Jumat, 14 Juni 2013

912 : PERJANJIAN DAN WASIAT SUAMI UNTUK TIDAK MENIKAH

PERTANYAAN
Guslik An-Namiri

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.

Kepada Para Masyaikh, Para Asatidz wal Asatidzah yang sangat saya ta'dzimi dan yang dimulyakan Allah.

Mohon ijin, sebagai awal mula saya singgah untuk tholibul 'ilmi di Group yang penuh barokah insya Allah, saya ingin mengajukan satu pertanyaan tentang bagaimana hukumnya sang istri kalau mau nikah lagi sedangkan sang suami pada masih hidupnya tidak mengijinkan. Karena sang suami sudah wafat maka sang istri pada saat ini berada kebingungan ketika mengingat pesan suaminya. Mohon pencerahannya serta dalilnya yang berkenaan dengan masalah diatas.

JAWABAN

Brojol Gemblung


Wa'alaikumussalam

Sebelumnya kami ucapkan; Selamat datang di group kami ini, semoga dengan bertambahnya member baru kali ini bisa menambah khazanah keilmuan kami yg faqir ini.

Rasanya tak pantas bagi sorang nelayan seperti saya ini untuk menggarami air laut yg memang telah asin sebelumnya. Namun tanpa mengurangi rasa hormat dan ta'zdim saya akan mencoba menyumbangkan buah pemikiran yg tak ubahnya bak hamburan pasir di pinggir pantai bersamudera luas.
__________

Setelah membaca sedikit uraian dari pertanyaan di atas,,, amboi betapa bingungnya seorang istri yg ditinggal mati suaminya di atas ikatan sebuah janji semasa bersama. Namun hal ini bukanlah kendala serius dimata fiqh, karena fiqh terus lestari bersama keadaan manusia dan kehidupannya.

Sebuah perjanjian mungkin akan berguna sesuatu yg dijanjikan bila keduabelah pihak sama-sama menjalaninya, dan bila salah satu dari keduanya telah tiada maka tiada lagi faidah perjanjian tersebut. Ini artinya perjanjian tersebut bukanlah hal yg mengikat sampai keduanya tutup usia, tapi bahkan perjanjian tersebut terhenti dg sendirinya sebab kematian salah satu oknum sebuah perjanjian. Oleh karena demikian, pelestarian perjanjian atau realisasi perjanjian setelah kematian salah satu oknum maka merupakan hal yg bathil, berbeda halnya ketika sama-sama hidup maka hal itu jelas ada faidahnya.

Maka dg demikian, seorang istri yg mengemban sebuah amanah (perjanjian) dari suaminya untuk tidak kawin, maka masa aktif perjanjian tersebut hanya sampai pada saat sang suami tutup usia. Dan bila sang suami telah tutup usia maka terblockirlah aktivasi perjanjiannya. Wallahu A'lam...

ﺍﻹﻧﺼﺎﻑ - ﺍﻟﻤﺮﺩﺍﻭﻱ - ﺝ - ٨ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٥٥ :

ﻓﻮﺍﺋﺪ: ﺇﺣﺪﺍﻫﺎ ﺍﺧﺘﺎﺭ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺗﻘﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﺤﺔ ﺷﺮﻁ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺘﺰﻭﺝ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻭ ﺇﻥ ﺗﺰﻭﺝ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻓﻠﻬﺎ ﺃﻥ ﺗﻄﻠﻖ ﻧﻔﺴﻬﺎ.

ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻇﺎﻫﺮ ﻛﻼﻡ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺤﺎﺭﺙ ﺻﺤﺔ ﺩﻓﻊ ﻛﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻭﺟﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﺍﻵﺧﺮ ﻣﺎﻻ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺘﺰﻭﺝ. ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﻓﻤﻄﻠﻘﺎ ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺰﻭﺟﺔ ﻓﺒﻌﺪ ﻣﻮﺕ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻒ ﺑﺎﻟﺸﺮﻁ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﺤﻖ ﺍﻟﻌﻮﺽ ﻷﻧﻬﺎ ﻫﺒﺔ ﻣﺸﺮﻭﻃﺔ ﺑﺸﺮﻁ ﻓﺘﻨﺘﻔﻲ ﺑﺎﻧﺘﻔﺎﺋﻪ.

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻤﺠﺪ ﻓﻲ ﺷﺮﺣﻪ ﻟﻮ ﺷﺮﻁ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺰﻭﺟﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻵﺧﺮ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺘﺰﻭﺝ ﺑﻌﺪﻩ ﻓﺎﻟﺸﺮﻁ ﺑﺎﻃﻞ ﻓﻲ ﻗﻴﺎﺱ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ. ﻭﻭﺟﻬﻪ ﺃﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻏﺮﺽ ﺻﺤﻴﺢ ﺑﺨﻼﻑ ﺣﺎﻝ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﻭﺍﻗﺘﺼﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﻭﻉ ﻋﻠﻰ ﺫﻛﺮ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺤﺎﺭﺙ

Fakhrur Rozy

 nyumbang ibarot.

تفسير الفخر الرازي 6 / 491
{يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًاۖ} والأخرى: هذه الآية، فوجب تنزيل هاتين الآيتين على حالتين. فنقول: إنها إن لم تختر السكنى في دار زوجها ولم تأخذ النفقة من مال زوجها، كانت عدتها أربعة أشهر وعشراً على ما في تلك الآية المتقدمة، وأما إن اختارت السكنى في دار زوجها، والأخذ من ماله وتركته، فعدتها هي الحول، وتنزيل الآيتين على هذين التقديرين أولى، حتى يكون كل واحد منهما معمولاً به.
القول الثالث: وهو قول أبـي مسلم الأصفهاني: أن معنى الآية: من يتوفى منكم ويذرون أزواجاً،

وقد وصوا وصية لأزواجهم بنفقة الحول وسكنى الحول فإن خرجن قبل ذلك وخالفن وصية الزوج بعد أن يقمن المدة التي ضربها الله تعالى لهن فلا حرج فيما فعلن في أنفسهن من معروف أي نكاح صحيح، لأن إقامتهن بهذه الوصية غير لازمة،

fokus

فلا حرج فيما فعلن في أنفسهن من معروف أي نكاح صحيح، لأن إقامتهن بهذه الوصية غير لازمة،

wasiat jangan menikah lagi tidak wajib tituruti


link dokumen :

 http://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/603181789706563/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar