Jumat, 21 Juni 2013

942 : HUKUM BERSENGGAMA SEBELUM ISTRI MANDI HAID

PERTANYAAN
Zafi AL Dimass

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarolatuh,,,,,,,,,?

Kepada Para Asitidz/wal Asatdzah yang di mulyakan Allah......

Saya mohon izin bertanya,,,,,,
Bolehkah Kita Menjimak Sang Istri setelah Habis Haid, tapi sang istri tersebut masih keada'an tak Suci (belum Mandi Besar,alias menghilangkan hadast besar),,,,,,,?

Monggo Pencerahannya,,,,,,,terimakasih ?
JAWABAN

Mbah Pardan Milanistie

wa'alaikum salam

Wayahrumu bihi ma yahrumu bil jinabati wa mubasirotin ma baina surrotiha warrukbatiha wa qila la yahrumu ghoirul wath'i wahtarohu an-Nawawy fi tahqiqi li khobari Muslimin Isna'uu kulla sya'in illannikaha wa idza inqotho'a damuha hilla laha qoblalgusli shoumun la wath'a khilafan lima bahatsahu al alamah al Jalalusyuyuthi rohimahulloh. Fathul Mu'in bil Hamisy I'anathuttholibin juz 1/72-73

Dan harom sebab Haid sama sepertti harom.sebab jinabat dan harom menyentuh antara pusar dan lutut, tp ada pendapt yang membolehkannya kecuali jima' dan Imam Nawawy di dalam kitab Tahqiq memilih pendapat ini berdasar Hadist Imam Muslim "Berbuatlh segala sesuatu kecuali Jima' dan apa bila darah Haid sudah berhenti maka halal bagi permpuan sebelum mandi untuk puasa tapi tidak untuk jima' lain pendapat dengan Imam Jalal as-Suyuthi.

Wallohu a'lam


 Brojol Gemblung ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﺰﻳﻦ ﻓﻲ ﺇﺭﺷﺎﺩ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﺋﻴﻦ ﺹ 34 :

ﻭﺍﻟﺘﺎﺳﻊ ﺍﻟﻮﻁﺀ ﻭﻟﻮ ﺑﺤﺎﺋﻞ ﺛﺨﻴﻦ ﻭﻟﻮ ﺑﻌﺪ ﺍﻧﻘﻄﺎﻉ ﺍﻟﺪﻡ ﻭﻗﺒﻞ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﻭﻫﻮ ﻛﺒﻴﺮﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺎﻣﺪ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺑﺎﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﺍﻟﻤﺨﺘﺎﺭ ﻳﻜﻔﺮ ﻣﺴﺘﺤﻠﻪ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻞ ﺍﻻﻧﻘﻄﺎﻉ ﻭﻗﺒﻞ ﺑﻠﻮﻍ ﻋﺸﺮﺓ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺇﻻ ﻓﻼ ﻳﻜﻔﺮ ﻟﻠﺨﻼﻑ ﻓﻴﻪ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻭﻣﺤﻞ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﺑﺎﻻﺳﺘﺤﻼﻝ ﺃﻳﻀﺎ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺑﻠﺪ ﻣﻌﻠﻮﻡ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﺣﺮﻣﺔ ﺫﻟﻚ ﺑﺎﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﻭﺇﻻ ﻓﻼ ﻛﻔﺮ ﻛﺒﻌﺾ ﺍﻟﺒﻼﺩ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺠﻬﻠﻮﻥ ﺣﺮﻣﺔ ﺫﻟﻚ ﻭﻣﺤﻞ ﺣﺮﻣﺘﻪ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺨﻒ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﻓﺈﻥ ﺧﺎﻓﻪ ﻭﺗﻌﻴﻦ ﺍﻟﻮﻁﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻴﺾ ﻃﺮﻳﻘﺎ ﻟﺪﻓﻌﻪ ﺟﺎﺯ ﻷﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﺗﻌﺎﺭﺽ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﻣﻔﺴﺪﺗﺎﻥ ﻗﺪﻡ ﺃﺧﻔﻬﻤﺎ. ﺇﻫـ

Yang kesembilan adalah berhubungan intim meskipun beserta penghalang yg tebal dan meskipun setelah terputusnya darah dan sebelum mandi besar. Itu adalah dosa besar bagi orang yg sengaja, mengerti keharamannya, serta tidak dalam keadaan darurat, yg dihukumi kufur orang yg menghalalkannya apabila hal itu dilakukan sebelum terputusnya darah dan sebelum mencapai sepuluh hari. Dan apabila tidak demikian maka tidak dihukumi kufur karena terdapat perbedaan pandangan tentangnya. Dan demikian juga penghalalan tersebut dihukumi kufur apabila terjadi di sebuah daerah yg memang sudah maklum bagi penduduk akan keharamannya, dan apabila tidak demikian maka tidak dihukumi kufur, sebagaimana sebagian daerah yg penduduknya tidak mengerti akan keharamannya. Letak keharaman melakukan hubungan intim tersebut jika tidak khawatir zina, lantas apabila dikhawatirkan berbuat zina dan berhubungan intim merupakan jalan satu-satunya agar bisa menghindar dari zina maka boleh melakukan hubungan intim, karena apabila terdapat dua mafsadah yg menghadap terhadap seseorang maka yg lebih ringan dari keduanya yg didahulukan

ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ - ﺍﻟﻤﻠﻴﺒﺎﺭﻱ ﺍﻟﻬﻨﺪﻱ - ﺝ - ١ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٨٨ - ٨٩:

ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺑﻪ ﻣﺎ ﻳﺤﺮﻡ ﺑﺎﻟﺠﻨﺎﺑﺔ، ﻭﻣﺒﺎﺷﺮﺓ ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﺳﺮﺗﻬﺎ ﻭﺭﻛﺒﺘﻬﺎ. ﻭﻗﻴﻞ: ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻮﻃﺊ. ﻭﺍﺧﺘﺎﺭﻩ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺤﻘﻴﻖ، ﻟﺨﺒﺮ ﻣﺴﻠﻢ: ﺍﺻﻨﻌﻮﺍ ﻛﻞ ﺷﺊ ﺇﻻ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ. ﻭﺇﺫﺍ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﺩﻣﻬﺎ ﺣﻞ ﻟﻬﺎ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﺻﻮﻡ ﻻ ﻭﻃﺊ، ﺧﻼﻓﺎ ﻟﻤﺎ ﺑﺤﺜﻪ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﺠﻼﻝ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻲ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ.

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ - ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ - ﺝ ١ - ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٨٩ :

ﻗﻮﻟﻪ: ﻻ ﻭﻃﺊ ﺃﻱ ﺃﻣﺎ ﻫﻮ ﻓﻴﺤﺮﻡ، ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻭﻻ ﺗﻘﺮﺑﻮﻫﻦ ﺣﺘﻰ ﻳﻄﻬﺮﻥ * ﻭﻗﺪ ﻗﺮﺉ ﺑﺎﻟﺘﺸﺪﻳﺪ ﻭﺍﻟﺘﺨﻔﻴﻒ. ﺃﻣﺎ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﺘﺸﺪﻳﺪ ﻓﻬﻲ ﺻﺮﻳﺤﺔ ﻓﻴﻤﺎ ﺫﻛﺮ، ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺘﺨﻔﻴﻒ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻪ ﺃﻳﻀﺎ ﺍﻻﻏﺘﺴﺎﻝ - ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺑﻪ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﺟﻤﺎﻋﺔ، ﻟﻘﺮﻳﻨﺔ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻓﺈﺫﺍ ﺗﻄﻬﺮﻥ * - ﻓﻮﺍﺿﺢ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻪ ﺍﻧﻘﻄﺎﻉ ﺍﻟﺤﻴﺾ ﻓﻘﺪ ﺫﻛﺮ ﺑﻌﺪﻩ ﺷﺮﻃﺎ ﺁﺧﺮ ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ﻓﺈﺫﺍ ﺗﻄﻬﺮﻥ * ﻓﻼ ﺑﺪ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻣﻌﺎ. ﺍﻫ ﺇﻗﻨﺎﻉ.
ﻗﻮﻟﻪ: ﺧﻼﻓﺎ ﻟﻤﺎ ﺑﺤﺜﻪ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﺠﻼﻝ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻲ ﺃﻱ ﻣﻦ ﺣﻞ ﺍﻟﻮﻃﺊ ﺃﻳﻀﺎ ﺑﺎﻻﻧﻘﻄﺎﻉ. ﺍﻫ.


Sunde Pati  

iki tak tambahi ibaroh sebagai pelengkap

حلية العلماء (1/ 216)

فإذا طهرت من الحيض لم يحل له وطؤها حتى تغتسل وبه قال مالك وأحمد وأبو ثور وقال أبو حنيفة إذا انقطع دمها لأكثر الحيض حل وطؤها قبل الغسل وإن انقطع لما دون الأكثر لم يحل وطؤها حتى تغتسل أو يمضي عليها وقت صلاة وقال داود إذا غسلت فرجها من الدم بعد انقطاعه حل وطؤها وحكى عن طاوس ومجاهد أنها إذا توضأت حل وطؤها فإن لم تجد ماء تيممت وحل وطؤها  

jika sudah suci dari haid maka bagi suami tidak boleh menjimak istri sehingga istri tersebut mandi terlebih dahulu dan pendapat ini didukung oleh imam malik,

imam ahmad dan imam abu tsaurAbu hanifah berpendapat jika darahnya berhenti dimasa maksimal waktu haid (dalam madzhab hanafi maksimal waktu haid adalah sempurnanya 10 hari)

maka boleh menjimaknya walau belum mandi dan jika darah berhenti kurang dari waktu maksimal maka tidak boleh menjimaknya sehingga mandi lebih dulu atau telah melewati waktu sholatimam dawud berpendapat jika farjinya sudah dibasuh dari darah yg ada setelah masa berhentinya darah maka boleh/halal menjimaknyaimam thowus dan mujahid bercerita jika istri tersebut sudah berwudlu maka halal menjimaknya jika tidak ada air maka bertayamum 

---------------------------------------------------------------- 

مغني المحتاج (1/ 111)فائدة حكى الغزالي أن الوطء قبل الغسل يورث الجذام في الولد  

faidah imam ghozali bercerita bahwa menjimak istri sebelum mandi dari haid maka bisa menyebabkan penyakit kusta

link dokumen :

 http://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/606155716075837/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar