Sabtu, 21 April 2012

133 : HUKUM MAKAN BIAWAK

PERTANYAAN


Sang Pangeran

Assalamualaikum wr. wb

Mau tanya apa hukummya BIAWAK..?


Salam



JAWABAN


Ada dua jawaban mengenai hukum makan BIAWAK

Ustadz Fajar Bashir>>

Hukum Memakan Daging Biawak

Biawak dalam bahasa Arab disebut waral. Binatang ini adalah jenis binatang melata, termasuk golongan kadal besar dan sangat dikenal di negeri ini. Hidupnya di tepi sungai dan berdiam dalam lubang di tanah, bisa berenang di air serta memanjat pohon. Binatang ini tergolong hewan pemangsa dengan gigi taringnya yang memangsa ular, ayam dan lainnya. [1] Ada biawak yang lebih besar dan lebih buas, disebut komodo.

Dengan demikian, biawak haram dimakan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:

“Seluruh binatang pemangsa dengan gigi taringnya maka haram memakannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Terdapat hadits-hadits lainnya yang semakna dengan ini dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim serta lainnya.

Jangan disangka bahwa biawak (waral) adalah dhab (hewan mirip biawak) yang halal. Dhab dihalalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, sebagaimana dalam hadits Khalid bin al-Walid radhiyallahu ‘anhu:

“Ia masuk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ke rumah Maimunah, lalu disajikan daging dhab panggang. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam menjulurkan tangannya (untuk mengambilnya). Berkatalah sebagian wanita (yang ada di dalam rumah), ‘Beritahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam apa yang akan dimakannya.’ Mereka lantas berkata, ‘Wahai Rasulullah, itu adalah daging dhab.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam pun menarik kembali tangannya. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah binatang ini haram?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, tetapi binatang ini tidak ada di tanah kaumku sehingga aku merasa jijik padanya’.” Khalid berkata, “Aku pun mencuilnya dan memakannya sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memerhatikanku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim serta lainnya)

> Dhab adalah golongan kadal besar yang serupa dengan biawak dan sama-sama berdiam di dalam lubang di tanah. Berikut ini keterangan ahli bahasa Arab tentang dhab sekaligus perbandingannya dengan biawak.

> Binatang ini adalah jenis melata yang tergolong kadal besar, seperti halnya biawak.

> Bentuknya mirip biawak.

> Banyak ditemukan di gurun pasir (sahara) Arab. Lain halnya dengan biawak yang hidupnya di tepi-tepi sungai.

> Panjang tubuhnya lebih pendek dari biawak.

> Ekornya bersisik kasar seperti ekor buaya dengan bentuk yang lebar dan maksimal panjangnya hanya sejengkal. Berbeda halnya dengan ekor biawak yang tidak bersisik kasar dan berukuran panjang seperti ekor ular.

> Makanannya adalah rumput, belalang kecil (dabah), dan jenis belalang lainnya yang disebut jundub (jamaknya janaadib). Adapun biawak adalah predator (hewan pemangsa hewan lain) yang memangsa ular dan lainnya.

Wallahu a’lam.Abu ‘Abdillah Muhammad as-Sarbini al-Makassari

Brojol Gemblung

Wa'alaikumussalam

BIAWAK adalah sejenis serangga yg hampir mirip dg tikus besar, akan tetapi biawak lebih besar lagi, kemaluannya memiliki cabang dua, sehingga biasa disebut sebagai pemilik 2 kemaluan, hidupnya bertahan sampai 700 tahun tanpa minum air, kencingnya 40 hari sekali, itupun satu tetes aja, dan giginya kuat, bahkan sebagian ulama’ menyatakan memakannya bisa menghilangkan rasa haus.

Dan hukum memakan biawak yg ciri2nya seperti keterangan di atas menurut madzhab Syafi’iyyah adalah halal, menurut Malikiyyah adalah haram, dan menurut Hanafiyyah adalah makruh.

ﺍﻟﺤﺎﻭﻯ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ـ ﺍﻟﻤﺎﻭﺭﺩﻯ ﺝ 15 / ﺹ 314 :

ﻓَﺼْﻞٌ : ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟﻀَّﺐُّ ﺣﻜﻢ ﺃﻛﻞ ﻓَﻬُﻮَ ﻋِﻨْﺪُﻧَﺎ ﺣَﻠَﺎﻝٌ ، ﻭَﻋِﻨْﺪَ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﺣَﺮَﺍﻡٌ ، ﻭَﻋِﻨْﺪَ ﺃَﺑِﻲ ﺣَﻨِﻴﻔَﺔَ ﻣَﻜْﺮُﻭﻩٌ ، ﻭَﺍﺣْﺘَﺞَّ ﻣَﺎﻟِﻚٌ ﺑِﺮِﻭَﺍﻳَﺔِ ﺍﺑْﻦِ ﺟُﺮَﻳْﺞٍ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺍﻟﺰُّﺑَﻴْﺮِ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﺑِﺮٍ ﻗَﺎﻝَ : ﺃُﺗِﻲَ ﺑِﺎﻟﻀَّﺐِّ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ- ﻓَﺄَﺑَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﻛُﻠَﻪُ ، ﻭَﻗَﺎﻝَ : ﻟَﺎ ﺃَﺩْﺭِﻱ ﻟَﻌَﻠَّﻬَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮُﻭﻥِ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻣُﺴِﺨَﺖْ . ﻭَﺍﺣْﺘَﺞَّ ﻟِﺄَﺑِﻲ ﺣَﻨِﻴﻔَﺔَ ﺑِﺮِﻭَﺍﻳَﺔِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﺩِﻳﻨَﺎﺭٍ ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﺳَﺄَﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ- ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﺗَﺮَﻯ ﻓِﻲ ﺍﻟﻀَّﺐِّ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻟَﺴْﺖُ ﺁﻛُﻠُﻪِ ﻭَﻟَﺎ ﺃُﺣَﺮِّﻣُﻪُ . ﻭَﺩَﻟِﻴﻠُﻦﺍَ ﻣَﺎ ﺭَﻭَﺍﻩُ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻊِﻱُّ ، ﻋَﻦْ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ، ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﺷِﻬَﺎﺏٍ ، ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺃُﻣَﺎﻣَﺔَ ﺑْﻦِ ﺳَﻬْﻞِ ﺑْﻦِ ﺣُﻨَﻴْﻒٍ ، ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﻭَﺧَﺎﻟِﺪِ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﻮَﻟِﻴﺪِ ﺃَﻧَّﻬُﻤَﺎ ﺩَﺧَﻠَﺎ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ- ﺑَﻴْﺖَ ﻣَﻴْﻤُﻮﻧَﺔَ ﻓَﺄُﺗِﻲَ ﺑِﻀَّﺐٍّ ﻣَﺤْﻨُﻮﺫٍ ، ﻓَﺄَﻫْﻮَﻯ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ- ﺑِﻴَﺪِﻩِ ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﻨِّﺴْﻮَﺓِ ﻟِﻤَﻴْﻤُﻮﻥَﺓَ ﺃَﺧْﺒِﺮِﻱ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ- ﻣَﺎ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﻛُﻞَ ، ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ : ﻫُﻮَ ﺿَﺐٌّ ، ﻓَﺮَﻓَﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ- ﻳَﺪَﻩُ ، ﻓَﻘُﻠْﺖُ : ﺃَﺣَﺮَﺍﻡٌ ﻫُﻮَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻟَﺎ ﻭَﻟَﻜِﻨَّﻪُ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺑِﺄَﺭْﺽِ ﻗَﻮْﻣِﻲ ، ﻓَﺄَﺟِﺪُﻥِﻱ ﺃَﻋَﺎﻓُﻪُ ، ﻗَﺎﻝَ ﺧَﺎﻟِﺪٌ : ﻓَﺄَﺟْﺮَﺭْﺗُﻪُ ﻭَﺃَﻛَﻠْﺖُ ﻭَﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ - ﻳَﻨْﻈُﺮُ .

ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ ﻻﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﺝ 15 / ﺹ 488 :

ﻗَﻮْﻟﻪ : ﺑَﺎﺏ ﺍﻟﻀَّﺐّ ﻫُﻮَ ﺩُﻭَﻳْﺒَّﺔ ﺗُﺸْﺒِﻪ ﺍﻟْﺠِﺮْﺫَﻭﻥْ ، ﻟَﻜِﻨَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺠِﺮْﺫَﻭﻥْ ، ﻭَﻳُﻜَﻨَّﻰ ﺃَﺑَﺎ ﺣِﺴْﻞ ﺑِﻤُﻬْﻤَﻞَﺗَﻴْﻦِ ﻣَﻜْﺴُﻮﺭَﺓ ﺛُﻢَّ ﺳَﺎﻛِﻨَﺔ ، ﻭَﻳُﻘَﺎﻝ ﻟِﻠْﺄُﻧْﺚَﻯ ﺿَﺒَّﺔ ، ﻭَﺑِﻪِ ﺳُﻤِّﻴَﺖْ ﺍﻟْﻘَﺒِﻴﻞَﺓ ، ﻭَﺑِﺎﻟْﺨِﻲﻑِ ﻣِﻦْ ﻣِﻨًﻰ ﺟَﺒَﻞ ﻳُﻘَﺎﻝ ﻟَﻪُ ﺿَﺐّ ، ﻭَﺍﻟﻀَّﺐّ ﺩَﺍﺀ ﻓِﻲ ﺧُﻒّ ﺍﻟْﺒَﻌِﻴﺮ ، ﻭَﻳُﻘَﺎﻝ ﺇِﻥَّ ﻟِﺄَﺻْﻞِ ﺫَﻛَﺮ ﺍﻟﻀَّﺐّ ﻓَﺮْﻋَﻴْﻦِ ، ﻭَﻟِﻬَﺬَﺍ ﻳُﻘَﺎﻝ ﻟَﻪُ ﺫَﻛَﺮَﺍﻥِ . ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﺍِﺑْﻦ ﺧَﺎﻟَﻮَﻳْﻪِ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻀَّﺐّ ﻳَﻌِﻴﺶ ﺳَﺒْﻌﻤِﺎﺉَﺓِ ﺳَﻨَﺔ ، ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﺸْﺮَﺏ ﺍﻟْﻤَﺎﺀ ، ﻭَﻳَﺒُﻮﻝ ﻓِﻲ ﻛُﻞّ ﺃَﺭْﺑَﻌِﻴﻦَ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻗَﻄْﺮَﺓ ، ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺴْﻘُﻂ ﻟَﻪُ ﺳِﻦّ ، ﻭَﻳُﻘَﺎﻝ ﺑَﻞْ ﺃَﺳْﻨَﺎﻧﻪ ﻗِﻄْﻌَﺔ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓ ، ﻭَﺣَﻜَﻰ ﻏَﻴْﺮﻩ ﺃَﻥَّ ﺃَﻛْﻞ ﻟَﺤْﻤﻪ ﻳُﺬْﻫِﺐ ﺍﻟْﻌَﻄَﺶ.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar