Minggu, 16 Juni 2013

920 : DILEMA ANTARA MELESTARIKAN PUASA DAN SHALAT

920 : DILEMA ANTARA MELESTARIKAN PUASA DAN SHALAT

oleh :Brojol Gemblung

DILEMA ANTARA MELESTARIKAN PUASA DAN SHALAT

إنارة الدجى على شرح تنوير الحجا نظم سفينة النجا ص 172 :

السادس لو أصبح وفي فمه خيط متصل بجوفه وهو يصلي الصبح مثلا، فإذا لم يبتلعه ولم يخرجه بطلت صلاته لاتصاله بنجاسة الباطن، وبلعه وإخراجه مفسد لصومه لأنه أكل عمدا أو إستقاءه عمدا فتعارض عليه بطلان الصوم أو الصلاة.

قال الزركشي؛ فيجب عليه نزعه أو إبتلاعه محافظة على الصلاة لأن حكمها أغلظ من حكم الصوم لقتل تاركها دونه، ولأنها لا تترك بالعذر بخلافه، لكن إبتلاعه أولى من إخراجه لأنه يؤدي لتنجيس فمه، وهذا إذا لم يتأت له قطع الخيط من حد الظاهر من الفم، وإلا وجب القطع وابتلع ما في حد الباطن وأخرج ما في حد الظاهر.

قال الزيادي؛ والباطن من الحلق مخرج الهمزة والهاء دون الخاء المعجمة، وكذا المهملة عند النووي. إهـ

وليس كالخيط المذكور في كون إخراجه يشبه الإستقاءة عود أدخله في دبره أو أذنه ليلا وأصبح صائما ثم أخرجه بعد الفجر فلا يفطر إخراجه.

قلت؛ والأسهل في هذه المسئلة تقليد مالك، فإن المعدة عنده طاهرة لا يتنجس ما وصل إليها والخارج من الجوف لا يفطر، وكذا بلع مثل هذا الخيط وما بين الأسنان من بقية الطعام لا يفطر، فتنبه. إهـــــ

Sub Bahasan Yang Keenam : Andai seseorang memasuki waktu pagi dan dimulutnya terdapat benang yg bersambung dg rongga bagian dalam sementara dia melakukan shalat shubuh misalnya, apabila dia tidak menelan benangnya dan tidak mengeluarkannya maka batal shalatnya, karena dia bersambung dg najisnya anggota dalam, sedangkan menelan dan mengeluarkannya dapat merusak puasanya, karena dia sengaja memakannya atau sengaja ingin memuntahkannya, lantas dia dilema antara batalnya puasa atau shalat.

Imam al-Zarkasyi berkata: Maka wajib atasnya untuk melepas atau menelan benang tersebut demi menjaga kelestarian shalat, karena hukum shalat lebih berat dari pada hukum puasa karena orang yg meninggalkan shalat itu dibunuh, tapi tidak dg puasa. Dan karena shalat tidak bisa ditinggalkan sebab ada 'udzur, berbeda halnya dg puasa, akan tetapi menelan benang tersebut itu lebih utama dari pada mengeluarkannya, karena bisa menyebabkan kenajisan mulutnya. Hal semacam ini dilakukan bilamana tidak dimungkinkan baginya untuk memotong benang tersebut dari batas anggota zdahir di mulut, dan bilamana masih bisa maka wajib memotongnya dan menelah sisa benang yg ada di batas anggota bathin, serta mengeluarkan sisa benang yg ada di batas anggota zdahir.

Imam al-Zayyadi berkata: Anggota bathin pada tenggorokan ialah tempat keluarnya huruf Hamzah dan Haa`, bukan huruf Khaa`, demikian juga bukan huruf Haa` menurut Imam Nawawi. Selesai

Kasus tentang mengeluarkan benang tersebut yg mirip dg masalah Istiqa`ah (ingin / uapaya muntah) tidaklah sama dg kasus tentang sebuah kayu yg dimasukkan ke lubang anusnya atau telinganya pada waktu malam, dan memasuki waktu pagi dalam keadaan berpuasa, kemudian mengeluarkannya setelah terbitnya fajar, maka mengeluarkan kayu tersebut tidak membatalkan puasa.

Saya (Syech Muhammad 'Aly bin Husain al-Makky) berkata: Solusi yg paling mudah dalam masalah ini adalah dg cara mengikuti / bertaqlid pada Imam Malik, karena menurut beliau; lambung itu suci, sesuatu yg sampai ke lambung tidak menjadi najis dan sesuatu yg keluar dari rongga dalam tidak membatalkan puasa. Demikian juga menelan benang ini, dan sisa-sisa makanan yg ada di antara gigi itu tidak membatalkan puasa, maka ingatlah. Selesai
 
link dokumen :
http://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/603952306296178/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar