Jumat, 07 Juni 2013

885 : HUKUM NIKAH TANPA MAHAR

PERTANYAAN
Mbah Pardan Milanistie

Assalamu 'alaikum...

Nyuwun pirso...Gus..

Andai Calon Istri rela di nikah walau tanpa di kasih Mahar...apa Aqad Nikahnya Sah..

Swunnnn

Wassalamu 'alaikum.

JAWABAN

Brojol Gemblung


Wa'alaikumussalam

Bila si perempuan telah rela dinikahi tanpa maskawin, maka sah akad nikahnya karena maskawin adalah haknya.

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ - ﻛﻔﺎﻳﺔ ﺍﻷﺧﻴﺎﺭ 3/16-18 :

ﻓﺼﻞ : ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺗﺴﻤﻴﺔ ﺍﻟﻤﻬﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﻢ ﺻﺢ ﺍﻟﻌﻘﺪ ﻭﻭﺟﺐ ﻣﻬﺮ ﺍﻟﻤﺜﻞ ﺑﺜﻼﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ : ﺃﻥ ﻳﻔﺮﺿﻪ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﺃﻭ ﻳﻔﺮﺿﻪ ﺍﻟﺰﻭﺟﺎﻥ ﺃﻭ ﻳﺪﺧﻞ ﺑﻬﺎ ﻓﻴﺠﺐ ﻣﻬﺮ ﺍﻟﻤﺜﻞ.

ﺍﻟﺼﺪﺍﻕ ﺑﻔﺘﺢ ﺍﻟﺼﺎﺩ ﻭﻛﺴﺮﻫﺎ ﻫﻮ ﺍﺳﻢ ﻟﻠﻤﺎﻝ ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﻟﻠﻤﺮﺃﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺑﺎﻟﻨﻜﺎﺡ ﺃﻭ ﺍﻟﻮﻁﺀ ﻭﻟﻪ ﺃﺳﻤﺎﺀ : ﺻﺪﺍﻕ ﻭﻧﺤﻠﺔ ﻭﻓﺮﻳﻀﺔ ﻭﺃﺟﺮ ﻭﻫﺬﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﻭﻣﻬﺮ ﻭﻋﻠﻴﻘﺔ ﻭﻋﻘﺮ ﻭﻫﺬﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﺸﺮﻳﻔﺔ ﻭﺍﻟﺼﺪﺍﻕ ﻣﺄﺧﻮﺫ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺪﻕ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺸﺪﻳﺪ ﺍﻟﺼﻠﺐ ﻷﻧﻪ ﺃﺷﺪ ﺍﻷﻋﻮﺍﺽ ﺛﺒﻮﺗﺎ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺴﻘﻂ ﺑﺎﻟﺘﺮﺍﺿﻲ.

ﻭﺍﻷﺻﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ﻭﺁﺗﻮﺍ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﺻﺪﻗﺎﺗﻬﻦ ﻧﺤﻠﺔ. ﻭﺍﻟﻨﺤﻠﺔ ﺍﻟﻬﺒﺔ ﻭﺳﻤﻲ ﻧﺤﻠﺔ ﻷﻥ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺗﺴﺘﻤﺘﻊ ﺑﺎﻟﺰﻭﺝ ﻛﻬﻮ ﺑﻞ ﻫﻲ ﺃﻛﺜﺮ ﻓﻜﺄﻧﻬﺎ ﺗﺄﺧﺬ ﺍﻟﺼﺪﺍﻕ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻣﻘﺎﺑﻠﺔ ﺷﺊ. ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻗﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺍﻟﺘﻤﺲ ﻭﻟﻮ ﺧﺎﺗﻤﺎ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺪ ﺛﻢ ﺇﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﺠﺪﻩ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ﺯﻭﺟﺘﻜﻬﺎ ﺑﻤﺎ ﻣﻌﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ.

ﺇﺫﺍ ﻋﺮﻓﺖ ﻫﺬﺍ ﻓﺎﻟﻤﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻌﻘﺪ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﺇﻻ ﺑﺼﺪﺍﻕ ﺍﻗﺘﺪﺍﺀ ﺑﺮﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﺈﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﻌﻘﺪ ﺇﻻ ﺑﻤﺴﻤﻰ ﻭﻷﻧﻪ ﺃﺩﻓﻊ ﻟﻠﺨﺼﻮﻣﺔ. ﻭﻣﻘﺘﻀﻰ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﻬﺮ ﻟﻴﺲ ﺭﻛﻨﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﻭﻫﻮ ﻛﺬﻟﻚ ﻗﺎﻝ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ : ﻟﻴﺲ ﺍﻟﻤﻬﺮ ﺭﻛﻨﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﺑﺨﻼﻑ ﺍﻟﺒﻴﻊ ﻓﺈﻥ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﺜﻤﻦ ﺭﻛﻦ ﻓﻴﻪ.

ﻭﺍﻟﻔﺮﻕ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﻘﺼﻮﺩ ﺍﻷﻋﻈﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﺍﻻﺳﺘﻤﺘﺎﻉ ﻭﺗﻮﺍﺑﻌﻪ ﻭﻫﻮ ﻗﺎﺋﻢ ﺑﺎﻟﺰﻭﺟﻴﻦ ﻓﻠﻬﺬﺍ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺭﻛﻨﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﺑﺨﻼﻑ ﺍﻟﺒﻴﻊ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻌﻮﺽ ﻣﻘﺼﻮﺩ ﻓﻴﻪ ﻭﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺫﻛﺮﻧﺎﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﺑﺎﻋﺘﺒﺎﺭ ﺟﻮﺍﺯ ﺍﺧﻼﺋﻪ ﻋﻦ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﺼﺪﺍﻕ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ﻻ ﺟﻨﺎﺡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺇﻥ ﻃﻠﻘﺘﻢ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻣﺎ ﻟﻢ ﺗﻤﺴﻮﻫﻦ ﺃﻭ ﺗﻔﺮﺿﻮﺍ ﻟﻬﻦ ﻓﺮﻳﻀﺔ.

ﻭﻫﻮ ﺩﻟﻴﻞ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﺍﻟﺘﻔﻮﻳﺾ ﺍﻟﺘﻲ ﺫﻛﺮﻫﺎ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺑﻘﻮﻟﻪ : ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﻢ ﺻﺢ ﺍﻟﻌﻘﺪ. ﻭﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﺘﻔﻮﻳﺾ ﺇﺧﻼﺀ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﻋﻦ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﺼﺪﺍﻕ ﻭﺻﻮﺭﺗﻪ ﺃﻥ ﻳﺼﺪﺭ ﻣﻦ ﻣﺴﺘﺤﻖ ﺍﻟﻤﻬﺮ ﻭﺫﻟﻚ ﺑﺄﻧﻪ ﺗﻘﻮﻝ ﺍﻟﺒﺎﻟﻐﺔ ﺍﻟﺮﺷﻴﺪﺓ ﺛﻴﺒﺎ ﻛﺎﻧﺖ ﺃﻭ ﺑﻜﺮﺍ : ﺯﻭﺟﻨﻲ ﺑﻼ ﻣﻬﺮ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻻ ﻣﻬﺮ ﻟﻲ ﻓﻴﺰﻭﺟﻬﺎ ﺍﻟﻮﻟﻲ ﻭﻳﻨﻔﻲ ﺍﻟﻤﻬﺮ ﺃﻭ ﻳﺴﻜﺖ.

ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺘﻔﻮﻳﺾ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺃﻳﻀﺎ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﺳﻴﺪ ﺍﻷﻣﺔ : ﺯﻭﺟﺘﻜﻬﺎ ﺑﻼ ﻣﻬﺮ ﺃﻭ ﻳﺴﻜﺖ ﻷﻧﻪ ﻣﺴﺘﺤﻖ ﺍﻟﻤﻬﺮ ﻓﺈﺫﺍ ﻭﻗﻊ ﺍﻟﻌﻘﺪ ﺻﺤﻴﺤﺎ ﻟﻢ ﻳﺠﺐ ﺑﻪ ﻣﻬﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﺪﻳﺪ ﺍﻷﻇﻬﺮ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻣﻘﺘﻀﻰ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ. ﻭﻭﺟﻪ ﻋﺪﻡ ﺛﺒﻮﺗﻪ ﺑﺎﻟﻌﻘﺪ ﺃﻧﻪ ﺣﻘﻬﺎ ﻓﺈﺫﺍ ﺭﺿﻴﺖ ﺑﻌﺪﻡ ﺛﺒﻮﺗﻪ ﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﻭﻷﻥ ﺍﻟﺼﺪﺍﻕ ﻟﻮ ﻭﺟﺐ ﺑﺎﻟﻌﻘﺪ ﻟﺘﻨﺼﻒ ﺑﺎﻟﻄﻼﻕ.

Link Kitab: http://islamport.com/w/shf/Web/3608/487.htm

 

 Fasal : Disunnahkan menyebut maskawin dalam nikah, apabila mahar tidak disebutkan maka akad tetap sah, dan wajiblah maskawin yg seimbang (Mahru al-Mitsli) dg tiga hal, yaitu kalau hakim menentukan mahas mitsil, atau suami-istri menentukannya, atau sesudah bersetubuh dengannya, maka wajiblah membayar mahar mitsil.

Maskawin (Shadaq) ialah sebutan bagi harta yg wajib atas seorang laki-laki untuk perempuan sebab nikah atau bersetubuh (wathi`). Di dalam al-Qur`an maskawin disebut Shadaq, Nihlah, Faridhah, dan Ajr. Dan di dalam Hadits disebut Mahar, 'Aliqah, dan 'Aqar. Shadaq berasal dari kata Shadq, artinya sangat keras karena pergantiannya (bayarannya) sangat mengikat, sebab maskawin tidak dapat gugur dg rela merelakan.

Dasarnya ialah al-Qur`an dan Hadits, Allah berfirman: "Berilah perempuan yg kamu kawini itu suatu pemberian (maskawin)". Nihlah adalah pemberian. Disebut nihlah karena orang perempuan bersenang-senang dg suami seperti halnya suami juga demikian. Bahkan si perempuan lebih banyak mendapat kesenangan seakan-akan ia mengambil maskawin tanpa imbangan apapun. Dan dari Hadits ialah sabda Nabi saw.: "Carilah walah hanya sebentuk cincin dari besi", kemudian orang yg disuruh mencari cincin dari besi itu tidak mendapatkannya pula, lalu Nabi bersabda: "Aku kawinkan engkau dg perempuan itu dg mahar al-Qur`an yg menyertaimu", yakni supaya mengajar perempuan itu membaca al-Qur`an sebagai ganti maskawin.

Apabila engkau sudah mengerti hal ini, maka yg disunnahkan hendaknya nikah itu tidak diakad melainkan dg maskawin, karena mengikuti jejak Rasulullah saw. sebab beliau tidak mengadakan akad nikah melainkan dg sesuatu yg disebutkan (maskawin), dan karena dg begitu lebih menjauhkan perselisihan di belakang hari. Dan maksud perkataan pengarang, bahwa maskawin bukanlah termasuk rukun nikah. Demikian juga kata shahabat2 Imam Syafi'i, yaitu bahwa mahar bukan rukun nikah, berbeda dg jual-beli, sebab menyebutkan harga termasuk rukun jual-beli.

Bedanya adalah maksud yg terutama di dalam nikah ialah mencari kenikmatan dan bersenang-senang, dan hal itu ialah dg membangun rumah tangga suami-istri. Karena itulah mahar tidak termasuk rukun nikah, berbeda dg jual-beli, karena dalam jual-beli ada tukar menukar yg menjadi tujuannya. Dan apa yg kami sebutkan dalam nikah tentang bolehnya tidak menyebutkan maskawin ditunjukkan oleh firman Allah: "Tidak ada salahnya atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istri kamu sebelum kamu bercampur dg mereka dan sebelum kamu menentukan mahar mereka".

Itulah dalil mengenai masalah penyerahan yg disebutkan pengarang dg kata-katanya "apabila maskawin tidak disebutkan dalam akad maka tetap sah". Arti penyerahan ialah tidak menyebut maskawin dalam nikah. Contohnya dari orang yg berhak mahar timbul kata-kata, misalnya perempuan yg sudah baligh dan berakal waras, janda ataupun perawan berkata "Kawinkanlah aku dg tanpa mahar", atau "Dengan tidak usah memberi mahar padaku", lalu wali mengawinkannya dan ia meniadakan mahar atau diam saja.

Dan termasuk dari penyerahan yg juga benar, misalnya tuan punya budak perempuan berkata "Aku kawinkan engkau dg budak perempuan ini tanpa mahar", atau tuan itu diam karena ia yg berhak mendapat mahar. Maka apabila akad terjadi dg betul, mahar tidak wajib menurut qaul jadid dan azdhar, sebagaimana dikehendaki oleh perkataan pengarang. Dan sebab mengapa mahar tidak ditetapkan dg akad adalah karena mahar itu hak istri. Maka apabila istri rela dg tidak ditentukan mahar, tidak usah ditentukan, dan karena kalau maskawin itu wajib dg akad, niscaya maskawin juga wajib setengah dg talak.

link diskusi :

Ibuetz Ibnu Al Mubasyiri

nitip ibarot tentang sahnya nikah tanpa mahar
كتاب الصداق
مدخل
...
كتاب الصداق

المستحب أن لا يعقد النكاح إلا بصداق لما روى سعد بن سهل رضي الله عنه أن امرأة قالت: قد وهبت نفسي لك يا رسول الله صلى الله عليك قر في رأيك فقال رجل: زوجنيها قال: "أطلب ولو خاتماً من حديد" فذهب فلم يجئ بشيء فقال النبي صلى الله عليه وسلم: "هل معك من القرآن شيء" فقال: نعم فزوجه بما معه من القرآن ولأن ذلك أقطع للخصومة ويجوز من غير صداق لقوله تعالى: {لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً} [البقرة: 236] فأثبت الطلاق مع عدم الرفض وروى عقبة بن عامر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لرجل: "إني أزوجك فلانة" قال: نعم قال للمرأة: "أترضين أن أزوجك فلاناً؟ " قالت: نعم فزوج أحدهما من صاحبه فدخل عليها ولم يفرض لها به صداق فلما حضرته الوفاة قال: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم زوجني فلانة ولم أفرض لها صداقاً ولم أعطها شيئاً وإني قد أعطيتها عن صداقها سهمي بخيبر فأخذت سهمه فباعته بمائة ألف
fokus
ولأن القصد بالنكاح الوصلة والاستمتاع دون الصداق فصح من غير صداق.
المهذب في فقة الإمام الشافعي للشيرازي juz 2 hal 462


link diskusi :

http://www.facebook.com/groups/kasarung/permalink/599750526716356/?comment_id=599904396700969&offset=0&total_comments=98


link dokumen :

http://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/599909010033841/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar