Jumat, 20 April 2012

035 : Mereka bertasyabuh dengan kaum nasrani

Mereka bertasyabuh dengan kaum nasrani

Dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/27/perkataan-menyesatkan/  telah disampaikan bahwa karena perkataan bid’ah yang menyesatkan yakni “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI” ,  “Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya” sehingga mereka ragu mana yang merupakan amal kebaikan mana yang amal keburukan. Bahkan ada yang ikut-ikutan bahwa “baik itu relatif tergantung sudut pandang manusia atau kesepakatan antar manusia”

Landasan atau pegangan kita untuk melakukan perbuatan diluar apa yang telah diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla, diluar perkara wajib dikerjakan dan wajib dijauhi dan tidak pernah dilakukan atau dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maupun oleh para Sahabat radliallahu ‘anhu adalah
Sikap atau perbuatan yang baik adalah jika sikap atau perbuatan tersebut  tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah
Sikap atau perbuatan yang buruk adalah jika sikap atau perbuatan tersebut bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah

قاَلَ الشّاَفِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -ماَ أَحْدَثَ وَخاَلَفَ كِتاَباً أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعاً أَوْ أَثَرًا فَهُوَ البِدْعَةُ الضاَلَةُ ، وَماَ أَحْدَثَ مِنَ الخَيْرِ وَلَمْ يُخاَلِفُ شَيْئاً مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ البِدْعَةُ المَحْمُوْدَةُ -(حاشية إعانة 313 ص 1الطالبين -ج )

Artinya ;
Imam Syafi’i ra berkata –Segala hal yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan menyalahi pedoman Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ (sepakat Ulama) dan Atsar (Pernyataan sahabat) adalah bid’ah yang sesat (bid’ah dholalah). Dan segala kebaikan yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan tidak menyelahi pedoman tersebut maka ia adalah bid’ah yang terpuji  (bid’ah mahmudah atau bid’ah hasanah), bernilai pahala. (Hasyiah Ianathuth-Thalibin –Juz 1 hal. 313)

Cara lain untuk mengetahui suatu perbuatan adalah kebaikan atau keburukan dengan mengembalikannya kepada hati atau akal qalbu (raja atau hakim atau penguasa dari akal pikiran).

Wabishah bin Ma’bad r.a. berkata: Saya datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Saya menjawab, “Benar.”Beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menenteramkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa yang membenarkanmu.”   hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darami dengan sanad hasan

Nawas bin Sam’an r.a. meriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam., beliau bersabda, “Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah segala hal yang mengusik jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain melihatnya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim).

Permasalahan manusia tidak lagi dapat menggunakan hati atau akal qalbu mereka untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk adalah karena dosa

Setiap dosa merupakan bintik hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Inilah yang dinamakan buta mata hati.

Allah ta’ala berfirman yang artinya,
Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS Al Hajj [22]:46 )

Mereka yang berpendapat bahwa peringatan Maulid Nabi adalah perbuatan dosa karena termasuk bid’ah yang menyesatkan (bid’ah dholalah) dan setiap kesesatan akan bertempat di neraka menyampaikan pendapat mereka yang lain seperti,

Kalau orang Nasrani memperingati hari kelahirannya Nabi Isa bin Maryam, maka sebagian orang Islam juga ikut-ikutan memperingati hari kelahirannya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Intinya mereka berpendapat bahwa peringatan Maulid Nabi adalah salah satu bentuk bertasyabuh dengan kaum Nasrani atau menyerupai perbuatan kaum Nasrani. Bagi mereka kaum muslim  yang memperingati Maulid Nabi termasuk mereka yang terhasut oleh kaum Zionis Yahudi atau mengekor pada kaum Zionis Yahudi.

Bertasyabuh yang terlarang adalah bertasyabuh perbuatan yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah atau bertasyabuh perbuatan yang akan mengantar kepada perbuatan yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.

Bukanlah sebuah kesalahan bagi kaum Nasrani memperingati hari kelahirannya Nabi Isa bin Maryam. Kesalahan mereka adalah menjadikan Yesus , yang diyakini oleh mereka Nabi Isa bin Maryam menjadi putera Tuhan.

Firman Allah ta’ala yang artinya,
Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan : “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara“. ( QS An Nisaa [4]:171 )

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS At Taubah [9]:30 )

Hukum asal perbuatan diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya

Tidak ada larangan dalam Al Qur’an dan As Sunnah untuk memperingati hari kelahiran seorang manusia.

Kita boleh memperingati atau mengingat masa lampau untuk bekal hari esok.  Bahkan hal ini adalah anjuran dari Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firmanNya,  “Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad” “Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu” (QS al Hasyr [59] : 18 )

Kita mengingat kelahiran kita dan kejadian-kejadian di waktu lampau untuk bekal kita mengisi biodata, riwayat hidup. Kita mengingat apa yang telah disampaikan orang tua, ulama kita dahulu untuk bekal menjalankan kehidupan kita hari ini dan esok.  Kita memperingati Maulid Nabi dan perjalanan hidupnya sebagai bekal kita meneladani dan mengimplementasikannya dalam kehidupan kita hari ini dan esok.

Mereka yang mengikuti pendapat ulama-ulama mereka bahwa peringatan Maulid Nabi adalah berdosa adalah mereka yang mengada-ada dalam perkara agama atau membuat perkara baru (bid’ah) dalam perkara syariat yakni perkara larangan yang jika dikerjakan / dilanggar akan berdosa.

Perkara agama atau perkara syariat termasuk perkara larangan bersumber hanya dari Allah ta'ala.

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Perkara larangan adalah hak Allah ta’ala menetapkannya dan Allah ta’ala tidak lupa.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

Urusan agama atau perkara syariat atau perkara yang diwajibkanNya termasuk perkara larangan telah sempurna atau telah disampaikan seluruhnya oleh Rasulullah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)
“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)
“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)

Kalau ada larangan yang tidak pernah disampaikan oleh Rasulullah maka ini termasuk bid’ah dholalah

Kesimpulannya,  mereka dengan mengikuti pendapat atau fatwa ulama-ulama mereka bahwa peringatan Maulid Nabi adalah berdosa justru telah bertasyabuh dengan kaum Nasrani yakni menjadikan ulama-ulama mereka sebagai tuhan selain Allah.

Allah Azza wa Jalla berfirman,  “Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )

Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?”

Nabi menjawab, “tidak”,  “Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya

Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)

Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya,
Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” [QS. An-Nahl : 116].

Dalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim).
  Mereka bertasyabuh dengan kaum nasrani karena mereka terhasut atau korban ghawul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran sendiri sehingga menimbulkan perselisihan di antara kaum muslim

Salah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.

Mereka yang terhasut meninggalkan pemahaman atau pendapat Imam Mazhab yang empat yang telah disepakati oleh jumhur ulama sejak dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak)

Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.
Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh.
Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.

Mereka yang terhasut merasa telah mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tidak lebih dari mengikuti pemahaman ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Dari mana ulama-ulama tersebut mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh kalau bukan pemahaman ulama-ulama tersebut dengan akal pikiran mereka sendiri.

Marilah kita kembali mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat dan mengikuti penjelasan-penjelasan yang disampaikan oleh para ulama-ulama terdahulu yang mengikuti Imam Mazhab yang empat sambil kita merujuk darimana mereka mengambilnya yakni Al Qur’an dan As Sunnah dengan menggunakan akal qalbu (akal pikiran yang ditundukkan kepada akal qalbu) berdasarkan karunia hikmah dari Allah Azza wa Jalla


Wassalam


Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar