atau punya kemampuan mengalahkan seperti perampok dan sejenisnya

2. Ketidakberdayaan pihak yang dipaksa untuk melawannya dengan melarikan diri atau lainnya dan ia percaya akan menerima segala bentuk ancamannya bila tidak memenuhi tuntutan pihak pemaksa

3. Jenis ancaman berupa sesuatu yang membuat pihak yang dipaksa mengalami bahaya yang sangat berat seperti pembunuhan, pemukulan kasar, diikat, disekap, dirusak hartanya dan sejenisnya.

Sedangkan ancaman berupa umpatan, cacian maka tidak tergolong ancaman. Kalangan Syafi’iyyah menambahkan dari syarat diatas “Paksaannya bukan terhadap perkara yang hak”.

Link Kitab: http://islamport.com/w/fqh/Web/1272/3849.htm

ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ - ﺯﻛﺮﻳﺎ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭﻱ - ﺝ - ٢ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٢٤ - ١٢٥:

ﻭﺷﺮﻁ ﺍﻻﻛﺮﺍﻩ ﻗﺪﺭﺓ ﻣﻜﺮﻩ ﺑﻜﺴﺮ ﺍﻟﺮﺍﺀ ﻋﻠﻰ ﺗﺤﻘﻴﻖ ﻣﺎ ﻫﺪﺩ ﺑﻪ ﺑﻮﻻﻳﺔ ﺃﻭ ﺗﻐﻠﺐ ﻋﺎﺟﻼ ﻇﻠﻤﺎ. ﻭﻋﺠﺰ ﻣﻜﺮﻩ ﺑﻔﺘﺢ ﺍﻟﺮﺍﺀ ﻋﻦ ﺩﻓﻌﻪ ﺑﻬﺮﺏ ﻭﻏﻴﺮﻩ، ﻛﺎﺳﺘﻐﺎﺛﺔ ﺑﻐﻴﺮﻩ ﻭﻇﻨﻪ ﺃﻧﻪ ﺇﻥ ﺍﻣﺘﻨﻊ ﻣﻦ ﻓﻌﻞ ﻣﺎ ﺃﻛﺮﻩ ﻋﻠﻴﻪ، ﺣﻘﻘﻪ ﺃﻱ ﻣﺎ ﻫﺪﺩ ﺑﻪ. ﻭﻳﺤﺼﻞ ﺍﻻﻛﺮﺍﻩ، ﺑﺘﺨﻮﻳﻒ ﺑﻤﺤﺬﻭﺭ ﻛﻀﺮﺏ ﺷﺪﻳﺪ ﺃﻭ ﺣﺒﺲ ﺃﻭ ﺇﺗﻼﻑ ﻣﺎﻝ.

ﻭﻳﺨﺘﻠﻒ ﺫﻟﻚ ﺑﺎﺧﺘﻼﻑ ﻃﺒﻘﺎﺕ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺃﺣﻮﺍﻟﻬﻢ، ﻓﻼ ﻳﺤﺼﻞ ﺍﻻﻛﺮﺍﻩ ﺑﺎﻟﺘﺨﻮﻳﻒ ﺑﺎﻟﻌﻘﻮﺑﺔ ﺍﻵﺟﻠﺔ، ﻛﻘﻮﻟﻪ ﻷﺿﺮﺑﻨﻚ ﻏﺪﺍ، ﻭﻻ ﺑﺎﻟﺘﺨﻮﻳﻒ ﺑﺎﻟﻤﺴﺘﺤﻖ ﻛﻘﻮﻟﻪ ﻟﻤﻦ ﻟﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻗﺼﺎﺹ ﻃﻠﻘﻬﺎ، ﻭﺇﻻ ﺍﻗﺘﺼﺼﺖ ﻣﻨﻚ ﻭﻫﺬﺍﻥ ﺧﺮﺟﺎ ﺑﻤﺎ ﺯﺩﺗﻪ ﺑﻘﻮﻟﻲ، ﻋﺎﺟﻼ ﻇﻠﻤﺎ،

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﻔﻘﻬﻴﺔ ﺍﻟﻜﻮﻳﺘﻴﺔ :

ﻭﻗﺪ ﺃﻟﺤﻖ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﻨّﻮﻉ ﺍﻹﻛﺮﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺇﻓﺴﺎﺩ ﺻﻮﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ، ﺃﻭ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﺼّﻼﺓ ﺍﻟﻤﻔﺮﻭﺿﺔ، ﺃﻭ ﺇﺗﻼﻑ ﻣﺎﻝ ﺍﻟﻐﻴﺮ، ﻓﺈﻥّ ﺍﻟﻤﻜﺮﻩ ﻟﻮ ﺻﺒﺮ ﻭﺗﺤﻤّﻞ ﺍﻷﺫﻯ، ﻭﻟﻢ ﻳﻔﻌﻞ ﻣﺎ ﺃﻛﺮﻩ ﻋﻠﻴﻪ ﻛﺎﻥ ﻣﺜﺎﺑﺎً، ﻭﺇﻥ ﻓﻌﻞ ﺷﻴﺌﺎً ﻣﻨﻬﺎ ﻓﻼ ﺇﺛﻢ ﻋﻠﻴﻪ،

Link Kitab: http://www.al-eman.com/الكتب/الموسوعة%20الفقهية%20الكويتية%20****/%20الإكراه%20الملجئ%20والإكراه%20غير%20الملجئ/i232&d134808&c&p1


link dokumen :

 http://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/599867543371321/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar