Rabu, 15 Mei 2013

792 : SEPUTAR NAJASAH / NAJIS

oleh : Aryo Mangku Langit

-SEPUTAR NAJASAH/NAJIS-

Bismillah Alhamdulillah Najis (Arab, النجاسة) berasal dari bahasa Arab dari akar kata masdar (verbal noun) najasah yang secara etimologis bermakna kotor (qadzarah - القذارة).

Sedangkan dalam terminologi fiqh (syariah), najis adalah sesuatu yang kotor yang diperhntahkan oleh syariah untuk suci darinya dan menghilangkannya dari baju dan badan dan dari segala sesuatu yang disyaratkan sucinya saat memakai. Seperti sucinya baju dan badan pada saat melaksanakan shalat dan tawaf umarah dan haji.

Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj (تحفة المحتاج في شرح المنهاج) menyatakan bahwa najis dalam definisi syariah adalah perkara kotor yang mencegah sahnya shalat. Perkaran atau sesuatu yang dianggap najis menurut syariah Islam sebagai berikut:

1. Kencing baik kencing bayi atau kencing orang dewasa.

2. Tinja (kotoran manusia) atau kotoran hewan

3. Khamr (mimunam beralkohol).

4. Bangkai hewan yang mati tanpa disembelih secara syariah dan seluruh anggota badannya seperti daging, tulang, tanduk, kuku, dll kecuali,

(a) belalang, hewan laut dan hewan sangat kecil yang darahnya tidak mengalir seperti lalat dan sejenisnya. Khusus untuk lalat dan sejenisnya apabila masuk ke air yang sedikit (kurang 2 qullah) dalam keadaan hidup kemudian mati dalam air, maka airnya tetap suci.

(b) bangkai manusia, hukumnya suci baik muslim atau nonmuslim (kafir).

4. Darah.

5. Nanah.

6. Muntah.

7. Anjing dan Babi

8. Madzi yaitu cairan putih encer yang keluar bukan karena syahwat. .

9. Wadi yaitu cairan pekat kental yang keluar setelah kencing atau setelah membawa beban berat.

10. Mani (sperma) anjing dan babi.

11. Susu hewan yang tidak halal dagingnya kecuali susu manusia.

Catatan:

1. Tulang bangkai suci menurut madzhab Hanafi. Rambut dan bulu bangkai suci menurut madzhab Maliki.

2. Kotoran dan kencing hewan yang halal dimakan hukumnya suci menurut madzhab Hanbali.

3. Harus dibedakan antara najis dan mutanajjis. Najis adalah perkara najis. Sedang mutanajjis adalah benda yang terkena atau tersentuh perkara najis. Najis tidak bisa suci.

Sedang mutanajjis dapat suci kalau dihilangkan najisnya. Menurut madzhab Syafi'i, tingkatan najis terbagi menjadi 3 (tiga) macam. Yaitu, najis ringan (mukhaffafah), najis sedang/pertangahan (mutasswithah) dan najis berat (mughalladzah).

NAJIS MUKHOFFAFAH (RINGAN)

Najis mukhaffafah adalah najis ringan yang cara menghilangkannya cukup dengan menyiramkan air pada najis tersebut. Najis mukhaffafah terdapat pada kencingnya anak kecil laki-laki yang belum berusia 2 tahun dan tidak makan apa-apa kecuali ASI (air susu ibu).

NAJIS MUTAWASSITAH (SEDANG)

Najis mutawasithoh adalah najis yang umum seperti darah, bangkai,, muntah, kencing, dll yang cara mensucikannya adalah dengan

NAJIS MUGHOLLADZAH (BERAT)

Najis mughalladzah adalah najis kaliber berat yaitu najis anjing dan babi. Yang cara mensucikannya adalah dengan menyiramkan air sebanyak 7 (tujuh) kali salah satunya dicampur dengan debu atau tanah.

Ada dua jenis najis yaitu najis hukmiyah (النجاسة الحكمية) dan najis ainiyah (النجاسة العينية).

NAJIS HUKMIYAH (النجاسة الحكمية)

Najis hukmiyah adalah najis yang tidak kelihatan warnanya, baunya dan rasanya.

NAJIS AINIYAH (النجاسة العينية)

Najis ainiyah adalah sebaliknya najis hukmiyah yaitu najis yang kelihatan warnanya, baunya dan rasanya. Adapun cara menghilangkan najis adalah tergantung dari tingkatan (ringan, sedang, berat) dan jenis najisnya (ainiyah atau hukmiyah).

CARA MENGHILANGKAN/MENYUCIKAN NAJIS RINGAN (MUKHAFFAFAH)

Najis mukhaffafah adalah terdapat pada kencing anak laki-laki usia di bawah 2 tahun dan belum memakan makanan apapun kecuali ASI (Air Susu Ibu).
Adapun kencing bayi perempuan status najisnya sama dengan kencing orang dewasa. Cara menghilangkan atau mensucikan najis tersebut adalah dengan menyiramkan air suci pada kencing anak tersebut sampai merata walaupun air itu tidak mengalir. Siraman cukup dilakukan satu kali.

CARA MENGHILANGKAN/MENYUCIKAN NAJIS SEDANG (MUTAWASSITAH)

Najis mutawassitah (sedang) adalah seluruh najis selain najis anjing babi dan najis bayi laki-laki.

Cara menyucikan najis mutawassitah ainiyah adalah dengan menghilangkan perkara yang najis yakni rasa, warna dan baunya dengan air yang suci dan mensucikan. Apabila sulit menghilangkan warna atau baunya, maka tidak apa-apa (معفو عنه).

Apabila air untuk menyucikan kurang dari 2 (dua) qullah maka harus dengan mengalirkan/menyiramkan air tersebut ke benda yang najis. Apabila air sampai 2 qullah atau lebih, maka tidak disyaratkan mengalirkan air ke benda najis tersebut bahkan boleh memasukkan benda najis tersebut ke air yang sampai 2 qullah atau lebih. Kecuali apabila berubah salah satu dari 3 sifatnya (warna, bau dan rasa) maka air tersebut tetap suci.

CARA MENGHILANGKAN/MENYUCIKAN NAJIS BERAT (MUGHALLADZAH)

Najis mughalladzah adalah najis anjing dan babi. Cara menghilangkannya adalah dengan membasuh najis sebanyak 7 (tujuh) kali dan salah satu dari tujuh itu dicampur dengan debu atau tanah yang suci.

Catatan: Ada pendapat dalam madzhab Syafi'i yang menghukumi cukupnya mensucikan najis mughalladzah sekali saja.

CARA MENGHILANGKAN NAJIS HUKMIYAH (النجاسة الحكمية)

Adapun menghilangkan atau menyucikan najis hukmiyah adalah sama dengan menyucikan najis ringan (mukhaffafah) yaitu dengan menyiramkan air suci pada najis hukmiyah tersebut sampai merata walaupun air itu tidak mengalir.

NAJIS ANJING MENURUT EMPAT MADZHAB

Madzhab yang empat yaitu Syafi'i, Hanafi, Maliki, Hanbali memiliki perbedaan pendapat tentang najisnya anjing sebagai berikut:

- Madzhab Syafi'i:

menghukumi bahwa seluruh bagian anjing adalah najis baik badan, bulu, lendir, keringat dan air liurnya.

Adapun cara menyucikannya adalah dengan menyiramkan 7 kali air salah satunya dicampur dengan tanah. Namun ada pendapat dalam madzhab Syafi'i yang menyatakan yang wajib dibasuh 7 kali itu adalah yang terkena air ludah anjing sedangkan yang selain itu cukup dibasuh satu kali ini berdasar pendapat Imam Nawawi dalam kitab Raudhah dan Al-Majmuk seperti dikutip dari kitab Kifayatul Akhyar

1/63. قال النووي في أصل الروضة : وفي وجه شاذ أنه يكفي غَسل ما سوى الولوغ مرة ، كغسل سائر النجاسات ، وهذا الوجه قال في شرح المهذب : إنه مُتَّجَه وقوي من حيث الدليل ؛ لأن الأمر بالغسل سبعًا إنما كان ليُنَفرهم عن مؤاكلة الكلاب

Adapun sabun dapat berfungsi sebagai pengganti tanah untuk menyucikan najis anjing menurut salah satu pendapat seperti dikutip dalam kitab Kifayatul Akhyar

1/63 sbb: وهل يقوم الصابون والأشْنَان مقام التراب ؟ فيه أقوال ، أحدها : نعم ، كما يقوم غير الحجر مقامه في الاستنجاء ، وكما يقوم غير الشَّب والقَرْظ في الدباغ مقامه ، وهذا ما صححه النووي في كتابه (رءوس المسائل) . والأظهر في الرافعي والروضة وشرح المهذب أنه لا يقوم ؛ لأنها طهارة متعلقة بالتراب فلا يقوم غيره مقامه كالتيمم . والقول الثالث : إن وُجد التراب لم يَقُمْ ، وإلا قام . وقيل : يقوم فيما يفسده التراب كالثياب دون الأواني .

- Madzhab Maliki:

berpendapat bahwa anjing yang hidup adalah suci baik badannya, bulunya maupun air liurnya. Adapun mencuci wadah yang bekas dijilat anjing maka hukumnya ta'abhudi (sunnah).

- Madzhab Hanafi:

berpandangan bahwa badan dan bulu anjing itu suci. Sedang air liur anjing adalah najis.

Cara menyucikannya cukup 3 (tiga) kali. 

-Madzhab Hanbali: ada dua pendapat di antara ulama madzhab Hanbali yaitu

(a) anjing itu najis baik badannya, bulunya maupun air liurnya;

(b) Badan dan bulu anjing itu suci. Hanya air liurnya yang najis. Abdurrahman Al-Jaziri dalam Al-Fiqh alal Madzahibil Arba'ah menyatakan

ومنها الكلب . والخنزير المالكية قالوا : كل حي طاهر العين ولو كلبا . أو خنزيرا ووافقهم الحنفية على طهارة عين الكلب ما دام حيا على الراجح إلا أن الحنفية قالوا بنجاسة لعابه حال الحياة تبعا لنجاسة لحمه بعد موته فلو وقع في بئر وخرج حيا ولم يصب فمه الماء لم يفسد الماء وكذا لو انتفض من بلله فأصاب شيئا لم ينجسه ) وما تولد منهما أو من أحدهما ولو مع غيره أما دليل نجاسة الكلب فما رواه مسلم عن النبي صلى الله عليه و سلم وهو " إذا ولغ الكلب في إناء أحدكم فليرقه ثم ليغسله سبع مرات وأما نجاسة الخنزير فبالقياس على الكلب لأنه أسوأ حالا منه لنص الشارع على تحريمه وحرمة اقتنائه

HUKUM MEMELIHARA ANJING

Hukum memelihara anjing sebagai binatang peliharaan (pet) adalah haram kecuali untuk keperluan menjaga atau berburu yang terakhir ini boleh karena darurat. Ini kesepakatan ulama termasuk mereka yang menganggap anjing tidak najis berdasarkan pendapat ulama yang dikutip Al-Jaziri di atas dan juga pandangan Imam Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim 3/186 sebagai berikut:

رخص النبي صلى الله عليه وسلم في كلب الصيد وكلب الغنم، وفي الرواية الأخرى وكلب الزرع ونهى عن اقتناء غيرها، وقد اتفق أصحابنا وغيرهم على أنه يحرم اقتناء الكلب لغير حاجة، مثل أن يقتني كلباً إعجاباً بصورته أو للمفاخرة به، فهذا حرام بلا خلاف

NAJIS BABI MENURUT EMPAT MADZHAB

Hukum babi sama statusnya dengan anjing.

Mayoritas madzhab menganggapnya najis kecuali madzhab Maliki. ================

REFERENSI/MARJI'

1. أبو زكريا يحيى بن شرف النووي dalam kitab روضة الطالبين وعمدة المفتين 2. أحمد بن محمد بن علي بن حجر الهيتمي dalam kitab تحفة المحتاج في شرح المنهاج 3. شِهَابُ الدينِ أحمدُ بنُ الحسينِ بنِ أحمدَ أبو شجاعٍ الأصفهانيُّ العبَّاداني dalam kitab متن الغاية والتقريب المعروفِ بـ(متنِ أبي شجاع 4.محمد بن شهاب الدين الرملي dalam kitab نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج 5. محمد بن إدريس الشافعي dalam kitab الأم 6. عبدِ الله الهَرَرِيِّ dalam kitab بغية الطالب 7. فتح القريب المجيب ابن القاسم الغزي 8. Abdurrahman Al-Jaziri dalam Al-Fiqh alal Madzahibil Arba'ah 9. Kifayatul Akhyar 10. Imam Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim 
 
 Semoga Catatan Ini Bermanfaat
 
link dokumen :
 
 http://www.facebook.com/groups/kasarung/doc/589149137776495/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar