Minggu, 03 Maret 2013

588 : ALASAN DI PERBOLEHKANNYA NIKAH DAUD

PERTANYAAN


Ibuetz Ibnu Al Mubasyiri



ASSALAMUALAIKUM
ada teman TKI cewek cowok ilegal di uber2 polisi di dlm pelarian agar tidak dosa bolehkah nikah DAUD?



JAWABAN

Cikong Mesigit .

 wa'alaikum salam

لا يجوز تقليد داود في النكاح بلا ولي ولا شهود، ومن وطىء في نكاح خال عنهما وجب عليه حد الزنا على المنقول المعتمد
Fatawa ibnu hajar alhaitsami

Nikah dengan tanpa wali tanpa saksi dengan taqlid kepada fiqih madzhab dawud azh-zhohiri hukumnya tidak boleh, bahkan termasuk zina



Alasan dlorurot diatas tdk kuat/tdk dpt dikatakan dlorurot.
Pula mrk tdk tersesat.

Andaikata tersesat dihutan blantara&mmg tdk dpt/sngt sulit mnemukan jalan keluar bru blh dikatakan DLORUROT.




Ubaid Bin Aziz Hasanan


Hasil Bahtsul Masail NU Jatim 1979
Apakah imam Daud al-Dzohiri termasuk ahli sunnah wal jama’ah? Jika termasuk ahli sunah wal jama’ah, bolehkah bagi kita megamalkan madzabnya dalam nikah tanpa wali dan saksi? Apakah wajib had terhadapap orang yang melakukan bersetubuh dengan cara nikah menurut madzab Daud tersebut?

Jawab:

Imam Daud Dzohiri termasuk ahli sunnah waljama’ah. Adapun nikah mengikuti madzabnya dengan tanpa wali dan saksi hukumnya tidak boleh.

Dasar Pengambilan:

Al-Farqu Baina Al-Firoq, Hlm. 47.
وَدَخَلَ فِي هَذِهِ الْجُمْلَةِ ( أَىْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ ) جُمْهُوْرُ الْأُمَّةِ وَسَوَادُهَا اْلأَعْظَمُ مِنْ أَصْحَابِ مَالِكٍ وَالشَّافِعِي وَأَبِى حَنِيْفَةَ وَالْأَوْزَاعِى وَالثَّوْرِى وَأَهْلِ الظَّاهِرِ.

Masuk dalam golongan ini (ahli sunnah waljama’ah) ialah: pembesar-pembesar imam, dan kelompok-kelompok mereka yang mayoritas, dari beberapa shabat/santrinya imam Malik, imam Syafi’i, imam Auza’i, Sufyan Atsauri dam Ahli Al-Dzohiriyah (Dawud Al-Dzohiriyah).

Bughyatu al-Mustarsyidin, Hlm. 8
(مَسْأَلَةُ ش) نَقَلَ ابْنُ الصَّلَاحِ الْإِجْمَاعَ عَلَى أَنَّهُ لَايَجُوْزُ تَقْلِيْدُ غَيْرِ اْلأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ أَىْ حَتَّى الْعَمَلَ لِنَفْسِهِ فَضْلًا عَنِ الْقَضَاءِ وَالْفَتْوَى لِعَدَمِ الثِّقَةِ بِنِسْبَتِهَا لِأَرْبَابِهَا بِأَسَانِيْدَ تَمْنَعُ التَّحْرِيْفَ وَالتَبْدِيْلَ كَمَذْهَبِ الزَّيْدِيَّةِ الْمَنْسُوْبِيْنَ اِلَى الْإِمَامِ زَيْدِ بْنِ عَلِىّ بْنِ الْحُسَيْنِ السَّبْطِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ الخ.

(Masalah syin) imam ibnu sholah manukil ijma’ sesungguhnya tidak boleh taqlid/mengikuti selain kepada imam empat artinya sampai amal untuk dirinyapun tidak boleh. Apalagi untuk menghukumi, menfatwakan, karena tidak dapat dipertanggung jawabkan nisbatnya pada pemiliknya, dengan jalan yang mencegah, merubah dan mengganti, seperti madzab Zaidiyah yang dinisbatkan kepada imam Zaid bin Ali bin Husain yang jadi cucu Rasul ra.

Tuhfatu al-Murid Syarah Jauharu at-Tauhid, Hlm. 90
وَلاَ يَجُوْزُ تَقْلِيْدُ غَيْرِهِمْ أَىِ اْلأَئِمَّةِ اْلأَرْبَعَةِ وَلَوْ كَانَ مِنْ أَكَابِرِ الصَّحَابَةِ ِلأَنَّ مَذَاهِبَهُمْ لَمْ تُدَوَّنْ وَلَمْ تُضْبَطْ كَمَذَاهِبِ هَؤُلآَءِ لَكِنْ جَوَّزَ بَعْضُهُمْ ذَلِكَ فِي غَيْرِ اْلإِفْتَاءِ.

Tidak boleh taqlid kepada selain mereka yaitu imam-imam empat meskipun dari pembesar-pembesar sahabat Rasul. Karena madzab mereka tidak dikodifikasikan (tidak dikukuhkan) dan tidak dibuat pedoman seperti madzab-madzab mereka (imam empat); namun sebagian ulama’ ada yang memperbolehkan asal tidak untuk difatwakan.

Mizan al-Kubro, Juz I, Hlm. 50
Al-Fawaidu al-Janiyah, Juz II, Hlm. 204
Fiqhu al-Islam oleh Syekh al-Khatib
Tanwiru al-Qulub Hlm. 408

Adapun orang yang bersetubuh dari nikah ala madzab Daud al-Dzohiri tersebut menurut qoul mu’tamad wajib di-had (mendapat hukuman).

Dasar Pengambilan:

Fatawi Kubro, Juz VI, Hlm. 107
(وَسُئِلَ) هَلْ يَجُوْزُ عَقْدُ النِّكَاحِ تَقْلِيْدًا لِمَذْهَبِ دَاوُدَ مِنْ غَيْرِ وَلِىًّ وَلاَ شُهُوْدٍ أَوْ لاَ، وَإِذَا وَطِئَ فَهَلْ يُحَدُّ أَوْ لاَ ... إِلَى أَنْ قَالَ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ لاَ يَجُوْزُ تَقْلِيْدُ دَاوُدَ فِى النِّكَاحِ بِلاَ وَلِىٍّ وَلاَ شُهُوْدٍ. وَمَنْ وَطِئَ فِى نِكَاحٍ خَالٍ عَنْهُمَا وَجَبَ عَلَيْهِ حَدُّ الزِّنَا عَلَى الْمَنْقُوْلِ الْمُعْتَمَدِ...الخ

(ibnu Hajar ditanya) apakah boleh aqad nikah dengan tanpa wali dan saksi, mengikuti pendapat Dawud al-Dzohiri? Dan ketika dia wati’ (hubungan badan) apakah terkena hukum had atau tidak? dst. S/d…. ibnu hajar menjawab: tidak boleh mengikuti pendapat Dawud al-Dzohiri dalam nikah tanpa wali dan saksi, barang siapa wati’ (berhubungan badan) atas nikah tanpa wali dan saksi wajib baginya mendapatkan had (hukuman) seperti hukuman bagi pelaku zina sesuai pendapat yang mu’tamad.
www.solusinahdliyin.net



Brojol Gemblung



Ubaid Bin Aziz Hasanan # tapi ini kondisinya lain dg yg dibahas pada bahtsu itu Kang..


tapi biar bagaimanapun pernikahan yg mengikuti Imam Daud, Abu Hanifah, dan Imam Malik itu tidak boleh disifati dg halal dan haram, ini semua namanya Syubhatut Thoriq / Madzhab. Jadi gak boleh di had secara nalar hukum.



. Tapi andai kita ifrodh pada keadaan yg memang benar2 darurat sesuai dg syaratnya maka menikah berdua boleh2 saja, dan keduanya tidak boleh di hadd karena masih ada belahan ulama yg memperbolehkan nikah tanpa wali dan syahid, dan 'ishmah tersebut masuk dalam kategori syubhat madzhab, dan setelah menemukan keramaian maka menikah lagi untuk keluar dari ikhtilaf ulama.

Sepertinya si sa`il memang tidak mau jawaban yg lain, baiklah saya mulai dari komentar ini

ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﺒﺠﻴﺮﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻄﻴﺐ 10\180 :

ﻗﻮﻟﻪ : ﺯﻭﺝ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ. ﻓﺈﻥ ﻓﻘﺪ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻛﺎﻥ ﻟﻠﺰﻭﺟﻴﻦ ﺃﻥ ﻳﺤﻜﻤﺎ ﻟﻬﻤﺎ ﻋﺪﻻ ﻳﻌﻘﺪ ﻟﻬﻤﺎ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﺠﺘﻬﺪﺍ ﻭﻟﻮ ﻣﻊ ﻭﺟﻮﺩ ﻣﺠﺘﻬﺪ . ﺃﻣﺎ ﻣﻊ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻭﻟﻮ ﺣﺎﻛﻢ ﺿﺮﻭﺭﺓ ﻓﻼ ﻳﺤﻜﻤﺎﻥ ﺇﻻ ﻣﺠﺘﻬﺪﺍ ﺇﻻ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻳﺄﺧﺬ ﺩﺭﺍﻫﻢ ﻟﻬﺎ ﻭﻗﻊ ﻻ ﺗﺤﺘﻤﻞ ﻋﺎﺩﺓ ﻓﻲ ﻣﺜﻠﻬﺎ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﻼﺩ ، ﻭﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻗﻀﺎﺓ ﻣﺼﺮ ﻓﻲ ﺯﻣﻨﻨﺎ ﻫﺬﺍ ﻓﻠﻬﻤﺎ ﺃﻥ ﻳﺤﻜﻤﺎ ﻋﺪﻻ ﻭﻟﻮ ﻏﻴﺮ ﻣﺠﺘﻬﺪ . ﻭﻻ ﻓﺮﻕ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺤﻀﺮ ﻭﺍﻟﺴﻔﺮ،

ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺠﺪﺍ ﺃﺣﺪﺍ ﻭﺧﺎﻓﺖ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﺯﻭﺟﺖ ﻧﻔﺴﻬﺎ ﻟﻜﻦ ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﻴﻨﻬﺎ ﻭﺑﻴﻦ ﺍﻟﻮﻟﻲ ﻣﺴﺎﻓﺔ ﺍﻟﻘﺼﺮ ، ﺛﻢ ﺇﺫﺍ ﺭﺟﻌﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻌﻤﺮﺍﻥ ﻭﻭﺟﺪﺍ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺟﺪﺩﺍ ﺍﻟﻌﻘﺪ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻮﻧﺎ ﻗﻠﺪﺍ ﻣﻦ ﻳﻘﻮﻝ ﺑﺬﻟﻚ.

Lantas apabila keduanya tidak menemukan seseorang (untuk diangkat menjadi hakim) dan si wanita khawatir berzina, maka ia boleh mengawinkan dirinya sendiri, akan tetapi dg syarat antara dia dan walinya berada di antara jarak tempuh yg memperbolehkan mengqoshor sholat. Kemudian jika keduanya sudah kembali pada keramaian (daerah yg padat penduduk) dan keduanya menemukan orang (untuk dijadikan wali muhakkam), maka keduanya haruslah memperbaharui akadnya bila memang mereka tidak mengikuti pendapat ulama yg memperbolehkan hal demikian (pernikahan tanpa wali dan saksi).



Silahkan ditela'ah juga kutipan Imam Nawawi dari Shahib al-Hawiy Imam al-Mawardi

ﻛﻔﺎﻳﺔ ﺍﻷﺧﻴﺎﺭ ﻓﻲ ﺣﻞ ﻏﺎﻳﺔ ﺍﻻﺧﺘﺼﺎﺭ 2 / 49 :

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ : ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻤﺎﻭﺭﺩﻱ ﻓﻴﻤﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻓﻲ ﻣﻮﺿﻊ ﻟﻴﺲ ﻓﻴﻪ ﻭﻟﻲ ﻭﻻ ﺣﺎﻛﻢ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻭﺟﻪ : ﺃﺣﺪﻫﺎ ﻻ ﺗﺰﻭﺝ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺗﺰﻭﺝ ﻧﻔﺴﻬﺎ ﻟﻠﻀﺮﻭﺭﺓ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﺗﻮﻟﻲ ﺃﻣﺮﻫﺎ ﺭﺟﻼ ﻳﺰﻭﺟﻬﺎ ﻭﺣﻜﻰ ﺍﻟﺸﺎﺷﻲ ﺃﻥ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻤﻬﺬﺏ ﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ : ﺗﺤﻜﻢ ﻓﻘﻴﻬﺎ ﻣﺠﺘﻬﺪﺍ ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﺬﻱ ﺫﻛﺮﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺤﻜﻴﻢ ﺻﺤﻴﺢ ﺑﻨﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻇﻬﺮ ﻓﻲ ﺟﻮﺍﺯﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﻭﻟﻜﻦ ﺷﺮﻁ ﺍﻟﻤﺤﻜﻢ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺻﺎﻟﺤﺎ ﻟﻠﻘﻀﺎﺀ ﻭﻫﺬﺍ ﻳﻌﺴﺮ ﻓﻲ ﻣﺜﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺤﺎﻝ ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻧﺨﺘﺎﺭﻩ ﺻﺤﺔ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﺇﺫﺍ ﻭﻟﺖ ﺃﻣﺮﻫﺎ ﻋﺪﻻ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﺠﺘﻬﺪﺍ ﻭﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ ﻧﺼﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﻧﻘﻠﻪ ﻳﻮﻧﺲ ﻭﻫﻮ ﺛﻘﺔ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ


Silahkan yg mau menambahi, ini sekedar tambahan tentang Wathi` Syubhat yg tidak bisa disifati dg mubah dan haram sehingga hukum hadd pun gugur bagi yg melakukannya

ﻛﺎﺷﻔﺔ ﺍﻟﺴﺠﺎ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺳﻔﻴﻨﺔ ﺍﻟﻨﺠﺎ 14 \ 15 :

ﺗﺘﻤﺔ: ﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﻭﻁﺀ ﺍﻟﺸﺒﻬﺔ ﺍﻟﺬﻱﻻ ﻳﻮﺻﻒ ﺑﺈﺑﺎﺣﺔ ﻭﻻ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﻫﻮ ﺷﺒﻬﺔ ﺍﻟﻔﺎﻋﻞ ﻛﺄﻥ ﻳﻈﻦ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﺃﺟﻨﺒﻴﺔ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﻓﻴﻄﺆﻫﺎ ﻭﻛﻮﻁﺀ ﺍﻟﻤﻜﺮﻩ ﺑﻔﺘﺢ ﺍﻟﺮﺍﺀ،

ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﻮﻁﺀ ﺑﺸﺒﻬﺔ ﺍﻟﻤﺤﻞ ﻛﻮﻁﺀ ﺃﻣﺔ ﻭﻟﺪﻩ ﺃﻭ ﺷﺮﻳﻚ ﺍﻷﻣﺔ ﺍﻟﻤﺸﺘﺮﻛﺔ ﺃﻭ ﺳﻴﺪ ﻣﻜﺎﺗﺒﺘﻪ ﺃﻭ ﺑﺸﺒﻬﺔ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﺃﻱ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﻭﻫﻮ ﺃﻥ ﻳﻌﻘﺪ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻱ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺑﺠﻬﺔ ﻗﺎﻟﻬﺎ ﻋﺎﻟﻢ ﻳﻌﺘﺪ ﺑﺨﻼﻓﻪ ﻛﺎﻟﺤﻨﻔﻲ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﻮﺻﻒ ﺑﺤﺮﻣﺔ، ﻭﺳﻤﻲ ﻭﻁﺀ ﺃﻣﺔ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺑﺸﺒﻬﺔ ﺍﻟﻤﺤﻞ ﻷﻥ ﻣﺎﻝ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻛﻠﻪ ﻣﺤﻞ ﻹﻋﻔﺎﻑ ﺃﺻﻠﻪ ﻭﻣﻨﻪ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ، ﻓﺈﻋﻔﺎﻑ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻫﻮ ﺃﻥ ﻳﻬﻴﻰﺀ ﻟﻸﺻﻞ ﻣﺴﺘﻤﺘﻌﺎً ﺑﺎﻟﺤﻠﻴﻠﺔ ﻭﻳﻤﻮﻧﻬﺎ،

ﻭﻣﺜﺎﻝ ﺷﺒﻬﺔ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﻛﺎﻟﻨﻜﺎﺡ ﺑﻼ ﺷﻬﻮﺩ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻌﻘﺪ ﻋﻨﺪ ﻣﺎﻟﻚ ﻭﻳﺠﺐ ﺍﻹﺷﻬﺎﺩ ﻋﻨﺪﻩ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺪﺧﻮﻝ ﻭﺑﻼ ﻭﻟﻲ ﻋﻨﺪ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﺑﻼ ﻭﻟﻲ ﻭﺷﻬﻮﺩ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻣﺬﻫﺐ ﺩﺍﻭﺩ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮﻱ ﻛﺄﻥ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﻧﻔﺴﻬﺎ ﻓﻼ ﺣﺪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻮﺍﻃﻰﺀ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻘﺼﺪ ﺗﻘﻠﻴﺪﻫﻢ ﻭﺇﻥ ﺍﻋﺘﻘﺪ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ،

ﻭﻗﺪ ﻧﻈﻢ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺍﻟﺸﺒﻬﺎﺕ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ:

ﺍﻟﻠﺬ ﺃﺑﺎﺡ ﺍﻟﺒﻌﺾ ﺣﻠﻪ ﻓﻼ >< ﺣﺪ ﺑﻪ ﻭﻟﻠﻄﺮﻳﻖ ﺍﺳﺘﻌﻤﻼ

ﻭﺷﺒﻬﺔ ﻟﻔﺎﻋﻞ ﻛﺄﻥ ﺃﺗﻰ >< ﻟﺤﺮﻣﺔ ﻳﻈﻦ ﺣﻼً ﻣﺜﺒﺘﺎ

ﺫﺍﺕ ﺍﺷﺘﺮﺍﻙ ﺃﻟﺤﻘﻦ ﻭﺳﻤِّﻴَﻦ >< ﻫﺬﺍ ﺍﻷﺧﻴﺮ ﺑﺎﻟﻤﺤﻞ ﻓﺎﻋﻠﻤﻦ



Jika dalam keadaan darurat (khawatir berzina), sementara mereka berada jauh dari wali si perempuan sejauh masafatul qoshr (jarak yg boleh mengqoshor sholat), maka menikah berdua boleh2 saja dg cara si perempuan mengawinkan dirinya untuk si laki2, dan setelah menemukan keramaian (sampai pada tempat yg ramai penduduk) maka mereka menikah lagi (memperbaharui akad nikahnya) untuk keluar dari ikhtilaf ulama, dan atau bila memang mereka tidak taqlid pada ulama yg memperbolehkan pernikahan tanpa wali dan saksi. Dan wathi` (senggama) yg terjadi selama itu dihukumi wathi` syubhat dan pelaku tidak dikenai hukuman hadd karena di sisi lain terdapat ulama yg memperbolehkan pernikahan dg demikian.

ini ibarot yg saya ambil dari dokumen sebagai tambah2 ben mantep

ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ ﺝ / 38 ﺹ 327 :

ﻗَﻮْﻟُﻪُ : ﻟِﺒَﻴَﺎﻥِ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﺄَﺣْﺴَﻦ َ ﺇﻟَﺦْ. ﻓِﻴﻪِ ﻧَﻈَﺮٌ ﻭَﻳَﻜُﻮﻥُ ﻣَﺎ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺇﺷَﺎﺭَﺓٌ ﺇﻟَﻰ ﻣُﺮَﺍﻋَﺎﺓِ ﺧِﻠَﺎﻑِ ﺩَﺍﻭُﺩ ﺍﻟْﻘَﺎﺋِﻞِ ﺑِﺼِﺤَّﺘِﻪ ِ ﺑِﻠَﺎ ﻭَﻟِﻲٍّ ﻭَﻟَﺎ ﺷُﻬُﻮﺩٍ ﺑِﻨَﺎﺀً ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥَّ ﺍﻟِﺎﻋْﺘِﺪَﺍﺩَ ﺑِﺨِﻠَﺎﻓِﻪ ِ ﻛَﻤَﺎ ﻗَﺎﻟَﻪُ ﺍﻟﺸَّﺎﺭِﺡُ ﺍﻟﺴُّﺒْﻜِﻲ ، ُّ ﻭَﺇِﻥْ ﻧَﻘَﻞَ ﻋَﻦْ ﺑَﺎﺏِ ﺍﻟﻠِّﺒَﺎﺱِ ﻣِﻦْ ﺷَﺮْﺡِ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﺧِﻠَﺎﻓُﻪُ ﻭَﻗَﺪْ ﺃَﻓْﺘَﻰ ﺷَﻴْﺨُﻨَﺎ ﺍﻟﺸِّﻬَﺎﺏُ ﺍﻟﺮَّﻣْﻠِﻲ ُّ ﺑِﻌَﺪَﻡِ ﺍﻟْﺤَﺪِّ ﻣُﺮَﺍﻋَﺎﺓً ﻟِﻨَﺤْﻮِ ﺧِﻠَﺎﻑِ ﺩَﺍﻭُﺩ ﻭَﺍﻟﺸَّﺎﺭِ ﺡُ ﻣَﺎﺵٍ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﺍﻟْﺤَﺪِّ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺮَﻯ.

link diskusi :


http://www.facebook.com/groups/kasarung/558073680884041/?notif_t=group_comment_reply

1 komentar:

  1. klw menikah berdua ama tanangan ustad?
    mayoritas anak2 dah boncengan dan pegang2an
    padahal masih tunangan,
    nah klw menikah berdua semata2 krn mu menjauh Dr dosa Yg
    berdua dan Yg pegangan gmn ustad?
    ____________________
    g melakukan hubungan badan,
    cm sentuhan dan sebagainya

    mohon dgn sangat jawaban nya ya ustad,

    BalasHapus