Senin, 01 Juli 2013

966 : 966 : HUKUM MENINGGALKAN SHOLAT SEBAB TERTIDUR

PERTANYAAN



Assalamu'alaikum

Bagaimana kalau kita tidur belum masuk waktu sholat,

contoh kita tidur jam 11 / lebih tapi kita gak inget sama sekali dan ketika bangun sudah memasuki waktu ashar , berarti dhuhur kelewat itu bagaimana hukumnya ?

1. dapat dosa apa tidak ?

2. shalat wajib di qodho apa tidak ?

mohon di jelaskan


JAWABAN


Aryo Mangku Langit

wa'alaikum salam

 1-dima'fuw,karena tidak ada unsur kesengajaan untuk mbangkong,karena waktu start tidur juga belum manjing waktu sholat.

2-wajib mengqodho'



Brojol Gemblung



 ﺇﻧﺎﺭﺓ ﺍﻟﺪﺟﻰ ﻋﻠﻰ ﺗﻨﻮﻳﺮ ﺍﻟﺤﺠﺎ ﻧﻈﻢ ﺳﻔﻴﻨﺔ ﺍﻟﻨﺠﺎ ﺹ 86 :

وأما إذا نام قبل الوقت فلا يمتنع نومه ولو غلب على ظنه أن نومه يستغرق الوقت لأن التكليف لم يتعلق به بعد ـ إلى أن قال ـ وحاصله أنه لا إثم على من نام قبل دخول الوقت ففاتته الصلاة، وإن علم أنه يستغرق الوقت ولو جمعة على الصحيح، ولا يلزمه القضاء فورا لقوله صلى الله عليه وسلم: ليس في النوم تفريط، إنما التفريط على من لم يصل الصلاة حتى يدخل وقت الأخرى. رواه مسلم قال السويفي: في للسببية ؛ أي ليس بسبب النوم تفريط ؛ أي إن نام قبل دخول الوقت. إهــ

Apabila seseorang tidur (ngantuk) sebelum masuk waktu maka janganlah tidurnya dicegah, meskipun dia mempunyai zdan kuat bahwa tidurnya akan menghabiskan waktu shalat karena hukum taklif tidak akan berhubungan dengannya setelah dia terlelap -sampai perkataan pengarang- Kesimpulannya bahwa tidak tada ada dosa bagi orang yg tidur sebelum masuk waktu shalat sehingga shalat tertinggal dari padanya, walaupun dia yakin bahwa tidurnya akan menghabiskan waktu, meskipun itu shalat Jum'at menurut qaul shahih. Dan dia tidak harus mengqadha`nya dg segera karena terdapat sabda Nabi saw.: Kelengahan bukan karen sebab tidur, Kelengahan hanya atas orang yg tidak melakukan shalat sehingga masuk waktu shalat lain. HR. Muslim. Al-Suwaify berkata: Fiy (dalam hadits tersebut) berfaidah Sababiyyah; maksudnya Kelengahan itu tidak dg sebab tidur ; artinya bilamana tidur sebelum masuk waktu shalat


ﺇﻧﺎﺭﺓ ﺍﻟﺪﺟﻰ ﻋﻠﻰ ﺗﻨﻮﻳﺮ ﺍﻟﺤﺠﺎ ﻧﻈﻢ ﺳﻔﻴﻨﺔ ﺍﻟﻨﺠﺎ ﺹ 86-87 :

عذر الصلاة بضم الذال للإتباع وسكونها؛ مسقط إثم تأخير الصلاة عن وقتها أمور؛ الأول النوم أي إذا لم يتجاوز به الحد بأن نام بعد دخول وقت الصلاة عليه، سواء وثق من نفسه أنه يستيقظ قبل خروج وقتها أم لا،
تمكن من فعلها قبل النوم أم لا، حيث لم يثق من نفسه الإستيقاظ قبل خروج الوقت لأنه حينئذ آثم إثمين؛ أحدهما ترك الصلاة والثاني إثم التسبب إليه، فيجب على من علم به إيقاظه حينئذ لأنه من باب النهي عن المنكر ــ إلى أن قال ــ وأما من نام بعد دخول الوقت فإنه يأثم إثم النوم فقط إن لم يعلم إستغراق الوقت بل غلب على ظنه الإستيقاظ قبل خروج الوقت، وإلا أثم إثمين؛ إثم النوم وإثم ترك الصلاة، مالم يستيقظ على خلاف ظنه ويصلي في الوقت فإنه لا يحصل له إثم ترك الصلاة وإنما يحصل له إثم النوم، فلا يرتفع إلا بالإستغفار كما أنه لا يحصل إثم ترك الصلاة لمن غلب على ظنه الإستيقاظ قبل خروج الوقت فخرج ولم يصل. نعم يكره ذلك إلا إن غلبه النوم بحيث لا يستطيع دفعه، ويجب إيقاظ من نام بعد الوجوب وليس إيقاظ على من نام قبله إن لم يخش عليه ضرر لينال الصلاة في الوقت كما في شرح الأصل. إهـ

Udzur shalat ; Hal yg dapat menggugurkan dosa mengakhirkan shalat dari waktunya yg pertama adalah Tidur, maksudnya apabila tidak melewati batas ketentuan dg gambaran seseorang tidur setelah masuk waktu shalat, baik dia optimis akan bangun sebelum waktu habis ataupun tidak, baik dia masih memungkinkan melakukannya sebelum tidur ataupun tidak, sekira dia tidak optimis akan bangun sebelum waktu habis karena dg demikian dia berdosa dg dua macam dosa; dosa karena meninggalkan shalat dan dosa karena membuat sebuah sebab. Maka wajib atas seseorang yg mengetahuinya untuk membangunkannya karena itu termasuk mencegah kemungkaran -sampai perkataan pengarang- Dan adapun orang yg tidur setelah masuknya waktu shalat maka dia berdosa dg dosa karena tidur saja apabila dia tidak mengetahui bahwa tidurnya akan menghabiskan waktu shalat, melainkan dia yakin akan bangun sebelum waktu habis. Dan apabila tidak demikian (yakni dia tau bahwa tidurnya akan menghabiskan waktu / tidak yakin bangun sebelum waktu habis-pen) maka dia berdosa dg dua macam dosa; dosa karena tidur dan dosa karena meninggalkan shalat, selagi dia tidak akan bangun di atas ketidaksesuaian keyakinannya dan dia melakukan shalat pada waktu itu, maka dia tidak mendapat dosa karena meninggalkan shalat, melainkan dia hanya mendapat dosa karena tidur, maka dosa itu hanya bisa terhapus dg beristighfar, sebagaimana tidak ada dosa karena meninggalkan shalat bagi orang yg yakin akan bangun sebelum waktu shalat habis hingga waktu itupun menjadi tiada dan dia tidak bisa melakukan shalat. Benar demikian, namun hal itu dimakruhkan terkecuali apabila rasa kantuk itu tak kuasa dia cegah atau tahan darinya. Dan wajib membangunkan orang yg tidur setelah wajib baginya melakukan shalat dan orang yg tidur sebelum kewajiban ada tidak usah dibangunkan bilamana khawatir akan berdampak negatif terhadapnya agar supaya dia bisa melakukan shalat di dalam waktunya, sebagaimana keterangan dalam Syarh al-Ashli

ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ - ﺍﻟﻤﻠﻴﺒﺎﺭﻱ ﺍﻟﻬﻨﺪﻱ - ﺝ - ١ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٤٢ :

ﻓﺮﻉ: ﻳﻜﺮﻩ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺑﻌﺪ ﺩﺧﻮﻝ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﻗﺒﻞ ﻓﻌﻠﻬﺎ، ﺣﻴﺚ ﻇﻦ ﺍﻻﺳﺘﻴﻘﺎﻅ ﻗﺒﻞ ﺿﻴﻘﻪ، ﻟﻌﺎﺩﺓ ﺃﻭ ﻻﻳﻘﺎﻅ ﻏﻴﺮﻩ ﻟﻪ، ﻭﺇﻻ ﺣﺮﻡ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺍﻟﺬﻱ ﻟﻢ ﻳﻐﻠﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﻗﺖ.

Sub Bahasan: Makruh tidur setelah masuk waktu shalat dan belum
melakukan shalat, sekira yakin akan bangun sebelum waktu menjadi sempit baginya, baik karena kebiasaan ataupun ada orang lain yg membangunkan. Dan apabila tidak demikian (tidak yakin akan bangun) maka haram tidur yg tidak sampai mengusai di dalam waktu shalat.

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ - ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ - ﺝ ١ - ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٤٢ :

ﻗﻮﻟﻪ: ﻳﻜﺮﻩ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺑﻌﺪ ﺩﺧﻮﻝ ﻭﻗﺖ ﺻﻼﺓ ﺃﻱ ﻋﺸﺎﺀ ﻛﺎﻧﺖ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻫﺎ. ﻭﻓﻲ ﺳﻢ ﻣﺎ ﻧﺼﻪ: ﻗﺎﻝ ﺍﻷﺳﻨﻮﻱ: ﺳﻴﺎﻕ ﻛﻼﻣﻬﻢ ﻳﺸﻌﺮ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻣﺼﻮﺭﺓ ﺑﻤﺎ ﺑﻌﺪ ﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ. ﻭﻟﻘﺎﺋﻞ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ: ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﻜﺮﻩ ﺃﻳﻀﺎ ﻗﺒﻠﻪ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﻌﺪ ﻓﻌﻞ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﻟﻠﻤﻌﻨﻰ ﺍﻟﺴﺎﺑﻖ، ﺃﻱ ﻣﺨﺎﻓﺔ ﺍﺳﺘﻤﺮﺍﺭﻩ ﺇﻟﻰ ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﻮﻗﺖ. ﺍﻫ. ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻘﻮﺕ ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺼﻼﺡ: ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺗﻌﻢ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻷﻭﻗﺎﺕ. ﻭﻛﺄﻥ ﻣﺮﺍﺩﻩ ﺑﻌﺪ ﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ، ﻛﻤﺎ ﻳﺸﻌﺮ ﺑﻪ ﻛﻼﻣﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺎﺀ. ﻭﻳﺤﺘﻤﻞ ﺃﻥ ﻳﻜﺮﻩ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻌﺸﺎﺀ، ﻟﺨﻮﻑ ﺍﻻﺳﺘﻐﺮﺍﻕ ﺃﻭ ﺍﻟﺘﻜﺎﺳﻞ. ﻭﻛﺬﺍ ﻗﺒﻴﻞ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ، ﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﺪﻳﺪ. ﻭﻳﻈﻬﺮ ﺗﺤﺮﻳﻤﻪ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻐﺮﻭﺏ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﺪﻳﺪ. ﺍﻫ. ﻗﻮﻟﻪ: ﺣﻴﺚ ﻇﻦ ﺇﻟﺦ ﻣﺘﻌﻠﻖ ﺑﻴﻜﺮﻩ. ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﺘﺤﻔﺔ: ﻭﻣﺤﻞ ﺟﻮﺍﺯ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺇﻥ ﻏﻠﺒﻪ ﺑﺤﻴﺚ ﺻﺎﺭ ﻻ ﺗﻤﻴﻴﺰ ﻟﻪ، ﻭﻟﻢ ﻳﻤﻜﻨﻪ ﺩﻓﻌﻪ، ﺃﻭ ﻏﻠﺐ ﻋﻠﻰ ﻇﻨﻪ ﺃﻧﻪ ﻳﺴﺘﻴﻘﻆ ﻭﻗﺪ ﺑﻘﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻣﺎ ﻳﺴﻌﻬﺎ ﻭﻃﻬﺎﺭﺗﻬﺎ، ﻭﺇﺣﺮﻡ ﻭﻟﻮ ﻗﺒﻞ ﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ. ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻗﺎﻟﻪ ﻛﺜﻴﺮﻭﻥ. ﻭﻳﺆﻳﺪﻩ ﻣﺎ ﻳﺄﺗﻲ ﻣﻦ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﺴﻌﻲ ﻟﻠﺠﻤﻌﺔ ﻋﻠﻰ ﺑﻌﻴﺪ ﺍﻟﺪﺍﺭ ﻗﺒﻞ ﻭﻗﺘﻬﺎ. ﺍﻫ. ﻭﻓﻲ ﺳﻢ ﺃﻥ ﺣﺮﻣﺔ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻫﻮ ﻗﻴﺎﺱ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﺴﻌﻲ ﻋﻠﻰ ﺑﻌﻴﺪ ﺍﻟﺪﺍﺭ. ﻗﺎﻝ: ﻭﻇﺎﻫﺮ ﺃﻧﻪ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺑﻌﻴﺪ ﺍﻟﺪﺍﺭ ﻭﺟﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻌﻲ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻮﻗﺖ، ﻭﺣﺮﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺍﻟﻤﻔﻮﺕ ﻟﺬﻟﻚ ﺍﻟﺴﻌﻲ ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ. ﺍﻫ. ﻗﻮﻟﻪ: ﻟﻌﺎﺩﺓ ﻣﺘﻌﻠﻖ ﺑﻈﻦ، ﺃﻱ ﺃﻥ ﻇﻨﻪ ﻟﻼﺳﺘﻴﻘﺎﻅ ﺣﺎﺻﻞ ﻻﻥ ﻋﺎﺩﺗﻪ ﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﻧﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻳﺴﺘﻴﻘﻆ ﻗﺒﻞ ﺧﺮﻭﺟﻪ. ﻗﻮﻟﻪ: ﺃﻭ ﻻﻳﻘﺎﻅ ﻏﻴﺮﻩ ﺃﻱ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻨﺎﺋﻢ. ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﻟﻪ ﺃﻱ ﻟﻠﻨﺎﺋﻢ. ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﺇﻻ ﺣﺮﻡ ﺃﻱ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻈﻦ ﺍﻻﺳﺘﻴﻘﺎﻅ - ﻟﻤﺎ ﺫﻛﺮ - ﺣﺮﻡ ﺍﻟﻨﻮﻡ. ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﺍﻟﺬﻱ ﻟﻢ ﻳﻐﻠﺐ ﻓﺈﻥ ﻏﻠﺐ ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻭﻻ ﻳﻜﺮﻩ ﺃﻳﻀﺎ. ﻛﻤﺎ ﺻﺮﺡ ﺑﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ، ﻭﻧﺼﻬﺎ: ﻭﻟﻮ ﻏﻠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺑﻌﺪ ﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﻋﺰﻣﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﻭﺃﺯﺍﻝ ﺗﻤﻴﻴﺰﻩ ﻓﻼ ﺣﺮﻣﺔ ﻓﻴﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﻻ ﻛﺮﺍﻫﺔ. ﺍﻫ .ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﻓﻲ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻣﺘﻌﻠﻖ ﺑﺎﻟﻨﻮﻡ.


link dokumen :

https://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/610709555620453/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar