Kamis, 19 April 2012

024 : Mereka membuat larangan berdasarkan akal pikiran

Mereka membuat larangan berdasarkan akal pikiran

Pengakuan mereka adalah mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dan mengikuti syariatNya, memberantas syirik, tahayul, bid’ah dan khurafat. Namun tampaknya kenyataan  berbeda antara pengakuan dengan sikap dan perbuatan mereka

Contoh sederhana mereka membuat larangan-larangan maupun kewajiban seperti,
    tidak boleh mengungkapkan cinta kepada Rasulullah dengan matan/redaksi sholawat sebagaimana yang kita inginkan
atau
     wajib bersholawat sebagaimana yang dicontohkan oleh  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Larangan adalah perkara yang jika dikerjakan berdosa.
Kewajiban adalah perkara yang jika tidak dikerjakan berdosa.

Berdasarkan akal pikiran,  mereka membuat larangan atau kewajiban yang tidak pernah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla atau tidak pernah disampaikan oleh RasulNya.  Mereka tanpa disadari telah membuat perkara baru (bid’ah) atau mengada-ada dalam urusan agama atau dalam perkara syariat.

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

Perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa), perkara larangan (dikerjakan berdosa) maupun perkara pengharaman (dikerjakan berdosa) adalah berasal dari Allah Azza wa Jalla atau ditetapkanNya atau diwajibkanNya (wajib dikerjakan dan wajib dijauhi)

Urusan agama atau perkara syariat atau  perkara yang diwajibkanNya (wajib dikerjakan dan wajib dijauhi) telah sempurna.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)
“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)
“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)

Baik atau buruk bagi manusia yang mengetahui adalah Allah Azza wa Jalla

Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya,
Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” [QS. An-Nahl : 116].

Dalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, maka dia telah kafir.”

Mereka tanpa disadari  bisa terjerumus dalam kekufuran karena menjadikan ulama sebagai tuhan-tuhan  selain Allah. Mereka menyembah para ulama yang menetapkan larangan maupun kewajiban

Allah Azza wa Jalla berfirman,

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )

Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?”
Nabi menjawab, “tidak

« أما أنهم لم يكونوا يعبدونهم ولكنهم كانوا إذا أحلوا لهم شيئاً استحلوه وإذا حرموا عليهم شيئاً حرموه »

Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya

Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)

PerintahNya adalah bersholawatlah namun tidak ada larangan menggunakan matan/redaksi sholawat yang dibuat sendiri.

Firman Allah Azza wa Jalla, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS (QS Al Ahzab [33]: 56)

Imam Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah, Imam Syafi’i ~ rahimahullah dan ulama-ulama terdahulu lainnya mempunyai matan/redaksi sendiri sesuai bagaimana mereka mengungkapkan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Shalawat Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhah:

صَلَوَاتُ اللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَأَنْبِيَائِهِ وَجَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَعَلَيْهِمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Shalawatullahi wa malaa’ikatihi wa anbiyaa’ihi wa jamii’i khalqihii
‘alaa Muhammad wa aali Muhammad wa ‘alaih
wa ‘alaihimussalaamu wa rahmatullaahi wa barakaatuh

“Shalawat Allah, para MalaikatNya dan para NabiNya serta semua mahlukNya
semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad Saw dan Keluarganya dan keturunannya,
dan semoga keselamatan Allah, rahmat Allah serta berkahNya terlimpahkan kepada Mereka“.

Imam Syafi’i ~rahimahullah pun mempunyai matan/redaksi sholawat yang dibuatnya sendiri seperti.
“Ya Allah, limpakanlah shalawat atas Nabi kami, Muhammad, selama orang-orang yang ingat menyebut-Mu dan orang-orang yang lalai melupakan untuk menyebut-Mu ”
atau
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas cahaya di antara segala cahaya, rahsia di antara segala rahasia, penawar duka, dan pembuka pintu kemudahan, yakni Sayyidina Muhammad, manusia pilihan, juga kepada keluarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah kenikmatan Allah dan karunia-Nya.”

Tulisan tentang matan/redaksi atau lafadz sholawat lainnya pada
http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/175/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-1
http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/180/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-2
http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/183/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-3
http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/188/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-4

Salah satu matan / redaksi sholawat yang mereka kritisi adalah sholawat badar.

Shalawat Badar
Shalatullah salamullah, 'ala Thaha Rasulillah
Shalatullah salamullah, 'ala Yasin Habibillah
Semoga shalawat dan salam selalu kepada Thaaha, Rasulullah
Semoga shalawat dan salam selalu kepada Yasin, Rasulullah
(Thaha dan Yaasin adalah panggilan / gelar untuk Rasulullah)

Tawasalna bibismillah, wa bilhadi Rasulillah,
wa kulli mujahidin lillah, bi ahli badri, ya Allah
Kami bertawasul dengan bismillah, petunjuk Rasulillah,
dan dengan seluruh mujahidin Badar, ya Allah

Ilahi sallimil ummah, minal afaati wa niqmah
wa min hammin wa min ghummah, bi ahli badri, ya Allah
Tuhanku, selamatkanlah umat ini, dari derita dan bencana
dan dari belenggu serta kebekuan, demi ahli Badar ya Allah

Ilahi-ghfir wa akrimna, binaili mathalibi minna (dikabulkan
Wa daf'i masaa-atin 'anna, bi ahli badri, ya Allah
Tuhanku, ampuni dan muliakan kami, dengan dikabulkannya permohonan kami,
dan dijauhkannya kami dari tragedi yang memilukan, demi ahli Badar ya Allah

Sholawat Badar adalah  doa yang diawali dengan  sholawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi shallallahu alaihi wasallam  serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar. Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq. Selengkapnya dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/02/sholawat-badar/

Inti doanya adalah
“Tuhanku, selamatkanlah umat ini, dari derita dan bencana dan dari belenggu serta kebekuan”
dan
“Tuhanku, ampuni dan muliakan kami, dengan dikabulkannya permohonan kami, dan dijauhkannya kami dari tragedi yang memilukan”

Bertawassul adalah adab berdoa,  berperantara pada kemuliaan seseorang,  kemuliaan tempat, kemuliaan  benda, kemuliaan waktu, kemuliaan doa atau dzikrullah  dihadapan Allah Azza wa Jalla

Tawassul dengan kemuliaan seseorang disisiNya adalah pembuka doa yang disampaikan sebelum doa inti ,  berisikan syair atau ungkapan kecintaan, penghormatan, pengakuan keutamaan derajat mereka (yang ditawasulkan) di sisi Allah Azza wa Jalla atau berisikan rasa syukur kita akan peran mereka (yang ditawasulkan)  menyiarkan agama Islam sehingga kita dapat mendapatkan ni’mat Iman dan ni’mat Islam.

Contoh:
Hai sebaik-baik orang yang dikebumikan di lembah ini lagi paling agung, maka menjadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pegunungan ini. Diriku sebagai tebusan kubur yang engkau menjadi penghuninya; di dalamnya terdapat kehormatan, kedermawanan, dan kemuliaan.
Selengkapnya pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2011/09/ikjuz5p281_285.pdf

atau contoh syair sholawat nariyah yang artinya “yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik

Syair sholawat nariyah tersebut berisi ungkapan cinta sehingga memahaminya dengan bahasa cinta atau  balaghoh / majaz. Maknanya,  dengan peran Beliau shallallahu alaihi wasallam pembawa Al Qur’an, pembawa hidayah, pembawa risalah, yang dengan itu semualah kita menjadi muslim sehingga terurai segala ikatan dosa dan sihir, hilang segala kesedihan yaitu dengan sakinah, khusyu dan selamat dari siksa neraka, dipenuhi segala kebutuhan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik yaitu husnul khatimah dan sorga. Hal ini serupa dengan ungkapan cinta seorang pemuda pada kekasihnya seperti , “Kehadiranmu membuatku senang dan bahagia tanpamu dunia ini bagiku adalah penjara”  padahal kita paham bahwa yang membuat pemuda itu senang dan bahagia hanyalah Allah Azza wa Jalla perantaraan kehadiran kekasihnya.

Boleh berperantara pada kemuliaan seseorang baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat karena kemuliaan seseorang di hadapan Allah tak akan sirna walaupun mereka sudah wafat.

Justru mereka yang membedakan bolehnya bertawassul pada yang hidup saja dan mengharamkan pada yang sudah wafat, maka mereka itu malah dirisaukan akan terjerumus pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa memberi manfaat, sedangkan akidah kita adalah semua yang hidup dan yang  sudah wafat  tak bisa memberi manfaat apa apa kecuali karena Allah ta’ala memuliakannya,  bukan karena ia hidup lalu ia bisa memberi manfaat dihadapan Allah, berarti si hidup itu sebanding dengan Allah Subhanahu wa  Ta’ala?,  si hidup bisa berbuat sesuatu pada keputusan Allah ?

Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah bisa memberi manfaat dan madlorot kepadanya dan jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala  itu bisa memberi manfaat dan madlorot, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlorot sesungguhnya hanyalah Allah semata.

Selengkapnya tentang bertawassul dengan yang dimuliakanNya telah diuraikan dalam tulisan pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/21/perantaraan-yang-dimuliakannya/

Doa dengan diawali bertawassul  dalam sholawat badar memenuhi sunnah Rasulullah

Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiada doa kecuali terdapat hijab di antaranya dengan di antara langit, hingga bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka apabila dibacakan shalawat Nabi, terbukalah hijab dan diterimalah doa tersebut, namun jika tidak demikian, kembalilah doa itu kepada pemohonnya

Rasulullah bersabda “Jika salah seorang di antara kalian berdoa maka hendaknya dia memulainya dengan memuji dan menyanjung Allah, kemudian dia bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, kemudian setelah itu baru dia berdoa sesukanya.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan oleh At Tirmidzi)

Salah satunya mereka mempermasalahkan nama lain Rasulullah yakni Thaha dan Yaasiin. Padahal Allah Azza wa Jalla  memanggil RasulNya dengan panggilan / gelar  tersebut.

Firman Allah ta'ala,
"Thaahaa.  Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah". (QS.Thaha 20:1-2)

"Yaa siin. Demi al-Quran yang penuh hikmah. Sesungguhnya kamu salah seorang dari Rasul-rasul",  (QS.Yasin 36:1-3)

Mereka juga mempermasalahkan syair yang berisikan  tawassul dengan ahli Badar.  Padahal di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ,  syair berisikan tawassul dengan ahli Badar umum dipergunakan bahkan dilantunkan dengan diiringi  rebana sebagaimana terlukiskan dalam hadits berikut

Telah menceritakan kepada kami Musaddad Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadldlal Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Dzakwan ia berkata; Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin ‘Afran berkata; suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan masuk saat aku membangun mahligai rumah tangga (menikah). Lalu beliau duduk di atas kasurku, sebagaimana posisi dudukmu dariku. Kemudian para budak-budak wanita pun memukul rebana dan mengenang keistimewaan-keistimewaan prajurit yang gugur pada saat perang Badar. Lalu salah seorang dari mereka pun berkata, “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.” Maka beliau bersabda: “Tinggalkanlah ungkapan ini, dan katakanlah apa yang ingin kamu katakan.“ (HR Bukhari  4750)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hanya mengkoreksi perkataan “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari” karena Beliau tahu sebatas yang diwahyukan namun beliau tidak melarang ungkapan cinta (sholawat) sebagaimana kita ingin mengungkapkannya dengan pernyataan “katakanlah apa yang ingin kamu katakan

Wassalam



Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar